covid19filantropi.id

Bantu Guru Pedalaman Terdampak COVID-19

Selama pandemi COVID-19, tantangan mengajar guru-guru di daerah pedalaman meningkat, sementara penghasilan mereka justru merosot tajam.

Indonesia terdiri dari sekitar 17.000 pulau, besar dan kecil. Satu sama lain dipisahkan laut, dan tak semua wilayah dapat dijangkau dengan mudah. Masih banyak wilayah yang terpencil, karena belum terjangkau sarana dan prasarana transportasi yang memadai.

Padahal, semua anak Indonesia berhak mendapatkan pendidikan. Di situlah para guru pedalaman berperan penting mentransfer ilmu pengetahuan bagi anak-anak yang tinggal di wilayah pedalaman.

Guru di pedalaman terkenal dengan ketangguhannya. Berbagai medan berat mereka lalui. Sungai deras, jalan terjal berbatu, hutan berlumpur, hingga gunung dan bukit pun mereka arungi.

Semenjak pandemi COVID-19 melanda dan kegiatan sekolah ditutup untuk sementara, siswa sekolah di pedalaman pun harus mengikuti anjuran pemerintah untuk menerapkan Belajar Jarak Jauh (BJJ).

Guru dan murid untuk sementara memang tidak lagi harus mengarungi medan yang sulit untuk tiba di sekolah. Namun, belajar di rumah justru lebih menyulitkan. Tidak ada akses internet, tidak ada gadget pendukung seperti di kota-kota besar, sinyal pun tidak ada.

Banyak guru juga pendapatannya terganggu semenjak COVID-19 melanda. Padahal mereka juga perlu bertahan hidup—termasuk keluarga mereka.

Dukung pendidikan di pedalaman

Insan Bumi Mandiri (IBM), sebuah organisasi pelayanan sosial/filantropi yang berpusat di Bandung, Jawa Barat, dan telah memiliki akta notaris serta payung hukum dari Kemenkumham, mengajak masyarakat untuk membantu para guru yang mengabdi di daerah-daerah pedalaman. Sejak berdiri pada 2 Februari 2016 IBM berkomitmen membangun pedalaman Indonesia Timur.

Anjuran untuk jaga jarak dan larangan berkumpul selama pandemi COVID-19 memaksa sekolah melakukan sistem BJJ. Di kota besar, sistem itu didukung dengan peralatan canggih dan jaringan internet yang lancar. Namun, tidak demikian dengan para guru di pedalaman, banyak dari mereka kesulitan dengan kegiatan tersebut.

Alhasil, mereka yang salah satu sumber rezekinya berasal dari kegiatan mengajar langsung (tatap muka) terpaksa harus merasakan kerasnya dampak COVID-19. Bahkan, guru les dan guru mengaji tak lagi punya pendapatan. 

“Guru les, guru ngaji, dan guru honorer di pedalaman kehilangan penghasilan selama masa pandemi ini. Guru les dan guru mengaji kan, biasanya keliling mendatangi rumah siswa-siswanya. Selama pandemi begini banyak orang tua yang menghentikan sementara les anak-anak mereka, termasuk belajar mengaji. Akhirnya mereka tidak bisa mengajar dan kehilangan penghasilan,” tutur Sepri, relawan IBM di Sumatera Selatan, pada 29 Mei 2020 lalu.

Guru-guru lain di pedalaman pun kesulitan mengajar, karena tak ada fasilitas cukup dan adanya kendala ekonomi.

Melihat nasib guru pedalaman yang kehidupannya semakin keras di masa pandemi COVID-19, dan para siswa yang kesulitan belajar karena tak memiliki fasilitas BJJ, IBM  mengajak masyarakat untuk membantu mereka melalui penggalangan dana bertajuk “Dukung Pendidikan Pedalaman”.

Bantuan akan disalurkan guna menunjang keberlangsungan pendidikan di wilayah-wilayah pedalaman Indonesia. Antara di Sumatera Selatan, NTT, dan NTB.

Donatur dapat memantau setiap perkembangan program-program Insan Bumi Mandiri,  baik yang sedang berjalan maupun yang sudah terdanai, termasuk total donasi yang telah terkumpul, melalui website insanbumimandiri.org

Yayasan Dhu’afa Sejahtera Santuni 200 Guru Ngaji Pedalaman

Bulan Suci Ramadan merupakan bulan penuh keberkahan dan bulan berbagi kebahagiaan. Yayasan Dhu’afa Sejahtera turut berbagi dengan menyantuni sekitar 200 guru mengaji di pedalaman. Di tengah pandemi COVID-19, para ustadz dan guru mengaji turut terdampak secara ekonomi.

