covid19filantropi.id

Dana Solidaritas WHO untuk COVID-19 Capai 250 juta Dollar

Menyadari pentingnya peran dari sektor swasta, filantropi dan donator individu untuk berkontribusi dalam penanganan pandemi COVID-19, WHO (World Health Organization) meluncurkan COVID-19 Solidarity Response Fund pada 13 Maret 2020. Sejak itu, ada 662,000 donor yang menyumbangkan dana dengan jumlah total USD 242,729,957 atau setara 35 triliun rupiah. Solidarity Response Fund ini menjadi sumber dana yang sangat penting bagi WHO.

Dana tersebut telah digunakan untuk menyediakan alat pelindung diri (APD) bagi jutaan tenaga kesehatan maupun pekerja di garis depan, persediaan medis, dan alat tes COVID; untuk menyaring informasi yang salah (hoax) dan infodemik (penyebaran secara cepat dan luas tentang informasi mengenai satu penyakit yang bisa jadi akurat maupun tidak); mendukung populasi yang rentan seperti pengungsi dan orang terlantar; dan membantu mempercepat penelitian tentang vaksin, tes, dan perawatan.

Sifat Solidarity Response Fund COVID-19 ini adalah katalitik dan cepat, mengingat kebutuhan pandemi global yang dapat berubah dengan cepat. Hal ini memungkinkan WHO untuk menstimulasi lini kerja baru dan mengoptimalkan kecepatan respons. Ketika dana yang dialokasikan atau terikat waktu telah diterima WHO, terutama dari Negara-negara Anggotanya, dana tsb dapat segera digunakan kembali untuk kebutuhan baru yang mendesak. Seperti dilaporkan di situs utama https://covid19responsefund.org/en sebagian besar dana sebesar USD 169 juta digunakan untuk pengadaan dan mendistribusikan komoditas penting dan mengkoordinasikan respons bersama secara global.

“Saya dengan tulus berterima kasih kepada setiap individu, perusahaan dan organisasi atas sumbangan mereka untuk Solidarity Response Fund,” kata Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO. “Kemurahan hati Anda telah membuat perbedaan. Pada peringatan satu tahun dana tersebut, kami telah melihat apa yang dapat kami capai bersama saat dibutuhkan”.

Selain WHO, penerima dana bantuan ini adalah lembaga kemanusiaan internasional yang juga beroperasi di bawah PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa), seperti CEPI (Coalition for Epidemic Preparedness Innovation) yang fokus pada vaksin, UNHCR yang fokus pada pengungsi, UNICEF yang fokus pada akses air, sanitasi dan kesehatan keluarga rentan COVID-19, WFP (World Food Programme) yang fokus pada logistik, UNRWA yang fokus pada pengungsi di Gaza, Lebanon, Siria, dan WOSM (World Organization of the Scout Movement) yang fokus pada anak muda.

Namun perjuangan melawan COVID-19 masih jauh dari selesai dan pada 16 Maret 2021, WHO mengumumkan call for action untuk fase baru di mana dana yang dibutuhkan di 2021 adalah USD 1,96 triliun. Kontribusi dana ini akan mendukung upaya WHO dan mitranya untuk terus menekan penularan, mengurangi pemaparan, melawan informasi yang salah, melindungi yang rentan, mengurangi mortalitas dan morbiditas, serta mempercepat akses ke alat tes COVID-19 baru – termasuk melalui WHO bekerja sama dengan ACT-Accelerator, untuk meningkatkan vaksinasi secara global, terutama untuk negara-negara yang paling rentan, dan memastikan pengiriman pasokan esensial.

WHO pun mempublikasikan COVID-19 Strategic Preparedness and Response Plan (SPRP), beserta pedomannya, pada Februari 2021. Dokumen tersebut memberi panduan tindakan terkoordinasi yang harus diambil WHO di tingkat nasional, regional, dan global untuk mengatasi tantangan yang sedang berlangsung dalam menanggapi COVID-19, mengatasi ketidakadilan, dan merencanakan jalan di luar pandemi.

Sumber:

https://covid19responsefund.org/en

https://www.news-medical.net/news/20210316/WHOe28099s-COVID-19-Solidarity-Response-Fund-appeals-for-continued-support.aspx

https://s3.amazonaws.com/media.unfoundation.org/2021/01/covid-19-solidarity-response-fund-impact-report-oct-dec.pdf

Photo Credit: World Food Programme