covid19filantropi.id

Dukungan Filantropi untuk Pendanaan Riset COVID-19: Belajar dari Cina

Pandemi COVID-19 yang terjadi di awal tahun 2020 membawa dampak besar pada praktik filantropi oleh para filantropis maupun yayasan perusahaan di Cina yang mendukung riset dan pengembangan vaksin yang dilakukan oleh universitas dan pusat studi.

Dilansir dari sebuah laporan berjudul ‘Pandemic Philanthropy: Exploring Chinese Donors’ Embrace of COVID-19 R&D Funding’, disebutkan bahwa 279 juta USD sudah disumbangkan untuk riset dan pengembangan (Research and Development/R&D) di Cina selama paruh pertama tahun 2020 setelah lockdown diterapkan di Wuhan pada 23 Januari 2020. Dibandingkan dengan donasi masker, Alat Pelindung Diri untuk tenaga kesehatan (termasuk ventilator) yang cenderung diketahui publik, kontribusi pada riset dan pengembangan justru tidak banyak diketahui.

Gelombang donasi untuk riset dan pengembangan di bidang kesehatan sejak munculnya virus COVID-19 ini menunjukkan fenomena baru dalam perkembangan sektor filantropi di Cina. Untuk pertama kalinya, para bilioner, perusahaan, dan yayasan di Cina mengalihkan kegiatan amalnya untuk kegiatan saintifik yang bernilai investasi pada sektor kesehatan publik.

Sebelumnya, donasi untuk universitas di Cina oleh donor dari Cina sangat jarang terjadi. High Net Worth Individual (HNWI) di Cina lebih banyak berdonasi ke luar negeri. Misalnya, tahun 2016, Chen Tianqiao, seorang bilioner Cina, menyumbang 115 juta USD ke California Institute of Technology untuk riset terkait neuroscience. Donasi ini memicu banyak kritikan karena justru tidak diarahkan untuk menyumbang ke negaranya sendiri.

Laporan yang disusun oleh Bridge Consulting’s Beijing Office ini mengidentifikasi ada 14 donasi sampai pertengahan Mei 2020 dari korporasi, individu, dan akademisi, termasuk komunitas alumni dan yayasan yang berasal dari top research universities, seperti Zhejiang University dan Tsinghua University. Beberapa pendanaan juga tercatat langsung diarahkan ke Chinese Academy of Sciences yang mengelola banyak laboratorium dan Chinese Academy of Engineering.

Tercatat, yayasan perusahaan teknologi Cina, seperti Jack Ma Foundation berdonasi antara 2 juta USD sampai 3 juta USD untuk riset pengembangan obat bersama Columbia University (Amerika Serikat) dan pengembangan vaksin bersama Peter Doherty Institute for Infection and Immunity di University of Melbourne (Australia).

Real estate developer, Evergrande Group, berdonasi lebih dari 115 juta USD ke Harvard University dan Guangzhou Institute of Respiratory Disease di Guangzhou Medical University.

Donor lainnya, termasuk Baidu, nilai donasinya mencapai 42 juta USD untuk riset dan 1,41 juta USD dari Yang Yuanqing, CEO dari Lenovo, ke University of Science and Technology of China. Selain itu, ada juga kontribusi personal dari Zhang Yiming, founder ByteDance, yang menaungi aplikasi TikTok, untuk institusi yang mengembangkan obat.

Dari semua donasi yang tercatat, secara keseluruhan, dapat dilihat bahwa pendidikan masih menjadi isu yang paling banyak mendapat perhatian dari para donor. Terhitung, sebanyak 35% pendanaan filantropi tahun 2019, mengalir untuk universitas/perguruan tinggi di mana para donor tersebut pernah menempuh pendidikan.

Besarnya donasi yang terkumpul juga menunjukkan fakta bawah perusahaan besar menyimpan potensi untuk mendukung program prioritas pemerintah. Dalam kasus COVID-19, nampak bahwa pendanaan yang masuk digunakan untuk meningkatkan kapasitas Cina dalam pengembangan vaksin, penanganan pandemi, serta pendanaan virologi dan epidemiologi. Walaupun demikian, sampai saat ini masih belum jelas apakah donor berencana untuk berkomitmen jangka panjang pada pendanaan riset dan pengembangan yang dilakukan oleh universitas.

Sumber:

https://www.universityworldnews.com/post.php?story=20210113092455389

Photo credit: cnsphoto via Reuters