covid19filantropi.id

Cegah Eksplotasi Pekerja Anak Selama Pandemi COVID-19

Di tengah pandemi COVID-19, sekitar 11 juta anak Indonesia rentan dieksploitasi sebagai pekerja anak. Tahun 2022 Indonesia menargetkan bebas dari pekerja anak.

Sebuah webinar nasional bertajuk “Pandemi COVID-19: Tantangan dan Strategi Penanggulangan Pekerja Anak secara Kolektif dan Berkelanjutan” diselenggarakan oleh Kementerian Tenaga Kerja (Kemenaker) RI  pada 12 Juni 2020 lalu, bertepatan dengan Hari Dunia Menentang Pekerja Anak (World Day Against Child Labour) dan dalam rangka  Bulan Menentang Pekerja Anak Nasional serta Hari Anak Nasional. 

Bersamaan dengan itu Kemenaker juga meluncurkan kampanye “Indonesia Bebas Pekerja Anak (KIBPA)”. KIBPA merupakan langkah strategis dalam penanganan dan penghapusan pekerja anak dan  salah satu upaya Kemenaker dalam mempercepat terwujudnya peta jalan (roadmap) Indonesia bebas pekerja anak tahun 2022.

Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah mengatakan, Kemenaker menargetkan 9.000 pekerja anak dientaskan dari eksploitasi.

Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), dari total 1,7 juta eksploitasi pekerja anak, sebanyak 134.456 pekerja anak telah diselamatkan sejak 2008 hingga kini.

Masih dengan misi yang sama, pada 28 Juli 2020 lalu kembali digelar webinar sehari bertajuk  “Pencegahan Eksploitasi Ekonomi pada Anak di Masa Pandemi COVID-19 ”. Webinar yang diselenggarakan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) RI, serta didukung oleh Kementerian Tenaga Kerja, JARAK (LSM yang berfokus pada isu pekerja anak), Children Forum, dan Organisasi Buruh Dunia (ILO), ini diikuti lebih dari 300 peserta dari seluruh Indonesia.  

Pada webinar tersebut, Kemenpppa merilis data bahwa di masa pandemi COVID-19, sebelas juta anak Indonesia berpotensi menjadi pekerja anak, dan oleh sebab itu dibutuhkan sinergi dan kolaborasi dari semua pihak untuk secepatnya melakukan pencegahan.

“Pada 2020, kemiskinan diproyeksi meningkat menjadi 12,4%, maka sekitar 11 juta anak dari rumah tangga rentan berpotensi menjadi pekerja anak (The SMERU Reserch Institute). Hal ini merupakan persoalan serius, mengingat pada 2030, sebanyak 70% anak generasi penerus ditargetkan menjadi generasi produktif yang bekerja di sector-sektor yang sesuai minat masing-masing. Namun, saat ini, khususnya di masa pandemi, masih banyak anak yang menjadi korban kekerasan, eksploitasi, dan perdagangan anak. Masalah ini timbul bukan hanya karena dampak bencana non-alam saja, tapi juga berimplikasi pada masalah ekonomi dan sosial pada anak,” ungkap Asisten Deputi Bidang Perlindungan Anak dari Kekerasan dan Eksploitasi, Kemen PPPA, Valentina Gintings

Data Profil Anak Indonesia pada 2019 menunjukan ada 10 provinsi di Indonesia yang memiliki  angka pekerja anak di atas rata-rata nasional, di antaranya Sulawesi Barat  (16,76%), Sulawesi Tenggara (15,28%), Papua (14,46%), Nusa Tenggara Timur (13,33%), Sumatera Utara (13,38%), Sulawesi Tengah (12,74%), Sulawesi Selatan (12,45%), Bali (11,57%), Nusa Tenggara Barat (11%), dan Gorontalo (10,97%). 

“Provinsi-provinsi ini juga memiliki jumlah anak putus sekolah yang cukup besar. Hal tersebut menunjukan anak yang putus sekolah sangat rentan dipekerjakan. Sebaliknya, anak yang dipekerjakan juga rentan mengalami putus sekolah,” tambah Valentina.

