covid19filantropi.id

COVID-19, 3 Rahasia Agar Pendanaan Mendukung Kesejahteraan Individu

Kini, bukan soal jadi pendukung dana favorit atau bukan. Terpenting, bagaimana membantu penerima dana bisa bertahan dari pandemi COVID-19 ini.

Tak disangkal, apalagi di saat pandemik COVID-19, bahwa penyandang dana dapat mendukung kesejahteraan dan kesehatan mental penerima hibah yang sering kekurangan dana dan sumber daya. Juga membantu menumbuhkan individu dan organisasi yang lebih sehat.

Mendukung kesejahteraan penerima hibah adalah cara termudah menjadi penyandang hibah favorit.  Tapi kini, jelas bukan lagi soal menjadi pendukung dana favorit atau bukan. Tapi soal status sosial yang lebih luas, terkait kesehatan dan kesejahteraan dua belah pihak. Karena orang sehat akan menciptakan hal-hal yang sehat.

Begitu ditulis Jessamyn Shams-Lau dan Leah WIlberding di laman Stanford Social Innovation Review edisi 20 Mei 2020,

Disebutkan juga bahwa semua yang bergelut di dunia pendanaan perlu mendukung kesejahteraan penerima hibah.  Terutama membantu organisasi untuk perubahan sosial karena bertahan dari pandemik COVID-19.  Kemudian memastikan bahwa mereka memiliki ketahanan, serta kapasitas untuk berinovasi dan berkolaborasi secara efektif menavigasi tantangan yang akan datang.

Adaptasi fisik, mental, dan emosional dengan COVID-19 terbukti sangat menantang bagi orang yang bekerja untuk perubahan sosial. Organisasi untuk perubahan sosial tersebut biasanya menghadapi permintaan luar biasa untuk menjalankan perusahaannya. Karena seringkali staf dan sumber daya tidak memadai. Bahkan beberapa dari mereka terpaksa harus mengurangi upah, memotong waktu kerja staf, atau memutuskan hubungan kerja dengan karyawannya.

Sementara itu, para pemimpin nirlaba dan lainnya sering berjuang untuk mempertahankan garis tipis antara pekerjaan dan kehidupan rumah tangga. Bagi banyak orang, keduanya sekarang secara paksa menjadi satu.  Tak heran, konsekuensi pandemi COVID-19, itu sudah menunjukkan sinyal bahwa orang-orang di muka bumi ini sudah mencapai batas fisik, mental, dan emosional mereka.

Jessamyn Shams-Lau dan Leah WIlberding pun menulis bahwa COVID-19 sepertinya banyak juga memberikan pelajaran bagi mereka yang sudah berkecimpung dari krisis ke krisis lainnya tersebut. Penyandang dana mengandalkan pasukan profesional ini hari demi hari, krisis demi krisis.

Namun, tulisnya, mereka belum pernah melengkapi diri sendiri untuk pekerjaan sehari-hari yang mereka lakukan, juga di era pandemi COVID-19 ini.  Padahal, lanjutnya, sangat tidak manusiawi, tidak efisien, dan tidak efektif untuk bekerja tanpa dukungan kesejahteraan.

Penelitian oleh The Wellbeing Project (TWP) menunjukkan bahwa organisasi yang menangani kesejahteraan umumnya mulai melakukannya karena penerima hibah atau rekan kerjanya menyatakan perlunya dukungan.
 
Dalam banyak kasus, para pemberi hibah membantu memprioritaskan masalah tersebut.  Yaitu, dimulai dengan satu inisiatif dan secara bertahap mengembangkannya dari awal. Caranya dengan mendengarkan, bereksperimen, dan iterasi.

Perlahan-lahan, organisasi-organisasi pemberi hibah mulai memahami jenis dukungan penerima atau orang yang paling dibutuhkan, dan menanggapinya kebutuhan tersebut. Mereka juga membentuk staf khusus untuk masalah ini dan mengembangkan pengetahuan tentang bagaimana mendukung kesejahteraan penerima hibah.

Tetapi ada variasi. Dalam artikel tersebut, Jessamyn Shams-Lau dan Leah WIlberding berbagi tiga contoh inisiatif yang berhasil – yang diambil dari 85 organisasi yang telah berpartisipasi dalam TWP selama lima tahun terakhir – serta beberapa cara yang dapat didanai oleh pemberi hibah untuk kesejahteraan penerimanya di masa mendatang.