Untuk meringankan beban hidup para guru ngaji di daerah pedalaman dan pedesaan, Yayasan Dhu’afa Sejahtera memberikan santunan ke sejumlah wilayah suku Baduy di Banten dan Jawa Barat.

Menurut Ketua Yayasan Dhu’afa Sejahtera, K.H. Masyhuril Khamis, ada 200 ustaz dan ustazah yang mendapat santunan.  Ia menambahkan, saat ini para guru ngaji tersebut sangat membutuhkan kepedulian para saudara yang kondisinya lebih baik. Yayasan Dhu’afa Sejahtera yang dipimpinnya  mengetuk hati para dermawan untuk sedikit berbagi guna  membantu para guru mengaji di pedalaman itu selama bulan Ramadan yang penuh berkah.

Guru di Pedalaman Berbagi Website E-Learning Online Gratis

Namun, guru di pedalaman bukan hanya ingin menerima bantuan. Seorang guru seni dan budaya di SMPN 5 Lebatukan, Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), bernama Martinus Albert Kamalera, S.Pd, atau biasa disapa Erik Kamalera, justru menyumbangkan website e-learning gratis untuk membantu program Belajar Jarak Jauh selama pandemi COVID-19. 

Ditemui di kediamannya di Lorong Sengsara, Kelurahan Lewoleba Barat, Kecamatan Nubatukan, Kabupaten Lembata, Erik mengatakan, motivasi utama yang mendorongnya membuat aplikasi website e-learning gratis ini adalah ingin memberi sumbangan bagi masyarakat di masa pandemi COVID-19.

Ia mengisahkan, saat mengikuti percakapan di media sosial facebook, banyak sekolah yang mencari tahu aplikasi apa yang cocok digunakan untuk lembaga-lembaga pendidikan di masa pendemi COVID-19.

“Saya pun tergerak dan mulai mendesain sebuah website e-learning gratis dengan nama laman www.examweb.online, yang penggunaannya diprioritaskan di masa pandemi COVID-19. Usai pandemi, website e-learning ini akan saya ubah menjadi berbayar,” ungkapnya pada 5 Mei 2020 lalu.

Menurut Erik, motivasi utama yang mendorong dirinya membuat aplikasi website e-learning gratis adalah ingin memberi sumbangsih bagi masyarakat di masa pandemi COVID-19.

Erik mengungkapkan, dirinya sangat bersyukur karena setelah website e-learning ini diluncurkan, ada 1000 sekolah di seluruh Indonesia yang telah menggunakannya untuk mengumumkan kelulusan siswanya secara online.

Ada dua sekolah di Pulau Jawa yang memberikan ucapan terima kasih kepadanya atas pembuatan website e-learning ini. Beberapa sekolah lain memberikan penghargaan berupa donasi sesuai kemampuan sekolah.

“Mungkin ini cara yang bisa saya lakukan sebagai bentuk sumbangsih saya untuk masyarakat, khususnya lembaga-lembaga pendidikan yang kesulitan mendesain website e-learning untuk kepentingan sekolah di masa COVID-19,” ujar Erik dengan senyum sumringah.

Menurut guru lulusan Sendratasik Universitas Widya Mandira Kupang ini, fitur-fitur dari website e-learning yang didesainnya disesuaikan dengan kebutuhan sekolah-sekolah saat ini, seperti pengumuman kelulusan, kenaikan kelas, absensi siswa, penugasan, RPP per KD beserta bahan ajar, dan juga materi bagi siswa. Ada juga fitur untuk nilai harian dan fitur untuk guru Bimbingan Konseling (BK).

Menurutnya, dalam proses pembelajaran, guru langsung membuat soal dan siswa langsung mengerjakan secara online, sekaligus guru bisa  menilai langsung. Terkait soal isian, ia mengatakan, jawaban siswa mesti persis sama dengan kunci jawaban di komputer/android.

Ia menambahkan, apabila ada perbedaan huruf atau kata, maka jawaban siswa dinyatakan salah. Sementara itu, menurutnya, apabila siswa setelah mengikuti pembelajaran di sekolah dan belum memahami dengan baik materi yang diajarkan, maka siswa dapat mengakses kembali di laman website tersebut untuk belajar di rumah.

