covid19filantropi.id

4 Alasan yang Membuat Filantropi Harus Peduli AI Pasca COVID-19

Artificial Intelligence atau AI sudah ada di sekitar kita. Namun revolusi teknologi tersebut sebagian besar diabaikan sektor filantropi.  Tapi, karena pandemi COVID-19 telah memaksa #stayathome, AI tumbuh lebih cepat dari sebelumnya. Apa dampak bagi filantropi?

AI atau Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan adalah salah satu topik yang paling diperdebatkan sebelum COVID-19. Dan krisis saat ini hanya memperkuat pemahaman potensialnya dalam kehidupan sehari-hari. Sang pelopor AI Marvin Minsky mendefinisikan AI sebagai ‘ilmu yang membuat mesin melakukan hal-hal yang membutuhkan kecerdasan seperti dilakukan manusia’.

Jadi persepsi visual, pengenalan ucapan, dan pengambilan keputusan atau skenario apa pun ketika mesin melakukan fungsi kognitif seperti manusia, itulah yang disebut AI.

Paling tidak begitulah dituliskan Joost Mönks dan Charles Sellen di alliancemagazine pada Juni 2020. 

Mönks adalah pakar internasional di bidang pendidikan serta dosen filantropi di Universitas Jenewa, Swiss.  Sementara Sellen adalah dosen di Indiana University Lilly Family School of Philanthropy di AS.

Mereka menuliskan bahwa sektor filantropi, pun harus diingatkan hal yang lebih mendasar tentang bagaimana AI membentuk masyarakat masa depan (tak hanya tentang cara memanfaatkan kekuatan AI untuk memberi dampak).

Bagaimana lingkungan ini akan berkembang masih belum jelas, tetapi dampak AI tidak diragukan lagi akan menjadi sangat penting, baik atau buruk, dan membutuhkan perhatian segera dari para pelaku filantropi.

AI sendiri sebenarnya sudah ada di sekitar kita. AI telah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari – smartphone kita, misalnya, semakin berfungsi sebagai ekstensi digital kita. Kita terlibat dengan AI setiap hari saat menggunakan Google, Facebook, atau WeChat. ‘Keterampilan luar biasa’ AI sudah tak terhitung jumlahnya, termasuk kemampuannya untuk membaca, menerjemahkan, mengenali wajah, berbicara, atau bahkan menerjemahkan gelombang otak Anda ke dalam kalimat.

AI berkembang pesat sementara manusia dikurung di rumah dan social distancing memerlukan penggunaan robot yang lebih luas.  COVID-19 mempercepat kemunculan AI dan sistem berbasis data serta teknologi pengawasan di tempat-tempat seperti Cina, Singapura, dan Korea Selatan untuk memerangi pandemi. Ini mendorong sistem pengawasan yang mendukung AI dengan cara yang belum pernah kita lihat sebelumnya.

Pesawat tak berawak untuk memastikan orang mengenakan masker, kamera penghangat tubuh, dan aplikasi untuk melacak lokasi dan kondisi kesehatan warga telah atau kemungkinan akan menjadi praktik standar di banyak tempat. Momok ‘pengawasan totaliter’ sebagai normal baru dan demi kesehatan masyarakat mulai membayang.

Namun secara bersamaan, teknologi perintis juga menawarkan cara yang tepat untuk mengurangi risiko tersebut. Blockchain, misalnya, menawarkan kemampuan unik untuk mendesentralisasi dan mengamankan database. Menggunakan blockchain dapat mencegah AI mengandalkan database terpusat, sehingga mengurangi potensi pengawasan besar-besaran yang berbahaya dan ancaman privasi dari ‘panopticon digital’.

Manifestasi kekuatan AI dan wajahnya yang ‘menakutkan’ ini menambah kekhawatiran tentang potensi bahaya dan efek buruk dari penerapan teknologi dengan kekuatan tersebut, tanpa kerangka kerja, prinsip, dan pengawasan etika yang tepat.

Saat ini sektor filantropis tampaknya tidak cukup menyadari masalah yang dipertaruhkan tersebut. Sejauh ini, filantropi sebagian besar tidak ada dalam debat besar kecerdasan buatan tersebut.  Tapi sektor ini telah mulai meningkatkan perhatian pada AI, khususnya dalam hal tantangan etika utama dan potensi penggunaan yang menguntungkan dari bidang teknologi baru ini.