1. Mempercayai Penerima Hibah untuk Menentukan Kebutuhan Mereka

Hibah multi tahun adalah salah satu cara yang bisa diberikan penyandang dana untuk melindungi organisasi penerima dana di era perubahan sosial ini.  Terutama terkait dengan kesehatan mental dan kesejahteraan organisasi penerima dana. Dana hibah multi tahun itu juga dapat digunakan penerima hibah sesuai keinginan mereka, terkait tim dan konteks mereka.

Pada 2017, Peery Foundation memulai program percontohan pemberian hibah sebagai tanggapan atas trauma yang dialami pekerja garis depan saat melayani keluarga yang mengalami penggusuran di Palo Alto Timur, California.

Program ini diperluas untuk mendukung tiga penerima tambahan di Wilayah Teluk San Francisco pada tahun berikutnya, dan pada 2019, yayasan ini bermitra dengan Learning for Action (perusahaan di bidang strategi dan evaluasi) untuk meninjau dukungan kesejahteraan di lapangan, serta mengevaluasi dampak pilot program.

Learning for Action dimulai dengan tinjauan literatur tentang ketersediaan dan hasil praktik kesejahteraan di sektor ini, dan belajar tentang berbagai hasil positif pada tingkat individu dan masyarakat.

Hasilnya? Karyawan dengan akses ke program kesejahteraan mengalami peningkatan kepuasan kerja, penurunan depresi, dan peningkatan kesehatan mental dan fisik.  Angka karyawan yang tak masuk pun berkurang, lebih sedikit laporan trauma yang dialami orang lain, dan lebih sedikit turnover.

Ada juga bukti bahwa peningkatan kesejahteraan karyawan di luar tempat kerja, memiliki efek positif pada rumah dan komunitas mereka.

Berdasarkan temuan dari tinjauan tersebut, pada tahun 2020, yayasan memutuskan untuk memperpanjang pendanaan multi-tahun untuk kesehatan mental dan kesejahteraan staf.  Yaitu dengan menyediakan $ 35.000 per tahun untuk subset dari 12 penerima, termasuk dua di luar Amerika Serikat.

Setelah dukungan berjalan lebih dari satu tahun, penerima kesejahteraan awal melaporkan bahwa anggota tim berkurang stresnya, dan menikmati lebih banyak pertemanan karena akses ke konseling individu dan kelompok.  Ini selaras dengan tujuan awal yayasan untuk mengatasi masalah yang berhubungan dengan kesehatan mental seperti trauma, stres, kecemasan, dan kelelahan bagi staf garis depan.

Namun, berdasarkan umpan balik lain, yayasan memutuskan untuk menyesuaikan parameter hibah.  Pada awalnya, hibah bersifat preskriptif dan hanya mendukung satu penyedia konseling untuk setiap penerima. Tetapi menjadi jelas bahwa organisasi menginginkan dan membutuhkan lebih banyak otonomi untuk menentukan jenis dukungan yang dibutuhkan staf mereka.

Beberapa organisasi untuk perubahan sosial, ini ingin memberi akses pada staf mereka untuk mendapatkan terapi lain, selain asuransi kesehatan komprehensif dengan layanan konseling kesehatan mental. Beberapa organisasi, misalnya, merasa bahwa retret staf akan meningkatkan kesejahteraan tim lebih dari apa pun, dan menggunakan dana untuk mendukung retret untuk pemikiran strategis, perencanaan, dan perayaan pencapaian.

Karena itulah, tujuan yayasan jadi lebih luas. Yaitu agar penerima dana menggunakan hibah untuk meningkatkan kesejahteraan lintas tim dan organisasi. Misalnya dengan mendukung semangat tim, pendidikan tim (tentang topik-topik seperti pelecehan seksual, dan keanekaragaman, keadilan, dan inklusi), atau aspek kesejahteraan lainnya.  Memberikan sesuai dengan kebutuhan unik mereka dan dengan demikian membantu mereka memenuhi tuntutan misi mereka.

2. Menciptakan Ruang Berbagi secara Terbuka

Di era perubahan sosial ini pun, yayasan dan investor lain dapat mendukung penerima hibah dengan mendedikasikan waktunya untuk berdiskusi tentang masalah kesejahteraan pada setiap pertemuan.

Diskusi tersebut, akan membuka ruang bagi penerima hibah untuk mengeksplorasi masalah-masalah pribadi yang mendalam terkait kesejahteraan mereka dan mengirimkan sinyal bahwa kesejahteraan mereka harus menjadi prioritas tinggi.

