covid19filantropi.id

Filantropi dan Edukasi Kesehatan Mental Saat Pandemi COVID-19

Memasuki penghujung tahun, masyarakat biasanya memanfaatkan waktu ini untuk berlibur bersama keluarga. Destinasi wisata dan penginapan di berbagai kota jauh-jauh hari dipesan sehingga ramai dipadati wisatawan. Bagi mereka, liburan akhir tahun menjadi momentum untuk melepas stress dan memberikan penyegaran setelah satu tahun bekerja. Namun saat pandemi terjadi, kondisi menjadi berbeda.

Saat kasus infeksi COVID-19 terus bertambah di seluruh penjuru Eropa, misalnya, etiket musim liburan dan meningkatnya krisis kesehatan mental menjadi dua isu penting. Hal ini disampaikan langsung oleh Hans Kluge, Direktur Regional Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk Eropa, dalam konferensi pers yang disampaikan beberapa waktu lalu (18/12). Dengan adanya 23 juta kasus infeksi dan lebih dari setengah juta kematian di Eropa akibat COVID-19 sepanjang tahun 2020, Hans Kluge meminta masyarakat di untuk tetap di rumah sebagai tindakan yang paling aman.

Selain itu, saat membahas dampak pandemi terhadap kondisi psikologis manusia saat ini, Hans Kluge mengatakan krisis kesehatan mental terus meningkat di kawasan Eropa. Jenisnya beragam, mulai dari kecemasan terkait penularan virus, dampak psikologis dari karantina wilayah dan isolasi mandiri, sampai efek dari menganggur, kekhawatiran perihal keuangan, dan eksklusi sosial. Dampak pandemi terhadap kesehatan mental bersifat jangka panjang dan sangat luas.

Sehingga untuk mengatasi hal tersebut, Hans Kluge merekomendasikan bantuan-bantuan sosial COVID-19 yang ditujukan untuk masyarakat dapat mencakup penanganan kesehatan mental. “Menyadari adanya krisis yang semakin parah, saya menghimbau adanya aksi kolektif untuk berinvestasi dalam pelayanan perawatan kesehatan mental yang lebih kuat, terutama layanan yang menyediakan perawatan bagi masyarakat atau memanfaatkan perawatan digital guna mengurangi hambatan dalam mendapatkan bantuan yang vital,” ujarnya. 

Edukasi Kesehatan Mental

Pada dasarnya, kesehatan adalah kebutuhan dasar setiap individu. Kesehatan tidak hanya mencakup fisik, tetapi juga soal jiwa (kesehatan mental). Kesehatan mental memegang peranan penting karena merupakan komponen penting untuk membentuk relasi sosial dan menjaga produktifitas dalam kehidupan sehari-hari.

Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Ahmad Dahlan, dr. Widea Rossi Desvita, Sp.KJ, dalam acara COVID-19 Talk di kanal Youtube TVMu, mengatakan bahwa saat pandemi COVID-19, isu tentang kesehatan mental naik daun di tengah masyarakat. Masyarakat mulai melek dan merasa butuh informasi tentang kesehatan mental. Sebagai gambaran, pada saat awal pandemi, orang-orang dilanda cemas, stress, depresi, bahkan gangguan jiwa berat. Lambat laun, beberapa orang sudah bisa tenang namun ada juga yang kambuh. Dari situlah, orang-orang mulai menyadari pentingnya pengetahuan kesehatan mental. Tidak hanya butuh tahu tentang definisi kesehatan mental, tapi juga bagaimana kalau menemukan orang yang menunjukkan gejala gangguan jiwa. Apa yang harus dilakukan?

Salah satu media edukasi tentang kesehatan mental yang muncul di tengah masyarakat saat pandemi adalah ‘Qualitytine’. ‘Qualitytine’ (Quality time in Quarantine) merupakan akun Instagram yang diinisiasi oleh Departemen Pengabdian Masyarakat BEM IKM FKUI dan Departemen Ilmu Kesehatan Jiwa FKUI RSCM yang menawarkan edukasi tentang kesehatan mental melalui acara webinar (diskusi daring) secara cuma-cuma. Setiap minggunya, hadir narasumber yang menjelaskan topik tertentu yang dapat diikuti oleh masyarakat umum.

Jika kita cermati lebih dalam, ‘Qualitytine’, tentu bukan menjadi inisiasi satu-satunya yang menawarkan edukasi kesehatan mental. Ada berbagai lembaga filantropi dan organisasi nirlaba yang memberikan bantuan untuk penanganan kesehatan mental di masyarakat saat pandemi, misal Lazis Muhammadiyah, Yayasan Pulih, Dompet Dhuafa, Rumah Zakat, dan sebagainya. Dengan banyaknya orang atau organisasi nirlaba yang membahas isu ini, menandakan akses informasi serta penanganan tentang kesehatan mental semakin terbuka.

Sumber:

https://tekno.tempo.co/read/1416039/who-soroti-liburan-dan-krisis-kesehatan-mental-akibat-covid-19

https://www.instagram.com/qualitytine/