covid19filantropi.id

Aksi Filantropi Perempuan Amerika Latin di Masa Pandemi COVID-19 *)

Peran dan andil perempuan di tengah pandemi COVID-19 sangat besar terutama dalam menggerakkan kampanye keadilan sosial dan pemenuhan hak-hak perlindungan perempuan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi global.

Menurut data dari PBB, kontribusi dari perempuan terhadap produk domestik bruto secara global adalah 37 persen. Secara khusus pekerja sosial dan penyedia jasa yang dilakukan perempuan, termasuk yang tidak dibayar, menghasilkan sekitar 11 triliun dollar di penjuru dunia atau setara dengan 9 persen GDP global.

Aksi perempuan juga berdampak terhadap penegakan keadilan sosial di banyak negara. Di antaranya pengakuan konstitusional atas persamaan hak; berlakunya undang-undang yang melarang pembunuhan wanita, penyerangan seksual, kekerasan yang menargetkan wanita dan anak perempuan; lembaga kuota politik; hak untuk memiliki properti; akses ke perawatan kesehatan; hak untuk membuat keputusan individu tentang reproduksi; hak untuk warisan; dan akses yang lebih luas ke pendidikan.

Di Amerika Latin, gerakan keadilan sosial dan pemenuhan hak-hak asasi banyak dimotori oleh para aktivis perempuan. Di tahun 2015, gerakan bernama ‘Ni una Menos’ (tidak satu perempuan pun berkurang) muncul di Argentina yang mendorong banyaknya laporan pembunuhan dan kekerasan perempuan. Gerakan ini diinspirasi kampanye serupa di Meksiko dan akhirnya mendorong gerakan global ‘Un violador en tu camino’ ([ada] pemerkosa di jalanmu) yang dipelopori oleh kelompok teater feminis di Chili pada tahun 2019.

Tak hanya itu, gerakan perempuan di Amerika Latin juga cepat merespon korban bencana alam dan kemanusiaan. Seperti saat gempa bumi di Meksiko tahun 2017 dan di Chili tahun 2010, kelompok feminis seperti ‘Fondo de Mujeres Semillas’ dan ‘Fondo de Mujeres Alquimia’ bergerak untuk menghimpun bantuan dana dan tenaga.

Saat pandemi coronavirus menyerang, perempuan adalah kelompok yang riskan terkena dampak buruk baik dari segi kesehatan dan ekonomi. Namun hal itu tidak mengubur semangat para perempuan di berbagai negara untuk membantu. Data PBB menunjukkan bahwa rata-rata 70 persen dari tenaga kesehatan di garda depan adalah perempuan. Di Brazil contohnya, hampir 85 persen asisten perawat dan teknisi adalah perempuan, berdasarkan laporan dari Konsil Keperawatan Negara (Cofen) dan Oswaldo Cruz Foundation.

Tak pelak, lembaga filantropi di Amerika Latin yang fokus pada gerakan feminis dan keadilan sosial turut memberikan dana darurat untuk merespon COVID-19. Melihat pentingnya peran perempuan dan besarnya dampak pandemi ini bagi perempuan, perubahan sistematik harus dilakukan termasuk bagi filantropi.

Filantropi seperti apa yang akan dibangun kembali di Amerika Latin? Salah satu jurnalis Brazil, Eliane Brum, mengatakan, “Disrupsi atas hidup normal, yang disebabkan oleh virus ini, mungkin menjadi kesempatan kita untuk merancang masyarakat berdasarkan prinsip yang berbeda, yang mampu menghentikan bencana lingkungan dan mempromosikan keadilan sosial. Faktanya, hal terburuk yang bisa terjadi pada kita setelah pandemi adalah kembali ke normal”.

Filantropi harus berjalan ke depan dan membangun filantropi baru berdasarkan kolaborasi atas kepercayaan, komunitas, dampak sosial kolektif, dan pemberian hibah yang partisipatif.

*) Dirangkum dari tulisan Amalia Fischer Pendiri & CEO dari ELAS – Women’s Fund, berjudul “Latin America should turn its women’s movements when rebuilding after COVID-19”.

Sumber:

Photo source: https://www.flickr.com/photos/lorenaflagphotography/