covid19filantropi.id

3 Aksi Berbagi Antarwarga di Tengah Pandemi COVID-19

Di tengah pandemi COVID-19, didorong semangat gotong royong, sekelompok anak muda menggagas gerakan berbagi antarwarga untuk membantu mereka yang membutuhkan.

Meski semua mengalami masa sulit di masa pandemi COVID-19, semangat solidaritas, gotong royong, dan keinginan untuk membantu sesama ternyata tidak pernah luntur dalam masyarakat kita. Berikut tiga gerakan berbagi antar warga yang digagas kaum muda untuk membantu orang-orang yang terdampak keras pandemi ini.

Berbagi penghasilan lewat Bagirata.id untuk orang-orang yang kehilangan pekerjaan

Wadah berbagi itu bernama Bagirata.id dan berformat daring. Diluncurkan pada awal April 2020, kini Bagirata.id telah menjadi perantara ‘redistribusi kekayaan’ sebesar lebih dari Rp300 juta kepada seribu lebih pekerja yang terdampak pandemi COVID-19.

Lewat medium ini, mulai pengendara ojek online hingga seniman telah menerima bantuan uang dari orang-orang yang masih berpenghasilan selama pandemi.

Dijalankan dengan kreativitas dan semangat kolektivitas, wadah berbagi nirlaba ini menjadi harapan nyata di tengah program bantuan pemerintah yang kerap terbelit birokrasi dan tidak tepat sasaran.

Indra adalah mantan pramusaji di sebuah hotel di Bandung yang telah membuktikan manfaat wadah berbagi ini. Saat PSBB diterapkan, ia ‘dirumahkan’ untuk sementara waktu tanpa upah, sebelum akhirnya kontrak kerjanya benar-benar diputus.

“Tidak ada pemasukan sama sekali. Padahal saya sudah ada rencana akan menikah pada bulan September dan masih punya cicilan utang untuk membangun rumah orang tua,” ungkapnya.

Di tengah kekalutan itu, Indra mendapat info tentang Bagirata.id dalam obrolan dengan kawan-kawannya. Dia lalu mempelajari skema kerja wadah berbagi itu, dan akhirnya berhasil mendapatkan bantuan sebesar Rp250.000 lewat akun dompet digitalnya. Meski relatif sedikit, uang itu kemudian ia gunakan untuk berjualan pulsa dengan menumpang tempat di warung seorang temannya. Meskipun untungnya tidak banyak, setidaknya kini ia punya penghasilan.

Apa itu Bagirata.id?

Menurut salah satu inisiator wadah ini, Lody Andrian, Bagirata.id merupakan wadah yang menghubungkan orang-orang berpenghasilan dengan para pekerja yang terdampak pandemi.

Karena bukan situs bisnis dan dijalankan secara sukarela, Lody menyebut tidak ada aliran dana yang masuk ke kantong Bagirata.id. Distribusi dana mengalir langsung dari akun dompet digital pemberi ke penerima dana.

“Kami gunakan diksi ‘redistribusi kekayaan’, bukan sumbangan atau donasi. Kami mau ajak orang-orang untuk bergotong-royong dan berbagi demi kepentingan kolektif,” ucapnya. Dalam krisis seperti ini, kekayaan hanya terdistribusi ke orang-orang yang profesinya tidak terdampak. “Kita semua merasakan dampak pandemi, tapi kadarnya beda-beda. Semangat kolektivisme itu yang ingin kami fasilitasi,” kata Lody.

Di Bagirata.id, data pekerja yang membutuhkan sokongan finansial diunggah dalam bentuk cerita personal bergambar. Tujuannya, kata Lody, untuk memicu empati publik sehingga terdorong untuk berbagi.

Sasaran wadah ini adalah pekerja di delapan sektor industri yang sangat terguncang pandemi, antara lain perhotelan, jasa makanan dan minuman, seni pertunjukan, tekstil, dan jasa kebersihan.

Dalam proses verifikasi yang dilakukan Lody dan tiga insiator Bagirata.id lainnya, calon penerima dana wajib mengisi beberapa data, seperti akun media sosial dan cerita singkat situasi yang dihadapi.

Jika lolos, akun media sosial mereka akan ditampilkan dalam profil yang bisa dilihat calon pemberi dana. Dengan mekanisme itu, Lody berharap publik bisa ikut mengawasi calon penerima dana.

Jumlah maksimal yang bisa diterima seorang penerima dana adalah Rp1,5 juta. Nominal itu diambil dari ketetapan standar hidup layak dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No.13/2012.

Saat hendak mendistribusikan bantuan, calon pengirim akan mendapat 10 profil penerima dana. Seluruh profil itu dimunculkan secara acak, sesuai jumlah exposure dalam sistem Bagirata.id.

Proses distribusi dana dilakukan melalui tiga dompet digital, yaitu GoPay, Dana, dan Jenius, serta bersifat langsung antara pengirim dan penerima. Hingga 6 Agustus 2020, sebanyak 1.075 orang sudah menerima bantuan melalui wadah ini.

Selain Indra, ada pula Natasha Tontey, seorang pekerja seni pertunjukan yang pernah menerima anugerah Young Artist Award pada pagelaran seni ArtJog 2019.

Akibat pandemi, tidak ada kejelasan tentang kelanjutan empat pameran dan dua program residensi ke luar negeri yang sedianya bakal ia jalani di tahun 2020.

Akibatnya, Natasha kehilangan seluruh sumber pemasukannya. Uang yang dia gunakan untuk membuat karya pun tak kunjung diganti oleh penyelenggara pameran.

“Pertama kali saya lihat wadah ini di Instagram. Menarik sekali aksi solidaritasnya,” kata Natasha. Meskipun awalnya malu, akhirnya ia pun mendaftar.

Namun, Bagirata.id bukan satu-satunya wadah gotong royong yang ia ikuti. Natasha juga menjadi peserta dapur umum kolektif yang didirikan MES56, sebuah perkumpulan seniman fotografi kontemporer di Yogyakarta. Aksi solidaritas ini menyediakan makanan sehat gratis untuk siapa pun selama pandemi COVID-19. “Gerakan-gerakan seperti ini membuat saya menyadari bahwa solidaritas bisa dilakukan lewat hal-hal kecil,” ujar Natasha.

Sebesar 68% muda-mudi Indonesia kehilangan atau mengalami penurunan pendapatan selama pandemi COVID-19. Temuan itu muncul dalam survei akhir April lalu, yang dilakukan oleh Jakpat, sebuah platform jajak pendapat yang berbasis di Yogyakarta.

Data itu sejalan dengan pendapat Lengga Pradipta, akademisi di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI. Ia mengatakan, pekerja yang paling terguncang selama pandemi umumnya bergiat di sektor informal dan mayoritas berusia 25-40 tahun.

Beruntung, muda-mudi Indonesia tidak cuma kreatif, tapi juga memiliki modal kolektif berupa tradisi gotong-royong. “Subsidi silang adalah kapital masyarakat Indonesia. Kultur kita sejak lama adalah gotong royong, meskipun bentuknya bisa berbeda-beda, sesuai tuntutan zaman,” kata Lengga.

Ia menambahkan, negara memang yang pertama harus hadir untuk rakyat di tengah masa sulit. Namun, biasanya yang membantu kita pertama kali adalah orang-orang di sekeliling kita.

Lantas akan menjadi apa Bagirata.id setelah pandemi berakhir? 

“Tetap untuk kepentingan publik. Kami tidak punya badan hukum. Kami juga tidak punya kepentingan apa pun di belakangnya. Kami hanya memfasilitasi redistribusi kekayaan jika terjadi krisis-krisis lain,” kata Lody.

Sejangkauan Tangan, Gerakan Berbagi Sayur

Di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), seorang pria bernama Arief Winarko (39) berinisiatif membagikan sayuran kepada warga sekitar yang membutuhkan.

Sejak awal April 2020 lalu, setiap tiga kali seminggu (Senin-Rabu-Jumat), pagar besi sebuah kedai kopi yang berlokasi di persimpangan Kampung Kutu Wates, Desa Sinduadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, DIY, terlihat penuh dengan cantelan kantong plastik berisi sayuran. Sejumlah warga yang melewatinya tak sungkan-sungkan mengambil.

“Di masa pandemi ini, banyak orang menganggur. Mau masak tidak ada yang bisa dimasak. Eh, kok, ada yang menggantungkan bungkusan berisi sayur. Saya ambil sawi dan tomat, jadi sekarang saya bisa masak,” kata Musidah, seorang warga setempat.