Nahar, Deputi Kemenpppa untuk Perlindungan Anak, menekankan adanya peningkatan jumlah anak yang menjadi korban eksploitasi, khususnya selama pandemi COVID-19.  “Kita perlu nengembangkan mekanisme deteksi awal serta mengikutsertakan lebih banyak pemangku kepentingan (stakeholder), termasuk komunitas dan keluarga, untuk memerangi eksploitasi anak ini,” papar Nahar.

“Kami telah mengembangkan strategi untuk mengeliminasi eksploitasi pada anak. Indonesia sudah berkomitmen bahwa berbagai praktik perbudakan modern, perdagangan manusia (trafficking), dan pekerja anak harus benar-benar tidak ada lagi di negeri ini pada 2030 guna mencapai  Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Goal 8.7,” Valentina Gintings menambahkan.

Untuk menjauhkan anak-anak tersebut dari jeratan eksploitasi ekonomi, “Kemenaker menyelenggatakan sejumlah program pelatihan keterampilan kerja, termasuk bagi para mantan pekerja anak, serta pelatihan kewirausahaan bagi keluarga anak-anak yang menjadi pekerja anak. Keterlibatan keluarga sangat penting untuk memutus mata rantai kemiskinan dan pekerja anak,” kata Tunjung Rijanto dari Direktorat Jenderal Pembinaan dan Pengawasan terhadap Pekerja Anak Kemenaker.

Irham Saifuddin, programme officer ILO, mengungkapkan bahwa 152 juta pekerja anak di seluruh dunia dipekerjakan di sektor agrikultur. “Ini sesuai dengan kondisi di Indonesia, di mana mayoritas pekerja anak kita dipekerjakan di sektor perkebunan dan kehutanan,” kata Irham.

Oleh karena itu, kini tengah dikembangkan program-program edukatif agar anak-anak tersebut bisa bersekolah,  belajar, dan bermain seperti umumnya anak-anak lain. Antara lain dengan memfasilitasi program mobile teacher. “Tugas anak-anak adalah belajar dan bersekolah, bukan mencari nafkah,” tegas Irham. 

Rizky Dwi Saputra, Ketua Forum Anak Jokarto Village di Jawa Timur, mengingatkan perlunya terus mengangkat isu pekerja anak dan terus mengupayakan usaha pemberantasannya.

“Selain meningkatnya angka eksploitasi pada anak, kita juga menghadapi tingginya angka pengangguran usia remaja (youth unemployment). Karena itu kita semua harus bergandengan tangan untuk mengatasi masalah ini,” kata Rizky. 

Melihat dari perspektif anak, Rizky menekankan besarnya kebutuhan akan program-program edukatif dan pembelajaran bagi anak-anak. Ia sangat prihatin dengan makin banyaknya anak-anak yang terpaksa bekerja di masa pandemi COVID-19 akibat kurangnya keterampilan teknologi, kurangnya tenaga guru, dan beratnya beban ekonomi keluarga.

Sumber:

https://www.un.or.id/blog/80-news/336-combating-increased-exploitation-of-children-during-the-covid-19-pandemic

https://amp-kompas-com.cdn.ampproject.org/v/s/amp.kompas.com/money/read/2020/06/12/201300126/tahun-ini-kemnaker-ingin-selamatkan-9.000-anak-dari-eksploitasi-?amp_js_v=a3&amp_gsa=1&usqp=mq331AQFKAGwASA%3D#aoh=15996326181465&referrer=https%3A%2F%2Fwww.google.com&amp_tf=From%20%251%24s

https://www.kemenpppa.go.id/index.php/page/read/29/2810/sebelas-juta-anak-berpotensi-menjadi-pekerja-anak-di-masa-pandemi-pentingnya-sinergi-melakukan-pencegahan

Image by billy cedeno from Pixabay