“Saya coba menyiapkan dan ternyata banyak sekolah yang merespon sangat baik. Sayangnya di Lembata sendiri responnya masih sangat kurang. Para guru dan sekolah ingin menggunakan, tetapi kendalanya banyak siswa tidak memiliki ponsel android. Jaringan internetnya juga buruk, padahal banyak guru muda menguasai sistem digitalisasi,” kisahnya

Ia berharap, aplikasi website e-learning gratis yang disiapkannya ini dapat menjadi daya tarik bagi lembaga-lembaga pendidikan untuk menggunakannya.

Menurutnya, aplikasi ini telah dibuatnya sebelum pandemi COVID-19. “Begitu diumumkan imbauan belajar dan bekerja dari rumah, aplikasi ini saya jadikan sebagai bentuk solidaritas dari kami sekeluarga untuk masyarakat, khususnya bagi pendidikan di Indonesia.”

Ia mengatakan, aplikasi ini akan memacu anak-anak untuk menggunakan teknologi modern meskipun realitasnya di kampung-kampung para siswa belum banyak  memiliki ponsel android, juga jaringan internetnya sering ngadat. Padahal, lanjutnya, guru-guru di kampung didominasi oleh guru-guru muda yang memiliki kemampuan teknologi yang cukup mumpuni.

“Perlu adanya pembelajaran kolaboratif dalam hal sistem digitalisasi seperti ini. Mungkin saya memiliki keahlian dalam mendesain aplikasi website e-learning, tetapi saya juga mesti belajar dari rekan-rekan sejawat lain berkaitan dengan aplikasi lain yang mereka desain. Semuanya demi penguatan kapasitas kelembagaan dan juga penguatan kapasitas komunitas pembelajar profesional di kalangan guru,” imbuhnya.

Ia menegaskan, tuntutan digitalisasi, pengembangan website dan mengolahnya untuk mengembangkan kewirausahaan di zaman digital ini memaksa setiap orang untuk menekuninya.

“Jurusan pendidikan saya memang tidak linear degan apa yang saya geluti saat ini. Namun, semuanya saya pelajari secara autodidak dari Google dan YouTube. Jika malas membaca, cukup nonton di YouTube dan langsung praktik,” ujarnya.

Menurutnya, banyak orang yang mampu di bidang desain aplikasi, tetapi tidak mau menekuninya. Padahal, dunia digital sudah sangat terbuka. Hanya saja, lanjutnya, banyak orang kurang kreatif dan kurang memiliki gagasan brilian untuk menciptakan inovasi digital seperti yang dibuatnya.

Ia juga menuturkan, ada website Content Management System (CMS) WordPress, yang aplikasinya sudah ada, cukup di-instal untuk digunakan. Namun, katanya, wordpress itu buatan orang luar negeri sehingga konten atau fitur-fitur yang ada di dalamnya tentu dibuat sesuai kebutuhan mereka, bukan kebutuhan kita di Indonesia.

Lebih lanjut ia mengatakan, website e-learning yang didesainnya sudah sesuai dengan kebutuhan lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia saat ini. Jadi, sekolah yang mau menambah fitur baru dalam aplikasi ini bisa menghubunginya, atau meng-install aplikasinya di website sekolah jika kelak website-nya sudah berbayar.

Ayah dua anak ini berpesan, jika seusai pandemi COVID-19, sekolah-sekolah tidak mau lagi direpotkan atau disibukkan dengan cara surat-menyurat yang konvensional, atau memberikan pengumuman secara gelondongan, entah melalui Facebook maupun WhatsApp group, sebaiknya segera bergabung ke laman website www.examwed.online.

Sumber:

https://insanbumimandiri.org/id/campaign/paket-untuk-guru-pedalaman-terdampak-covid-19

http://kabarwashliyah.com/2020/05/20/yayasan-dhuafa-sejahtera-santuni-200-guru-ngaji-pedalaman/

https://warta–pendidikan-com.cdn.ampproject.org/v/s/warta-pendidikan.com/2020/05/06/guru-pedalaman-berbagi-website-e-learning-online-gratis/amp/?amp_js_v=a3&amp_gsa=1&usqp=mq331AQFKAGwASA%3D#aoh=15920505049328&referrer=https%3A%2F%2Fwww.google.com&amp_tf=From%20%251%24s&ampshare=https%3A%2F%2Fwarta-pendidikan.com%2F2020%2F05%2F06%2Fguru-pedalaman-berbagi-website-e-learning-online-gratis%2F

Foto oleh Aditio Tantra Danang Wisnu Wardhana dari Pixabay