covid19filantropi.id

Filantropi dan COVID-19 Saatnya Fokus ke Afrika

Bila Anda hanya membayangkan kemiskinan setiap kali disebut kata Afrika, Anda salah. Enam dari 10 negara yang ekonominya berkembang paling pesat di dunia ada di Afrika. Karena itu, sangat penting mencegah semakin meluasnya penyebaran COVID-19 di Afrika.

Pandemi COVID-19 telah berhasil melemahkan Amerika Serikat dan Eropa, bahkan  hingga saat ini belum ada tanda-tanda akan segera berakhir. Namun, yang juga tak kalah penting adalah memikirkan nasib negara-negara berkembang dan miskin, khususnya di Afrika. Bila pandemi ini melemahkan mereka, akibatnya akan jauh lebih fatal. Dan di sinilah dunia filantropi bisa banyak berperan.

Mengapa Afrika?

Nina Blackwell, Executive Director Firelight, sebuah charity fund multi-donor yang membantu organisasi-organisasi berbasis komunitas di Afrika bagian timur dan selatan, dalam tulisannya yang berjudul With a Catastrophe Looming for Africa, Funders Need to Focus on Community-based Responses, mencoba  menjelaskan mengapa   filantropis sebaiknya kini memfokuskan donasinya ke Afrika.  

 Enam dari 10 negara yang ekonominya berkembang paling pesat di dunia berada di Afrika. Dan satu dari tiga penduduk Afrika kini sudah bisa dikategorikan sebagai ‘kelas menengah’. Afrika juga memiliki penduduk yang beragam secara etnis, penuh semangat, cerdas, progresif, pemikir, dan berbakat jadi pemimpin. 

Namun di banyak negara di Afrika, masih langka pemerintah yang peduli akan sistem pelayanan kesehatan, kurangnya SDM di sektor kesehatan masyarakat, dan terbatasnya akses untuk mendapatkannya. 

Banyak negara di Afrika saat ini juga memiliki beban kesehatan, seperti masih banyaknya kasus tuberkulosis, malaria, kolera, dan sebagainya. Benua ini juga masih bergelut dengan masalah perbedaan (suku, agama, ideologi politik, dan lain-lain) yang tak jarang berakhir dengan konflik kekerasan, sedangkan jumlah penduduk di kota-kota terus membengkak, sementara desa-desa kian terpencil dan sulit dijangkau. Dan seperti juga angka pasien HIV/AIDS yang tetap tinggi, kini Afrika juga harus menghadapi pandemi COVID-19, sehingga kesehatan dan kesejahteraan penduduk Afrika kian terancam.  

Memperkuat organisasi berbasis komunitas untuk hadapi COVID-19

Komunitas-komunitas di Afrika telah berulang kali menunjukkan kemampuan mereka sebagai  unsur yang paling penting dalam  masyarakat. Dalam menghadapi berbagai tantangan berat, mulai dari kelaparan, kekeringan, banjir, hingga pandemi, komunitas Afrika telah menunjukkan ketangguhan yang luar biasa. Namun, sering kali komunitas-komunitas di Afrika terlalu kecil, terlalu lokal, dan kurang dewasa. Mereka menjadi kewalahan saat harus berhadapan dengan kebutuhan-kebutuhan multidimensional akibat pandemi COVID-19.  

Komunitas dan keluarga kerap menjadi satu-satunya jaring pengaman sosial mereka, khususnya di wilayah-wilayah yang kurang mendapatkan perhatian pemerintah. Oleh karena itu memperkuat organisasi-organisasi nirlaba berbasis komunitas tak pelak lagi harus segera dilakukan, khususnya dalam menghadapi pandemi COVID-19. 

Organisasi berbasis komunitas harus menjadi garda terdepan, bukan hanya karena mereka bisa berperan sebagai kepanjangan tangan pemerintah sebagai penyuluh kesehatan (banyak di antaranya sudah mendapatkan briefing dan otoritas dari pemerintah), juga karena mereka bisa menyampaikan pesan-pesan menyangkut protokol kesehatan secara lebih baik kepada masyarakat. 

