covid19filantropi.id

COVID-19 Ancam Kelangsungan Hidup Organisasi Nirlaba

Pandemi COVID-19 membuat banyak organisasi nirlaba, terutama yang berfokus membantu para pasien penyakit berat, kesulitan bertahan hidup. Hasil survei menyebutkan, sekitar 28% organisasi nirlaba akan gulung tikar. Bagaimana menyiasatinya agar para pasien tak perlu menjadi korban?

Bulan Peduli Kanker Payudara atau Breast Cancer Awareness Month yang jatuh pada bulan Oktober biasanya ditandai dengan berbagai kegiatan gala amal, lari atau jalan kaki gembira, dan berbagai acara penggalangan dana. Namun, pada tahun 2020 ini semua senyap dan lenyap dilibas pandemi COVID-19.

“Dampak pandemi ini tak dapat disangkal ikut menyengsarakan organisasi-organisasi kemanusiaan yang selama ini giat mencari dana untuk memerangi kanker payudara dan penyakit-penyakit serius lain, terutama untuk membantu pasien-pasien dari kelas akar rumput. Bahkan organisasi-organisasi besar sekalipun tidak kebal. Seluruh komunitas ikut terpukul keras dan menderita,” kata Michael Nathanson, Ketua dan CEO  The Colony Group, sebuah firma wealth management di Amerika Serikat (AS).

Nathanson, seorang penyintas tumor otak,  memahami benar misi dan cara kerja organisasi nirlaba, karena ia sendiri ikut terjun ke dunia itu, bahkan pernah menjadi ketua National Brain Tumor Society di AS.

Tidak hanya acara-acara penggalangan dana yang terpaksa dibatalkan atau ditunda sampai entah kapan, donasi dari berbagai perusahaan pun menurun drastis, karena banyak perusahaan kini lebih mengambil posisi bertahan, termasuk perusahaan-perusahaan besar yang selama ini dikenal sangat murah hati dalam berdonasi. “Rasanya seperti semua donatur menutup pintu mereka,” ujar  Sarah Nathan, associate director Lilly Family Scholl of Philanthropy, sebuah fundraising school di AS.

Bahkan Susan G. Komen, salah satu organisasi nirlaba kanker payudara terbesar, terkaya, dan paling terkenal di AS, tak urung terkena imbas pandemi ini. 

Tak lama setelah pandemi melanda, organisasi ini terpaksa menggabungkan 60 cabangnya menjadi satu saja. Akibatnya, 23% staf terpaksa dikurangi untuk menghemat dana operasional. Yang tersisa adalah pegawai-pegawai yang hanya bekerja secara virtual. 

“Kami terpaksa memangkas karyawan dan biaya operasional secara dramatis, dan hanya memfokuskan diri untuk hal-hal yang paling penting, seperti riset dan pusat pelayanan pasien,” CEO Komen, Paula Schneider, mengakui.

Komen juga menjadwal ulang sejumlah acara jalan kaki gembira untuk musim semi, musim panas, dan musim gugur, serta menggantinya secara virtual, yaitu jalan kaki di seputar rumah sejauh 60 mil selama 3 hari. 

Namun yang paling terancam, menurut Nathanson, adalah organisasi-organisasi nirlaba yang kecil-kecil, terutama yang bergerak di tengah masyarakat grassroot. Banyak di antaranya mulai berhenti beroperasi sama sekali. “Kegiatan mereka sangat bergantung pada dana yang terkumpul dari berbagai acara amal dan dari para donator. Mereka juga sepi dari pemberitaan pers,” kata Nathanson.

Padahal, organisasi-organisasi kecil ini perannya sangat penting, karena melayani dan bersentuhan langsung dengan pasien dan komunitas lokal.

Menurut Kenneth McKenna, presiden dan pendiri Minette’s Angels, penggalangan dana komunitas merupakan tulang punggung kegiatan organisasi lokalnya yang berbasis di  Verona, New Jersey, AS. “Kini kami sedang mencari orang-orang dan pihak-pihak yang sungguh-sungguh mau berjuang bersama kami, secara emosional maupun finansial,” kata McKenna. Untunglah seluruh staf Minette’s Angel adalah para relawan, sehingga ia tak harus pusing memikirkan gaji mereka.