Awalnya gerakan berbagi yang diberi nama “Sejangkauan Tangan” itu dilakukan Arief bersama keluarga dan sahabat dekatnya. Sekarang, gerakan tersebut rupanya menginspirasi banyak orang dan telah melebar sampai ke luar DIY. “Ada di Samarinda dan sejumlah daerah di Jawa Barat,” ujar Arief.

Bermula dari keresahan Arief melihat banyaknya masyarakat yang terdampak pandemi COVID-19. Sejumlah kampung di DIY ditutup untuk menghindari pesebaran virus, termasuk di kampungnya. Saat itu tak sedikit warga yang kehilangan pekerjaan sehingga mengalami kesulitan untuk mencukupi keperluan rumah tangga.

Melalui hasil penjualan peralatan kedai kopinya, Arief memulai gerakan berbagi untuk sesama. Ia ingin memberikan sesuatu kepada warga dengan apa yang dia miliki, tapi bantuannya harus tepat sasaran. Lalu terpikirlah untuk membagikan sayur-mayur. Alasannya, sayuran dapat menjaga kesehatan selama pandemi, terlebih untuk anak-anak.

Mulailah ia mencari tempat untuk membeli sayur dengan harga terjangkau. Tidak mudah, karena saat itu banyak pasar yang tutup. Ia lalu teringat pada kelompok petani di Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Daerah itu adalah salah satu penghasil sayur di Jawa Tengah dan lokasinya tak jauh dari desanya.

Pada awal April 2020, sayur pesanan pertama Arief datang. Saat itu ada ada lima karung berisi sawi, kubis, kembang kol, wortel, kacang panjang, dan lainnya. Bersama temannya, Arief mengemas sayuran tersebut dalam 100 bungkus plastik, lalu ia  cantelkan di pagar kedai kopinya. Dan satu persatu warga yang lewat dipersilakan mengambil sebungkus secara cuma-cuma apabila membutuhkan.

“Kami hanya ingin berbagi di tengah pandemi. Mereka senang kami pun senang,” katanya.

Respons masyarakat yang positif membuat Arief semakin semangat. Dia lalu menghubungi teman-temannya untuk ikut dalam gerakan ini, yang ternyata cepat menyebar lewat media sosial. Beberapa teman Arief menghubunginya dan ikut berdonasi. Sejangkauan Tangan pun semakin melebar ke desa-desa lain di DIY, seperti di Mojosari, Patangpuluhan, Sidikan, Mlangi, Cokrokusuman, dan Cabean.

Di luar DIY, gerakan Sejangkauan Tangan juga telah cepat melebar sampai di Samarinda, Kalimantan Timur, Depok, Jawa Barat; dan DKI Jakarta.

Salah satu teman Arief yang tergerak untuk ikut menyumbang dan terlibat dalam gerakan Sejangkauan Tangan adalah Hendra. Pria yang berbisnis di bidang sablon pakaian itu menjadi koordinator posko Sejangkauan Tangan di Mlangi-Sawahan, Desa Nogotirto, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, DIY.

Warga sekitar sangat antusias, bahkan mereka pun ikut berbagi dengan mencantelkan bungkusan berisi beras, kerupuk, atau bahan makanan lain, sehingga seluruh warga ikut saling berbagi.

Pembagian sayuran gratis itu juga membawa angin segar bagi para petani. Pasalnya selama masa pandemi, hasil panen petani tidak bisa terjual maksimal.

“Hasil panen tidak bisa terjual karena banyak daerah dan pasar yang ditutup,” kata Untung Pribadi (42), petani dari Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Menurut Untung, biasanya hasil panen mereka jual ke pedagang lokal atau ke pasar, dan dari pasar didistribusikan ke sejumlah kabupaten lain. Namun hal itu tidak bisa ia lakukan di masa pandemi. Akibatnya banyak sayur yang busuk dan dibuang. “Kalaupun terjual, harganya sangat murah,” ujar Untung.