Pada 2015, Schwab Foundation menemukan bahwa kesejahteraan adalah masalah signifikan dalam komunitas penerima penghargaannya. Pada pertemuan “Summer Davos” Forum Ekonomi Dunia di Cina, sekitar 70 pengusaha sosial di jaringan Schwab bertemu, di mana anggota masyarakat diundang untuk memakai stiker yang dicetak dengan kalimat yang belum selesai: “Saya ingin berbicara tentang … ” Setiap penerima beasiswa menyelesaikan kalimat dengan topik mereka sendiri dan kemudian berpartisipasi dalam kegiatan singkat tersebut.

Kegiatan ice breaking yang cukup standar ini berubah menjadi momen penting. Stiker satu jiwa pemberani berbunyi, “Saya ingin berbicara tentang kejenuhan.” Ini ibarat membuka kotak pandora. Para pemimpinan Schwab mendengar dengan jelas bahwa banyak wirausahawan sosial menginginkan dan membutuhkan ruang untuk membicarakan apa yang oleh banyak orang dianggap tabu atau subjek yang sensitif.

Sebuah survei kemudian mengkonfirmasi bahwa persentase yang signifikan dari penerima wirausaha sosial mengalami kecemasan, depresi, atau keduanya.

Yayasan bereksperimen dengan berbagai format untuk pertemuan berikutnya, termasuk latihan yang difasilitasi oleh psikolog, visualisasi terbimbing, dan sesi pleno katartik yang berfokus pada sindrom peniru dan kelelahan.

Akhirnya, ia menemukan bahwa pemrograman kesejahteraan cenderung bekerja paling baik ketika seseorang memodelkan “transparansi radikal”. Yaitu berbagi pengalaman pribadi mereka dengan topik sensitif atau kenyataan yang lebih sulit dari pekerjaan mereka.

Ini memungkinkan anggota komunitas lain untuk melihat mereka tidak sendirian dalam ketakutan atau pergumulan mereka.  Kelompok kecil yang dipilih dengan cermat dan kelompok sebaya terbukti paling efektif dalam membantu mengatasi hambatan seseorang, dan perlahan-lahan semua saling terbuka.

Umpan balik partisipan yang dikumpulkan setelah setiap pertemuan menunjukkan bahwa sesi yang berfokus pada kesejahteraan adalah salah satu program paling bermakna yang telah disediakan yayasan selama 20 tahun sejarahnya.


Terlebih lagi, yayasan mengetahui bahwa dengan berinvestasi dalam kesejahteraan batin para pendiri, mereka juga berinvestasi dalam kesehatan organisasi penerima penghargaan secara keseluruhan.

3. Membangun Program Komprehensif

Echoing Green mulai mendukung kesejahteraan setelah mengakui bahwa kesehatan rekan-rekannya penting bagi mereka sebagai individu dan kemampuan mereka untuk memecahkan masalah sosial yang kompleks.

Wawasan ini muncul setelah mendengarkan orang-orang, yang mengalami tantangan pribadi terkait dengan pekerjaan mereka dan dampaknya secara langsung.

Echoing Green memutuskan untuk meningkatkan dukungannya bagi orang-orang dengan merevitalisasi dan memperluas program kapelan. Program ini pertama kali diujicobakan pada tahun 2009 oleh tiga rekan Echoing Green.

Echoing Green juga memasukkan kesejahteraan ke dalam kurikulumnya untuk orang-orang yang baru. Kurikulum terdiri dari beberapa “pilar inovasi sosial,” salah satunya berfokus pada topik kesejahteraan. Itu juga menciptakan protokol untuk bagaimana menanggapi dan mendukung orang-orang di saat krisis, dan sumber daya yang ditunjuk untuk mendukung kesehatan dan keselamatan mental mereka.

Dengan cara gersebut, organisasi secara bertahap mengembangkan program lebih komprehensif yang mendukung karyawan pada awal kedatangan, hari-hari kerja seperti biasa, bahkan di saat-saat paling sulit.

Tak cukup tiga contoh inisiatif tersebut. Dua penulis perempuan ini pun membahas soal beberapa hal yang perlu dilakukan pemberi dana dan perantara.  Antara lain diungkapkan soal motivasi, pemahaman dan demo kesejahteraan harus jadi prioritas utama terkait pemberian hibah di masa pandemic COVID-19 ini.

Sumber:

https://ssir.org/articles/entry/how_funders_can_support_individual_well_being?utm_source=Enews&utm_medium=Email&utm_campaign=SSIR_Now

Illustration by Helena Pallarés