Pusat sumber daya seperti Charities Aid Foundation Inggris, misalnya,  meningkatkan kesadaran dan mengambil suara yang lebih kuat dalam membentuk agenda AI pada masa yang akan datang.

Sektor ini meluncurkan inisiatif baru seperti Kumpulan Data Riset Terbuka COVID-19 yang mendukung AI oleh sekelompok filantropis AS atau seruan Google sebesar $ 25 juta untuk ide yang berfokus pada ‘AI untuk kebaikan sosial’. Penelitian tentang AI sendiri sudah mendapatkan keuntungan dari peningkatan donasi pribadi termasuk £ 150 juta, donasi tunggal terbesar yang pernah ada untuk sebuah universitas di Inggris, untuk mendirikan Institut Etika AI baru di Universitas Oxford.  AI digunakan jauh di luar dunia Barat, dengan aplikasi inovatif misalnya di Afrika untuk membantu petani dan mengatasi keamanan pangan, serta di Cina, negara terkemuka dalam teknologi ‘tanpa batas’ ini.

Mengapa sektor filantropi harus sangat peduli dengan AI? Dua penulis itu menyebutkan bahwa dengan situasi yang diperburuk pandemi virus corona, sektor filantropi harus mempelajari AI, setidaknya untuk 4 alasan mendasar berikut:

1. Melindungi privasi dan memastikan penggunaan yang etis. AI meliputi masyarakat dan memengaruhi orang-orang dan komunitas yang dilayani sektor filantropi.. Pertanyaan sebenarnya untuk filantropi, seperti yang diperingatkan pakar Lucy Bernholz, bukanlah bagaimana lembaga nonprofit dan yayasan akan menggunakan AI dalam misi mereka, tetapi ‘bagaimana AI digunakan dalam domain tempat mereka bekerja dan bagaimana mereka harus merespons’. Jika mereka gagal memposisikan diri, terutama terkait dimensi etika AI, dan gagal beradaptasi, mereka berisiko menjadi tidak relevan.

2. AI meningkatkan dampak untuk kebaikan: Urgensi saat ini dan fokus yang berkembang pada filantropi yang efektif, menekankan pentingnya mencapai dampak. Aplikasi berbasis AI yang tak terhitung jumlahnya telah memungkinkan sektor ini untuk melatih para pencari kerja, untuk memberikan beasiswa mikro kepada siswa, untuk melacak hewan yang terancam punah, memerangi perdagangan seks, atau menghubungkan kembali keluarga pengungsi. Pengaman utama adalah bahwa faktor manusia tidak boleh disisihkan dalam penggunaan AI.  Hanya melalui kombinasi manusia dan mesin – hati yang hangat dengan mata yang tajam – efeknya dapat ditingkatkan dengan aman.

3. AI dan pengaruh elit: Dengan kekayaan yang semakin terkonsentrasi oleh lebih sedikit perusahaan dan individu, tanggung jawab besar atas filantropi berada di tangan segelintir elit. Pengaruh mereka pada sektor filantropi kemungkinan akan tumbuh karena para elit ini juga terhubung dengan perusahaan raksasa teknologi yang mempromosikan AI.

4. AI dan perilaku donor: Akhirnya, seseorang harus mempertimbangkan tren perilaku. Disengaja atau tidak, manusia semakin mengandalkan AI untuk membuat keputusan rutin harian berdasarkan rekomendasi. Saat ini ada di mana-mana, manusia menjadi terbiasa menerima konten yang disesuaikan berdasarkan preferensi yang ditautkan ke profil mereka. Akan tampak aneh dan ketinggalan zaman jika filantropi tetap menjadi area di mana kemungkinan seperti itu tidak digunakan. Organisasi filantropi ditekan untuk mengambil posisi dan mengubah diri mereka sendiri di era digital ini. Tidak hanya dalam hal bagaimana memanfaatkan kekuatan AI untuk memberikan dampak, tetapi lebih mendasar tentang bagaimana AI memengaruhi masyarakat dan keadilan sosial. Serta bagaimana efek buruk dapat dimitigasi di dunia pasca-COVID-19 yang sangat terdampak.

Sumber: