covid19filantropi.id

Aksi Solemen Bali Atasi Dampak Krisis COVID-19

Sementara pandemi COVID-19 terus berdampak pada Indonesia, di Bali sebuah kegiatan amal akar rumput terus membantu kehidupan beberapa warga negara yang paling terpukul.

Sejak turis dilarang ke Bali akibat pandemi COVID-19, dampak krisis wabah tersebut terhadap ekonomi lokal sangat menghancurkan.  Belum lagi mereka yang masih tak bisa lepas dari pasung.

Adalah Robert Epstone, pendiri dan kepala The Solemen Foundation, sebuah organisasi nirlaba yang membantu masyarakat miskin, diam-diam menjadi dermawan di Pulau Dewata tersebut bersama Solemen-nya.

Namun kisah filantropinya tak semulus yang dibayangkan. Dikutip dari tulisan Ian Neubauer dan Lala Samsura yang berjudul Bali’s Solemen, the Barefoot Charity, Solemen memiliki tantangan besar selama pandemi COVID-19. Yaitu ketika dana untuk organisasi mengering.

Solemen, yang bergantung pada sumbangan dari wisatawan dan tempat yang mereka kunjungi, telah melihat pendanaannya untuk perawatan medis dan distribusi makanan menguap sejak Indonesia melarang kedatangan turis pada April 2020 untuk menghentikan penyebaran COVID-19.

 “Jika kami tidak menemukan solusi, orang tidak akan makan,” kata Epstone.

Epstone sendiri yang berusia 71, berada dalam kategori risiko tinggi. Perlu mengisolasi diri, atau berisiko terinfeksi COVID-19.

Tapi Epstone menepis kekhawatiran, yang mungkin tidak mengejutkan mengingat resumenya sebelum terjun mengelola Soleman.

Sebelumnya, Epstone adalah perancang busana di Inggris yang bekerja dengan perancang top Vivienne Westwood di London. Tetapi ketika bekerja di Yugoslavia pada pertengahan 1990-an, dia mulai berkecimpung di bidang filantropi.

Sejak itu ia berkecimpung menjadi sukarelawan di Rumania, selama Perang Balkan mengangkut susu formula bayi dari London ke zona konflik di wilayah tersebut.

Pada 2008, Epstone ke Bali dan takjub dengan suasananya. Saat itu, seperti dikutip dari tulisan tersebut, dia berkata pada diri sendiri ketika berusia 60 tahun, saya pensiun di sini (Bali). Setahun kemudian niat itulah yang ia lakukan.

Namun rencana Epstone untuk hidup idealis berubah ketika dia mengunjungi desa terpencil dan melihat korban pasung untuk pertama kalinya. Dia terkejut dan tak bisa tinggal diam menyaksikan penderitaan tersebut.

“Sulit juga untuk melihat kemiskinan umum di Bali – orang-orang yang hidup dalam kondisi kumuh di sebelah hotel bintang lima tempat turis berlibur dengan penutup mata. ”

Epstone sendiri mengatakan dia dan timnya telah membantu membebaskan dan merehabilitasi lebih dari 40 korban pasung.

Proyek filantropis pertamanya di Indonesia adalah tugas lima bulan di pulau terpencil Sumba dan menggali sumur untuk Rotary International.

Pada 2011, ia berjalan 535 kilometer tanpa alas kaki di sekitar Bali untuk meningkatkan kesadaran dan dana bagi pengentasan kemiskinan di pulau itu. Epstone juga berjanji tetap bertelanjang kaki sampai dia mengumpulkan $ 1 juta untuk Solemen – target yang dia capai dalam lima tahun tanpa menghubungi kontak fesyennya yang kaya.

Tulisan yang dimuat di asiamediacenter edisi 18 Agustus 2020 tersebut, juga menuliskan bahwa Epstone, saat itu  mendapat ide menempatkan kotak makanan di supermarket bergaya Barat yang melayani sekitar 10.000 turis dan ekspatriat yang tetap di Bali selama pandemi.