Namun, dengan adanya gerakan Sejangkauan Tangan yang langsung melibatkan petani, hasil panen bisa terjual, bahkan dengan harga di atas harga pasar. “Mereka membeli dengan harga yang bisa menghargai jerih payah kami sebagai petani. Walaupun tidak terjual sebanyak sebelum pandemi, kami cukup terbantu.”

Untung merasa senang, karena hubungan dengan gerakan itu tak hanya bermotif bisnis, tapi juga solidaritas sosial. “Gerakan itu sangat bagus dan membantu kami dengan membeli hasil panen. Makanya kami juga ikut nyumbang sayuran semampu kami,” kata Untung.

Arief tak tahu sampai kapan gerakan Sejangkauan Tangan akan terus berlangsung, namun dia bertekad selama masa pandemi dan selama masih ada yang berdonasi, dia akan terus mencantelkan bungkusan sayur di pagar kedai kopinya.

Cantelan ala Warga Bandung Bantu Nutrisi Ibu Hamil
Inspirasi Cantelan ala Sejangkauan Tangan juga terjadi di Kota Bandung, tepatnya di RW 06 Kelurahan Gumuruh, Kecamatan Batununggal.  Selama pandemi COVID-19, warga bergotong royong menyediakan bahan makanan sehat, khususnya bagi ibu hamil di wilayah mereka yang kesulitan memenuhi nutrisi selama kehamilan. 

Puluhan warga nampak antre mengambil bahan makanan berupa sayuran dan buah-buahan di dalam tas kain warna-warni yang dicantelkan di pagar pembatas Sungai Cikapundung. Tas-tas itu ditujukan bagi para ibu hamil dari kalangan menengah ke bawah. Tercatat ada 14 orang ibu hamil di lingkungan RW 06 yang berasal dari keluarga tidak mampu.

“Sebetulnya bantuan dari pemerintah sudah ada dari berbagai sumber, antara lain dari Kementerian Sosial, Gubernur Jawa Barat, dan Wali Kota Bandung. Tapi tidak ada bantuan makanan tambahan bagi ibu hamil. Jadi kami berinisiatif memberi bantuan berupa makanan tambahan dan nutrisi,” kata Sofyan Mustafa, Ketua RW 06 yang juga penggagas gerakan bantuan Cantelan.

Dia mencatat ada 670 kepala keluarga miskin baru di RW 06 akibat COVID-19. Mereka adalah kepala keluarga yang di-PHK atau kehilangan penghasilan selama pandemi. Otomatis kondisi ini memengaruhi asupan gizi ibu hamil dari kalangan tak mampu. 

Kegiatan sosial Cantelan ini dilakukan secara swadaya oleh warga dengan melibatkan berbagai kelompok masyarakat, seperti ibu-ibu PKK dan pemuda Karang Taruna. Mereka saling berbagi peran.

Secara berkala, para pemuda Karang Taruna memungut sampah warga dengan berkeliling dari rumah ke rumah diiringi musik tetabuhan sehingga suasana menjadi meriah. Setelah terkumpul cukup banyak, sampah dipilah, dikemas, lalu dijual ke pengepul sampah. Uang hasil penjualan sampah lalu digabungkan dengan donasi warga lainnya, untuk kemudian dikelola oleh pengurus PKK RW 06 untuk dibelikan sembako atau bahan makanan lainnya.

“Kami dari Karang Taruna tidak mau warga kami kelaparan akibat terkena COVID-19, seperti yang banyak diberitakan di mana-mana. Makanya kami gerak cepat melakukan kegiatan seperti ini,” kata Kokom Komariah, Ketua Karang Taruna RW 06 Kelurahan Gumuruh.

Sumber:

https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-53696060

https://amp-kompas-com.cdn.ampproject.org/v/s/amp.kompas.com/yogyakarta/read/2020/08/21/07070041/dari-lereng-merapi-ke-cantelan-pagar-gerakan-berbagi-sayuran-di-saat-pandemi?amp_js_v=a2&amp_gsa=1&usqp=mq331AQFKAGwASA%3D#aoh=16001428252046&referrer=https%3A%2F%2Fwww.google.com&amp_tf=From%20%251%24s

https://regional.kompas.com/read/2020/08/19/10010041/program-cantelan-inisiatif-warga-bandung-untuk-bantu-nutrisi-ibu-hamil-saat?page=all#page2

Photo source: ANTARA FOTO/MOCH ASIM