McKenna mendirikan Minette’s Angels pada tahun 2004, setahun setelah istrinya, Minette McKenna, meninggal dunia karena kanker payudara. Organisasi ini memberi bantuan bagi pasien-pasien lokal yang sedang berobat,mulai dari makanan, sembako, dan kartu ucapan pembangkit semangat hidup. Juga memberi jaminan untuk pemeriksaan mammogram di rumah sakit-rumah sakit sekitar, serta memberi beasiswa bagi siswa sekolah lokal.  

Namun setelah pandemi COVID-19 meledak, Minette’s Angels tak bisa lagi menyelenggarakan satu pun acara penggalangan dana. Baru pada awal musim gugur ini Minette’s Angels berhasil mengorganisir acara jalan gembira yang diikuti oleh 900 peserta.

Komen dan Minette’s Angels hanyalah dua dari ribuan organisasi non-profit yang melayani pasien penyakit-penyakit serius di seluruh dunia, yang kini terpaksa tiarap untuk sementara, bahkan gulung tikar akibat pandemi COVID-19. Padahal jutaan pasien tetap membutuhkan bantuan mereka.

“Kami mengantisipasi terjadinya lonjakan pasien kanker payudara yang membutuhkan bantuan organisasi-organisasi non-profit, dan kami sangat sedih karenanya karena tidak bisa lagi banyak membantu,” kata Sarah Nathan, prihatin. 

Menurut survei yang dilakukan Lilly Family School of Philanthropy, hanya dalam waktu beberapa bulan saja setelah meledaknya COVID-19, terjadi penurunan jumlah donasi hingga 50%. 

Agar organisasi-organisasi filantropi tersebut bisa bertahan hidup di tengah pandemi, Sarah menyarankan agar mereka mengerahkan kreativitas semaksimal mungkin untuk mencari dana dengan memanfaatkan teknologi, terutama IT. Misalnya mengadakan acara wine tasting virtual dengan mengirimkan langsung wine yang akan dicicipi kepada peserta sehingga semua bisa mencicipi wine bersama-sama di acara tersebut. Pokoknya, acara amal haruslah dibuat semenarik dan sekreatif mungkin agar bisa menjaring sebanyak-banyaknya peserta, meskipun dilakukan secara virtual. 

Karena, bagaimanapun, kondisi prihatin ini sepertinya masih akan berlangsung lama, apalagi dengan menyusulnya resesi ekonomi dunia.

Menurut analisis yang dilakukan Candid, organisasi yang khusus memantau kegiatan dan keuangan organisasi-organisasi nirlaba, diperkirakan sekitar 28% organisasi non-profit di seluruh dunia akan terpaksa gulung tikar menyusul resesi ekonomi dunia.

Adapun dampaknya bagi masyarakat, dalam hal ini para pasien penyakit berat yang selama ini banyak menggantungkan harapan pada bantuan dari organisasi-organisasi nirlaba, memang belum dilakukan survei khusus. Namun, sebisanya jangan sampai membiarkan mereka dikorbankan. 

“Sekalipun pandemi COVID-19 belum bisa diprediksi kapan akan berakhir, kita harus mencari cara yang lebih cepat untuk membantu komunitas-komunitas nirlaba agar tetap bisa survive dan tetap memberi pelayanan bagi masyarakat yang sangat membutuhkan. Jangan biarkan masyarakat menjadi korban,” ujar Nathanson, penuh tekad.

Sumber:

https://www.cnbc.com/2020/10/08/the-coronavirus-pandemic-could-devastate-breast-cancer-nonprofits.html?utm_source=Iterable&utm_medium=email&utm_campaign=campaign_1599409_nl_Philanthropy-Today_date_20201009&cid=pt&source=ams&sourceId=4852907