Tak mudah, banyak yang menolak, terutama jaringan supermarket terbesar yang mengatakan mereka terlalu sibuk. Akhirnya, Soleman mencoba supermarket independen. “Sebelum saya menyelesaikan promosi saya, manajer setuju,” kata Epstone mengisahkan keberhasilan tawaran kerja samanya ke supermarket independen seperti dikutip dalam tulisan tadi.

Dan ternyata usahanya tersebut sukses besar. “Kami mendapatkan makanan yang kami butuhkan dan penjualan mereka pun meningkat karena orang membeli dua barang yang sama,” ujar Epstone.

Supermarket independen lain ikut serta dan penjualan mereka juga meningkat.

Disebutkan juga bahwa kemudian Gojek tertarik dan menawarkan mengirimkan semua makanan yang dikumpulkan tersebut kepada orang-orang yang membutuhkannya.

Kemudian supermarket yang awalnya menolak ide tersebut akhirnya berubah pikiran dan ingin ikut serta.

Ide lain yang dijalankan adalah terutama untuk mengembalikan organisasi pada pijakan jangka panjang yang berkelanjutan. Yaitu, Solemen telah mengembangkan rencana lima tahun untuk mengurangi ketergantungannya pada penggalangan dana dengan meniru pendekatan “filantrokapitalisme” yang dipelopori The Bill and Melinda Gates Foundation. Yaitu lembaga nirlaba yang didirikan oleh salah satu pendiri Microsoft dan istrinya, dan sebagian besar didanai pendapatan investasi.

Proyek filantrokapitalisme pertama Solemen adalah makanan kesehatan dari daun kelor, yang dikatakan dapat meningkatkan kesehatan manusia. “Kami telah mengembangkan bubuk yang sudah kami jual ke hotel untuk smoothie dan koktail, dan kapsul yang Anda telan untuk meningkatkan sistem kekebalan,” kata Epstone.

Rencana lainnya adalah pembuatan lip balm dan krim selulit, serta energy bar. Pemasarannya pun sudah dipikirkan, yaitu dengan membuka toko online untuk mengekspornya.  Epstone berpikir Jika dapat mengembangkan pasar global, maka Solemen mungkin tidak memerlukan donasi lagi.

Solemen sendiri kini memiliki sekitar 20 karyawan. Mereka juga berusaha menjadi contoh berbudidaya sendiri dengan peralatan aquaponik rumahan. Yaitu mendaur ulang air kaya nutrisi dari budidaya ikan untuk meningkatkan panen hortikultura.

“Ini adalah sistem pertanian kuno yang pernah banyak digunakan di Indonesia,” kata Pak Gusti, ahli aquaponik Solemen.

Dalam tiga minggu, Anda bisa memanen cukup kangkung setiap hari untuk memberi makan empat keluarga. Dalam 10 minggu, Anda bisa makan lele. Tujuan Solemen adalah menjalankan 1.000 [kit] dalam lima bulan. Menurut mereka, cara tersebut lebih baik daripada memberi sekantung kantong beras.

Solemen juga berupaya membantu para pekerja yang kehilangan penghasilan karena pandemi, termasuk di industri pariwisata.

Juli, misalnya, mantan petugas kebersihan, mengatakan dia hanya menerima satu paket makanan sejak pandemi COVID-19 dimulai. Dia menerima tunjangan pengangguran selama dua bulan. Selebihnya tak ada lagi. Hingga industri pariwisata pulih, badan amal yang bergantung pada pariwisata seperti Solemen dapat membantu mengisi kesenjangan kesejahteraan selama pandemi COVID-19. Tetapi mereka membutuhkan pendanaan yang berkelanjutan. “Mengandalkan pemberian bukanlah jawabannya,” kata Epstone. “Kami harus menghasilkan pendapatan kami sendiri.”

Sumber:

https://www.asiamediacentre.org.nz/features/bali/

Ket. foto: Soleman food drop boxes set up in Bali’s supermarkets/ photo Ian Neubauer