covid19filantropi.id

3 Kunci Filantropi Agar Dunia Lebih Baik Setelah COVID-19

Mustahil menutup mata terhadap dampak COVID-19 di Asia, bahkan di seluruh dunia. Cek 3 kunci yang bisa digunakan para pegiat filantropi untuk mengatasinya.

Efek Domino dari krisis ekonomi akibat COVID-19, tak bisa dianggap enteng. Dalam sebuah laporan yang dirilis bulan lalu, Bank Dunia mencatat bahwa efeknya akan menghancurkan perusahaan kecil dan menengah di Asia, membuat sekitar 24 juta orang terjebak dalam kemiskinan, dan 11 juta orang lagi jatuh ke dalam kemiskinan.

Demikian ditulis Melissa Stevens dan Melissa Petros di rubrik opini, TheJakartaPost.com , 15 Juni 2020.  

Disebutkan juga bahwa COVID-19 yang berasal dari Wuhan, ini telah memaksa perubahan besar pada kehidupan sehari-hari.  Dampak yang menggerus hampir setiap lini kehidupan ini, termasuk ekonomi, sistem perawatan dan lain-lain itu,  belum pernah terjadi sebelumnya.

Di kawasan Asia, menurut laporan WHO dan Bank Dunia, masalah kesehatan tertinggi disebabkan oleh masalah kemiskinan. Sekitar 72 persen rumah tangga membelanjakan 25 persen anggaran mereka untuk perawatan kesehatan.  Jadi, perlu pertimbangan kritis, jika para dermawan berpikir dan berencana menyebarkan filantropi mereka di luar kebutuhan mendesak yang diciptakan COVID-19.

Dua penulis itu pun mengungkapkan ada tiga komponen fundamental yang harus dipertimbangkan para dermawan di Asia.

Pertama, komitmen. Perubahan sistemik membutuhkan waktu, dan pegiat filantropi harus mampu toleran terhadap risiko yang timbul. Juga  cukup sabar berinvestasi agar kondisi sosial kembali normal.

Jadi untuk mendapatkan solusi tersebut, filantropis harus berkomitmen dalam  strategi jangka panjang yang memiliki uji kelayakan,  materi yang teruji,  dan pemangku kepentingan utama.

Kedua, kolaborasi. Kolaborasi dan koordinasi sangat penting. Para dermawan membutuhkan mitra tidak hanya dari berbagai sektor, tetapi juga pada tingkat berbeda, terutama di masyarakat setempat.  Dengan demikian, mereka akan memiliki pemahaman yang jelas dan berkelanjutan tentang kebutuhan dan cara mengatasinya  dengan baik.

Selain itu, kolaborasi dan koordinasi yang baik membantu memastikan bahwa sumber daya filantropi digunakan untuk mengisi kesenjangan mendesak yang tidak dapat dilakukan mitra lain.

Ketiga, modal. Berdasarkan dampak yang terjadi akibat COVID-19, wilayah Asia membutuhkan gelombang modal untuk meningkatkan upaya yang ada dan mendukung upaya baru membangun komunitas yang tahan goncangan.

Diungkapkan juga beberapa model filantropi yang bisa jadi contoh. Lien Foundation, misalnya, yang memelopori pendekatan kolaboratif pengembangan anak usia dini, perawatan lansia, dan air & sanitasi di Asia, telah lama menunjukkan efektivitas inovasi yang dipasangkan dengan komitmen jangka panjang.

Strategi bantuan COVID-19 dari Jack Ma Foundation, yang menjangkau 150 negara, adalah contoh dampak koordinasi yang baik. Upaya multi-cabang Yayasan, yang meliputi penyediaan kit pengujian yang sangat dibutuhkan dan peralatan / pasokan medis, mendanai penelitian medis, dan memfasilitasi pertukaran global keahlian medis, menunjukkan betapa efektifnya filantropi ketika dikoordinasikan dengan baik dan dilaksanakan secara kolaboratif.

Mengingat sifat krisis yang bergerak cepat dan tidak dapat diprediksi, sangat penting bagi para filantropis untuk tetap memperhatikan kebutuhan masyarakat dan kelompok. Dengan demikan upaya mereka tetap berorientasi pada solusi, aditif, tepat waktu, dan relevan.

Disebutkan juga bahwa di Asia, upaya filantropis sering dilakukan secara anonim atau tanpa publisitas, sehingga sulit dilacak.  Padahal, langkah menuju filantropi yang lebih terpadu, baik regional maupun global, akan sangat penting membantu masyarakat dan kelompok, terutama yang rentan, untuk melakukan lindung nilai secara efektif terhadap dampak krisis global di masa depan.

Menurut Hurun Global Rich List 2020, sekitar 39 persen dari total kekayaan global dan 48 persen miliarder berasal dari Asia, (setara dengan 60 persen populasi dunia). Selanjutnya, 63 persen miliarder baru yang masuk daftar tahun ini (pun) dari Asia.

Mengingat dampak yang terjadi akibat COVID-19 sudah menjalar ke mana-mana, kondisi Asia berdasarkan riset Global Rich List 2020, ini menciptakan peluang penting untuk meningkatkan jumlah pemberian filantropi.  

Untuk para dermawan mapan, misalnya, rekomendasi umum adalah terus membangun kegiatan yang sedang dilakukan, dan membuka lebih banyak sumber daya dan fokus pada kolaborasi lintas-sektor.  Bagi dermawan lainnya, dampak COVID-19 dapat membantu membentuk kembali filantropi mereka menjadi lebih strategis dan transformatif dalam konteks tatanan dunia baru. Mustahil untuk menutup mata terhadap dampak COVID-19 di Asia, bahkan di seluruh dunia. Pandemi ini juga mengungkapkan peluang untuk benar-benar memahami hubungan yang tak terpisahkan antara komunitas yang tangguh serta sistem ekonomi, kesehatan, dan sosial yang kuat.  

Di akhir tulisan, disebutkan bahwa filantropi dapat menjadi katalisator yang menangani kebutuhan mendesak akibat krisis COVID-19 tersebut. Juga melakukan perubahan yang benar-benar sistemik yang dirancang untuk melindungi serta membangun kembali dunia yang lebih baik.

Sumber:

https://www.thejakartapost.com/academia/2020/06/15/after-covid-19-using-philanthropy-to-build-back-better-world.html

Photo source: AFP/XAVIER GALIANA