covid19filantropi.id

Bantu Kuatkan Guru di Masa Pandemi COVID-19

Pemenuhan kebutuhan hidup guru swasta dan honorer terancam di masa pandemi COVID-19. Penggalangan dana #BantuKuatkanGuru bukan hanya untuk membantu para guru, tapi juga untuk memperlancar kegiatan belajar siswa. 

Tidak pernah terbayangkan dunia akan mengalami pandemi COVID-19 yang dampaknya dirasakan semua sektor. Penyebaran virus yang begitu masif melalui kontak antar manusia membuat para pemangku regulasi menerapkan kebijakan pembatasan interaksi sosial guna memutus mata rantai penyebaran virus yang sampai saat ini belum ditemukan vaksinnya. Pembatasan interaksi sosial tersebut berdampak besar, salah satunya pada pemenuhan kebutuhan pendidikan.

Penurunan kemampuan ekonomi keluarga akibat pandemi COVID-19 sangat berpengaruh terhadap kemampuan pembayaran iuran siswa (SPP). Padahal, bagi sekolah swasta, dana dari pembayaran iuran siswa merupakan sumber utama pendanaan operasional sekolah.

Dampaknya, sekolah menjadi kesulitan dalam membayar gaji guru, membiayai operasional pembelajaran yang tetap harus dilakukan meskipun melalui media daring, dan biaya-biaya lainnya. Tak heran jika ada beberapa sekolah swasta akhirnya menerapkan pemotongan gaji guru, bahkan ada juga yang memutuskan tidak menggaji guru-gurunya.

Guru-guru honorer terutama sangat merasakan dampak pandemi ini. Pembayaran gaji guru honorer dibayarkan berdasarkan jumlah jam mengajar. Akibatnya, di masa pandemi ini kesempatan guru honorer  mendapatkan jam mengajar jadi semakin kecil, bahkan nyaris tidak ada. Karena alasan ekonomis, sekolah akan mengutamakan guru non honorer untuk terlibat dalam pembelajaran.

Dampak tidak berhenti di masalah ekonomi semata. Pola perubahan proses belajar dari tatap muka menjadi daring juga membawa tantangan tersendiri. Kegagapan teknologi dan ketidakmampuan guru dalam melaksanakan program belajar jarak jauh patut mendapatkan perhatian.

Contoh nyata sudah terlihat di Bali. Pada 14-17 Mei 2020, Forum Pengelola Sekolah Swasta Provinsi Bali (FPSSPI) mengadakan survei dampak pandemi bagi sekolah swasta di Bali.  

Dari hasil survei tersebut, didapat sejumlah temuan yang memprihatinkan: 1) Rata-rata siswa yang tidak membayar SPP secara penuh mencapai 54%;  2) Rata-rata guru yang mengalami pemotongan gaji mencapai 41%;  3) Sebanyak 29% sekolah termasuk dalam risiko penutupan dan 19% sekolah sedang/akan melakukan pemutusan kontrak kerja karena defisit anggaran dalam periode Mei-Desember 2020; serta 4) Sebanyak 40% sekolah masih terbebani dengan biaya sewa baik bangunan maupun tanah.

Hal ini diperkuat pula dengan hasil survei Kemdikbud yang menyatakan bahwa selama masa pandemi ini, sebagian besar guru mengalami kendala terkait dengan kemampuan mengoperasikan perangkat digital serta kendala ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai untuk menyelenggarakan proses pembelajaran yang optimal.

Gerakan #BantuKuatkanGuru agar Guru Kuat dan Murid Berdaya

Berangkat dari kondisi tersebut,  dapat dirumuskan adanya dua masalah besar:

  • Guru swasta dan honorer terancam keberlangsungan pemenuhan kebutuhan hidupnya, yang berdampak pada kesempatan belajar murid.
  • Banyak guru belum menguasai penggunaan perangkat digital untuk pembelajaran jarak jauh.

Oleh karena itu, “Sekolah Lawan Corona”, sebuah program hasil kolaborasi antara Kampus Guru Cikal, Keluarga Kita, Sekolahmu, Semua Murid Semua Guru, Komunitas Guru Belajar dan Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan, meluncurkan kampanye penggalangan dana bertajuk #BantuKuatkanGuru. Tujuannya memberikan dukungan kepada guru-guru swasta dan honorer, serta dukungan untuk sekolah tempat mereka mengajar.

Bentuk dukungan yang diberikan akan terbagi menjadi tiga, yakni:

  1. Beasiswa program belajar dan beasiswa program belajar pembelajaran  jarak jauh.  Beasiswa program belajar diberikan untuk maksimal 100 siswa/sekolah.
  2. Dukungan untuk sekolah, berupa dukungan kuota data/voucher listrik senilai Rp1.000.000/per sekolah, serta dukungan membuat program belajar yang dapat menambah pendapatan sekolah.
  3. Dukungan paket sembako untuk guru senilai Rp400 ribu/guru, maksimal untuk 5 guru/sekolah

Kampanye #BantuKuatkanGuru diharapkan dapat membantu guru dan sekolah, yang berarti pula membantu memastikan terselenggaranya kualitas belajar yang baik bagi seluruh murid Indonesia. 

Kampanye #BantuKuatkanGuru ini juga didukung penuh oleh Komunitas Guru Belajar (KGB) Bandung. Mereka aktif mengampanyekan sekaligus  menjadi penggalang dana.

Donasi yang diberikan melalui link Donasi KGB Bandung akan otomatis masuk ke rekening Kampus Guru Cikal sebagai penggalang dana utama.

Di dukung Penuh oleh Kemendikbud

Dalam rangka menerapkan dan menyukseskan program “Merdeka Belajar”, Kemendukbud sangat mendukung kampanye #BantuKuatkanGuru yang digagas Kampus Guru Cikal.

Merdeka Belajar adalah program kebijakan baru Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI) yang dicanangkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Kabinet Indonesia Maju, Nadiem Anwar Makarim, pada 11 Desember 2019. Esensi kemerdekaan berpikir harus didahului oleh para guru sebelum mereka mengajarkannya pada siswa-siswi. 

Sistem pengajaran juga akan berubah, dari yang awalnya bernuansa di dalam kelas menjadi di luar kelas. Nuansa pembelajaran akan lebih nyaman, karena murid dapat berdiskusi lebih bebas dengan guru, belajar dengan outing class, dan tidak hanya mendengarkan penjelasan guru, tetapi lebih membentuk karakter peserta didik yang berani, mandiri, cerdik dalam bergaul, beradab, sopan, berkompetensi, dan tidak hanya mengandalkan sistem ranking. Karena, sebenarnya setiap anak memiliki bakat dan kecerdasan dalam bidang masing-masing. Sehingga nantinya akan terbentuk para pelajar yang siap kerja dan kompeten, serta berbudi luhur di lingkungan masyarakat.

Konsep Merdeka Belajar juga akan menciptakan suasana belajar yang bahagia tanpa dibebani dengan pencapaian skor atau nilai tertentu.

Dukungan Kemendikbud tersebut diperlihatkan dalam bentuk kehadiran Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemendikbud, Iwan Syahril—mewakili Mendikbud Nadiem Anwar Makarim—pada Grand Launching Program #BantuKuatkanGuru, pada 19 Juni 2020 lalu.  “Untuk menjalankan visi dan misi  Merdeka Belajar, berarti guru-gurunya harus berdaya dulu. Itu paling penting,” kata Iwan Syahril, dalam sambutannya.

Grand Launching Program #BantuKuatkanGuru ditayangkan di kanal YouTube ‘Sekolahmu‘ dengan narasumber Dirjen GTK Kemendikbud, Iwan Syahril; Pendiri Semua Murid Semua Guru, Najelaa Shihab; Ketua KGBN Usman Djabbar, CEO KitaBisa.com,  Alfatih Timur; Editor in Chief Kompas.com, Wisnu Nugroho; serta moderator Ketua Kampus Guru Cikal, Bukik Setiawan.

Sumber:

https://kitabisa.com/campaign/kuatkanguru

https://www.nusabali.com/berita/74460/hasil-survei-dampak-pandemi-bagi-sekolah-swasta-di-bali

https://carapandang.com/read-news/kemendikbud-berupaya-menghadirkan-guru-yang-berdaya

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Merdeka_Belajar

Foto dari Live streaming YouTube Sekolahmu: