covid19filantropi.id

COVID-19 Memaksa Filantropi untuk Menumbuhkan Kepercayaan*)

Tahun ini merupakan tahun penuh guncangan dan tantangan bagi filantropi. Namun pandemi COVID-19 juga secara tidak langsung membawa “berkah” bagi filantropi karena memaksa perubahan penting bagi donor dan juga mitranya. Organisasi pemberi dana (grantmaker) di seluruh dunia ramai-ramai mengikrarkan komitmen mereka untuk memberi tanpa ikatan. Namun itu saja ternyata tidak cukup.

Sejak awal pandemi, sudah 729 lembaga filantropi dari Amerika Serikat dan negara lainnya menandatangani janji bersama yaitu Council of Foundations COVID-19 Call to Action. Isinya kurang lebih menyatakan bahwa para pemberi hibah ini akan lebih fleksibel dalam pendanaannya serta akan memberikan lebih banyak dana tidak terikat (unrestricted giving) ke depannya. Tentu hal ini menjadi langkah yang baik bagi sektor filantropi demi memastikan dana bantuan yang diberikan lebih tepat sasaran dan tepat guna.

Namun banyak yang berpendapat langkah tersebut hanyalah langkah awal untuk sesuatu yang lebih transformatif bagi filantropi. Pemberi dan pengelola dana harus memastikan bahwa kelompok masyarakat yang terkena dampak COVID-19 menerima bantuan yang tepat, dan yang lebih penting lagi, mengatasi masalah ketidakadilan secara sistemik, dinamika kekuasaan dan kontradiksi.

Untuk melakukan hal tersebut, di AS muncul gerakan bernama filantropi berbasis kepercayaan atau trust-based philanthropy. Pia Infante, Co-Executive Director dari Whitman Institute menggambarkan konsep ini sebagai “pendekatan dinamis dalam memberi yang didasarkan pada pertanyaan tentang kepada siapa kita bertanggung jawab dan siapa yang kita dengarkan.” Rasa percaya penting untuk dibangun antara (calon) donor dan penerima manfaat atau mitranya sehingga ada keseimbangan kekuatan. Untuk memberikan “kuasa” yang lebih besar bagi mitranya, donor harus memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap organisasi atau komunitas tersebut. Hal inilah yang harus dipupuk dan ditumbuhkan jika filantropi ingin memberikan kekuatan yang seimbang antara yang kaya akan sumber daya dan yang tidak.

Inisiatif bernama The Trust-Based Philanthropy Project kemudian mengeluarkan panduan bagi pemberi hibah yang berisi enam prinsip kunci yang dapat diterapkan:

  • Memberikan pendanaan multi-tahun yang tidak terikat

Pendanaan yang tidak terikat dalam waktu yang panjang menjadi penting untuk menciptakan organisasi yang sehat, adaptif, dan efektif.

  • Lakukan Pekerjaan Rumah [sebagai donor]

Merupakan tanggung jawab penyandang dana untuk mencari tahu tentang calon penerima hibah, bukan sebaliknya.

  • Penyederhanaan dan Perampingan Dokumen

Banyak staf organisasi nirlaba yang menghabiskan waktu untuk dokumen yang diberikan oleh pemberi dana; waktu mereka akan lebih efektif jika dibebaskan dari tugas-tugas penulisan hingga dapat berkonsentrasi pada misi program.

  • Transparansi dan Responsif

Komunikasi yang terbuka, jujur, dan transparan dapat meminimalisasi ketidakseimbangan kekuatan dan menghasilkan kemajuan.

  • Meminta dan Menindaklanjut setiap Umpan Balik

Penerima hibah dapat memberikan perspektif berharga yang juga berguna sebagai masukan bagi dukungan dan layanan penyandang dana ke depannya.

  • Tawarkan Dukungan Non-material

Dukungan yang responsif, adaptif, non-moneter dapat membantu membina organisasi yang lebih sehat dengan memperkuat kepemimpinan dan kapasitas mereka.

Kutipan dari Galina Angarova, Direktur Eksekutif dari Cultural Survival merangkum pentingnya kepercayaan tinggi bagi filantropi: “Memiliki kepercayaan pada komunitas dan organisasi yang Anda danai sangat penting untuk menjembatani kesenjangan antara penyandang dana dan [organisasi] nirlaba. Kepercayaan bukan hanya satu konsep; melainkan sekumpulan konsep yang memungkinkan seseorang merasa aman dan rentan terhadap seseorang, menepati janji Anda, setia, menjaga integritas dan kebijaksanaan. Mengenal mitra filantropi dan penerima hibah secara pribadi selalu menjadi cara terkuat dan paling dapat diandalkan untuk membangun kepercayaan dan merupakan investasi untuk memenuhi visi Anda bersama.”

Pandemi COVID-19 tidak serta merta mengalihkan pemberi dana filantropi di Asia termasuk Indonesia ke pendekatan yang lebih berbasis kepercayaan atau lebih fleksibel. Namun hal ini harus menjadi perhatian penting bersama lintas sektor. Tanpa rasa saling percaya tersebut, filantropi akan terus terbentur masalah yang sama dan krisis seperti COVID-19 hanya akan memperdalam jurang tersebut.

*) Dirangkum dari tulisan Nicky Wilkinson, Executive Director, Firetree Philanthropy berjudul “Some Reflections from a ‘Trust-based Funder’ in Asia: and an invitation to connect

Sumber:

https://members.wingsweb.org/news/27543

https://trustbasedphilanthropy.org/