Dan karena merupakan bagian dari masyarakat, mereka juga bisa lebih mudah mengidentifikasi keluarga-keluarga yang sangat membutuhkan bantuan, hingga membantu anak-anak yang orang tuanya positif COVID-19 dan harus menjalani karantina. 

Organisasi berbasis komunitas juga dapat berperan sebagai komunikator autentik saat sangat diperlukan. Stigma, gosip, hoax, dan klenik sering dikaitkan dengan pandemi ini. Organisasi berbasis komunitas dapat membantu meng-counter hal-hal tersebut agar masyarakat tidak mudah panik dan mau mengikuti protokol kesehatan.

Organisasi berbasis komunitas juga menjadi garda terdepan penyembuhan, karena bisa menjadi jembatan komunikasi tentang bagaimana menjaga kesehatan dan nutrisi, mengapa harus diisolasi/mengisolasi diri sementara ketika tertular, dan sebagainya.

Organisasi berbasis komunitas juga mengizinkan setiap keluarga tetap tinggal bersama selama pandemi. Ketika terjadi epidemi HIV/AIDS di Afrika, banyak anak-anak terpaksa berpisah atau dipisah tempat tinggal dari orang tua mereka yang positif HIV/AIDS, sehingga terpaksa tinggal di panti asuhan. Organisasi berbasis komunitas justru membantu agar keluarga tetap tinggal   bersama, terutama demi kesehatan mental ansk-anak mereka.

Apa saja yang bisa dibantu?

Bila Anda ingin membantu penanganan pandemi COVID-19 di Afrika, pertimbangkan untuk membantu organisasi-orgsnisasi yang bergerak di tengah lingkungan yang belum atau sedikit bersentuhan dengan orang-orang dari negara-negara lain yang masih sibuk berkutat dengan pandemi COVID-19. Lebih baik membantu komunitas yang belum banyak terpapar pandemi agar bisa dilakukan pencegahan sedini mungkin.

Hindari pula membantu organisasi dari luat komunitas yang mengadakan pendekatan yang bertentangan atau bersaing dengan kemampuan organisasi komunitas lokal. Bukannya membantu, Anda hanya ikut mengacaukan program-program yang sudah berjalan, bahkan dapat memecah belah komunitas yang sudah solid. Hal ini mencakup bantuan untuk pendidikan, perempuan, remaja, lapangan kerja, HAM, hak anak, perlindungan anak, dan sebagainya.

Bila Anda khawatir donasi Anda digunakan untuk hal lain selain memerangi COVID-19, jangan khawatir. Donasi Anda tidak bakal sia-sia, karena akan disalurkan untuk hal-hal yang tak kalah penting bagi komunitas Afrika, seperti pemberdayaan perempuan dan anak perempuan (yang masih sering dianggap sebagai beban setiap kali terjadi bencana); melindungi perempuan, anak-anak, LGBT, dan kaum dofabel dari ancaman kekerasan dalam keluarga dan komunitas; menyediakan tambahan nutrisi bagi komunitas miskin; mencegah praktik perkawinan anak di bawah umur (terutama anak perempuan) akibat kesulitan ekonomi; membantu menciptakan lapangan kerja bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi; dan lain sebagainya.

Bersikap fleksibel

Pandemi membuat banyak program terpaksa tertunda atau terlambat dijalankan akibat banyak hal, mulai dari pengetatan aturan (termasuk aturan imigrasi dan beacukai), karantina yang wajib dilakukan, dan banyak lagi, sehingga banyak program yang tidak bisa dieksekusi dengan cepat. Asalkan ada transparansi menyangkut penggunaan dana yang diberikan oleh para donatur, ada baiknya Anda bersikap fleksibel. Bukan hanya di Afrika, bahkan di negara-negara maju dan kaya pun kondisi saat ini sedang tidak normal. 

Terakhir, jangan menunda untuk berdonasi, karena donasi Anda sangat dibutuhkan untuk menghadapi pandemi COVID-19 di Afrika. Sekarang juga!

Sumber:

https://www.insidephilanthropy.com/home/2020/4/2/with-a-catastrophe-looming-for-africa-funders-need-to-focus-on-community-based-response

Photo credit: ANTON_IVANOV/SHUTTERSTOCK