covid19filantropi.id

DGI2020, Riset Baru Sektor Sosial Saat Pandemi COVID-19

Setelah COVID-19, sektor publik, swasta, dan sosial harus bersatu bekerja menuju Asia yang lebih kuat dan adil. Itu riset terbaru dari CAPS, Index Doing Good 2020 yang baru dirilis pertengahan Juni ini.

Riset yang dilakukan pada masa pandemi COVID-19 ini menunjukkan bagaimana “Asia untuk Asia” filanthropy dapat memaksimalkan kontribusi sektor sosial.

Centre for Asian Philantropy and Society (CAPS), merilis edisi kedua dari Indeks Doing Good 2020 (DGI2020) pada pertengahan Juni 2020. Studi ini mengungkapkan peran vital sektor sosial, dan bagaimana negara-negara Asia membantu atau menghambatnya.

DGI2020 menunjukkan tidak hanya pemerintah yang harus berperan banyak, tetapi bahwa swasta atau perusahaan harus berperan juga dalam memenuhi kebutuhan masyarakat.

“Saat ini, dengan masalah yang terjadi akibat pandemi COVID-19 dan dampak ekonominya – yang telah menghantam masyarakat paling rentan – kami harus membangun kembali masyarakat yang terdampak,” kata Ketua CAPS Ronnie Chan.

Chan juga menyebutkan bahwa CAPS’ Doing Good Index memberikan strategi untuk membantu sektor sosial dalam memainkan peran lebih efektif dalam membina masa depan yang lebih baik untuk seluruh Asia.

Diungkapkan bahwa, setelah mewabahnya COVID-19, pemberian amal difokuskan pada respons masyarakat setempat. Dukungan internasional menurun dan filantropi “Asia untuk Asia” harus mengisi kekosongan tersebut.

Jika orang Asia menyumbangkan 2% dari produk domestik bruto mereka, US punya $ 587 miliar.  Ini mewakili 12 kali aliran bantuan asing bersih ke Asia dan hampir 40% dari tambahan US $ 1,5 triliun yang harus dihabiskan Asia Pasifik setiap tahun untuk memenuhi United Nations 2030 Sustainable Development Goals.

Indeks ini telah meningkatkan cakupannya dari 15 pada indeks 2018 menjadi total 18. Yaitu Bangladesh, Kamboja, Cina, Hong Kong, India, Indonesia, Jepang, Korea, Malaysia, Myanmar, Nepal, Pakistan, Filipina, Singapura, Sri Lanka, Taiwan, Thailand dan Vietnam. Ini didasarkan pada data asli yang dikumpulkan melalui survei terhadap lebih dari 2.000 organisasi pembangunan berkelanjutan dan mewawancarai 145 pakar negara di 18 negara tadi.

“Asia telah mengumpulkan sepertiga dari kekayaan dunia, tetapi masih memiliki dua pertiga dari orang miskin di dunia,” kata Dr Ruth Shapiro, Pendiri dan Kepala Eksekutif CAPS. “Sekarang ada peluang unik untuk menggunakan kekayaan yang baru dibuat ini, untuk mengurangi kemiskinan, melindungi lingkungan, dan meningkatkan ketahanan masyarakat.”

Beberapa tren luas yang diidentifikasi oleh laporan di seluruh kawasan tersebut. Termasuk tindakan pemerintah membuat perbedaan yang signifikan, baik untuk kebijakan publik maupun menandakan bahwa masalah Asian social development organizations (SDO) itu penting.

Saat ini, pemerintah di Asia sedang cemas, karena mereka menghadapi situasi ekonomi  yang meningkat dan pendapatan yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan sosial, kata laporan itu.

Juga ditemukan bahwa walaupun kebijakan pajak dan fiskal merupakan insentif utama untuk pemberian amal, kurangnya kejelasan telah mengurangi efektivitas alat kebijakan khusus ini. Yang menggembirakan, DGI2020 menemukan bahwa pemerintah semakin sering berkonsultasi dengan SDO tentang masalah kebijakan. Sekitar tiga perempat SDO Asia melaporkan terlibat dalam konsultasi kebijakan, naik dari setengahnya pada tahun 2018.

Laporan tersebut juga menemukan bahwa tanggung jawab sosial perusahaan dan kemitraan publik-swasta mendapatkan daya tarik di ranah ini, mungkin sebagai tanggapan terhadap masalah kompleks saat ini, yang membutuhkan kolaborasi lintas sektor.

Setelah COVID-19, sektor publik, swasta, dan sosial harus bersatu untuk bekerja menuju Asia yang lebih kuat dan adil untuk membangun jalan keluar dari krisis ini.

Sumber:

https://givingcompass.org/article/2020-doing-good-index-philanthropy-in-asia/

Photo source: givingcompass.org