covid19filantropi.id

Filantropi Seni Pascapandemi COVID-19, Harus Lebih Kreatif

Saat pandemi COVID-19 ini , sudah waktunya seniman kreatif mencari peluang. Selain membuat karya, harus pintar cari pundi-pundi lainnya. Bagaimana caranya?

Pandemi COVID-19 ini jangan jadi halangan bagi pekerja seni. Meski kehidupannya bergantung pada live performance 90 persen, pekerja seni harus pintar mencari pundi-pundi lainya. Perlakukan produk seni Anda sebagai bisnis.

Begitulah kira-kira disampaikan Dina Dellyana dari HMGNC, salah satu nara sumber di acara Filantropi Seni Pascapandemi yang digelar di Ruang Publik KBR.id, Rabu 8 Juli 2020 pukul 09.00-10.00 WIB.  

Selain Dellyana, ada tiga narasumber lainnya yang tampil lewat Zoom. Yaitu Pendiri Yayasan Kelola Amna Kusumo,  pendiri kolase.com Raden Maulana, dan Ratri Ninditya dari  Koalisi Seni yang juga penulis buku.

Dina juga menceritakan salah satu pengalamannya berproses kreatif bersama bandnya HMGNC. “Saat itu kami menjual merchandise untuk penggalangan dana. Hasilnya, selain bisa membantu teman, juga bisa menutup biaya operasional lainnya,” katanya sambail menyebutkan treat your band as a business.

Pendapat Dina ini juga didukung Amna Kusumo. Seniman, katanya harus kreatif mencari peluang.  Memang tidak mudah. Karena fokus seniman ada pada karya kreatifnya. Karena itu, Amna menyebutkan bahwa seniman itu butuh manajer. Yaitu, sosok yang mendukung seniman atau  sebuah karya, sehingga bisa disampaikan pada masyarakat dan didukung perusahaan (pendonor). “Jadi harus dibentuk ekosistem seperti itu, sehingga pekerja seni akan eksis lebih baik lagi,” katanya. 

Sektor seni, sampai saat ini sepertinya memang kurang banyak perhatian dari para pegiat filantropi. Survei PIRAC 2007, misalnya menyebutkan hanya 3 persen responden yang menyumbang sektor seni. Padahal, orang Indonesia gemar menyumbang.

Padahal lagi, seperti disebutkan pembawa acara di Ruang Publik KBR.id Inez Nirmala, bahwa seni terbukti bisa memberi dampak positif bagi masyarakat. Selama masa pandemi COVID-19 ini, misalnya, kita sendiri lebih sering mengisi waktu dengan hal-hal yang menghibur. Seperti nonton konser dari rumah, mendengar lagu, dan lain sebagainya.

Seni juga bisa menyembuhkan trauma dan jadi bagian penting dari gerakan melawan ketidakadilan serta memberi suara bagi yang terpinggirkan. Seni juga memberi dampak ekonomi bagi pelakunya.  Sehingga filantropi seni sangat diperlukan untuk seni.

Amna berkisah, bahwa sejak Yayasan Kelola didirikan pada 1999, dukungan untuk seni masih sedikit. Ada juga perusahaan besar, tapi, kata Amna, perusahaan besar menjadikan seni sebagai usaha pemasarannya, “Jadi seniman yangg terkenal saja yang didukung perusahaan tersebut.  Lalu bagaimana seniman muda yang punya potensi bisa tumbuh?” tambahnya. 

Filantropi seni sendiri menurut Amna dari bahasa Yunani, artinya kasih akan sesama manusia yang mendorong manusia membantu sesama dan juga meningkatkan kesejahteraan bagi kegiatan yang dekat di hatinya, seperti seni.  Bagaimana membantunya? Salah satunya, kata Amna, memberi dukungan atau sumbangan yang berdampak positif bagi masyarakat.

Mirisnya, diungkapkan juga bahwa sumbangan dana di Indonesia masih sangat lemah pada pegiat seni dan lingkungan. “Sampai saat ini pegiat lingkungan masih banyak didukung lembaga donor dari luar negeri, padahal indonesia sebenarnya sudah mampu,” katanya.

Yayasan Kelola, sendiri, misalnya, mencontohkan bantuannya pada sosok Ria Papermoon, beberapa tahun lalu, ketika usia Ria masih 20-an  (kini 38 tahun, red). Saat itu Ria mendapat hibah dari Yayasan Kelola. Kini Ria Papermoon sudah terkenal di dunia hiburan dengan teater bonekanya. “Jadi betapa pentinganya membantu,” ujar Amna.

Ratri Ninditya, dari Koalisi Seni, juga menyebutkan bahwa membantu itu tak hanya  berupa uang, dan jika uang pun tak harus jumlah besar. Dalam buku yang baru diterbitkannya, dipaparkan juga tentang perubahan-perubahan baru yang terjadi dalam membantu. “Kini, misalnya ada platform digital, patungan online. Rame-rame membantu dalam jumlah kecil untuk seorang seniman atau sebuah karya. Jadi karyanya bisa jadi dan bisa dibeli,” katanya. 

Ratri juga menceritakan bahawa aktifitas filantropi di dunia seni, terutama komunitas itu sangat tinggi.  “Misalnya, banyak banget komunitas seni di daerah yang menggunakan ruang pribadinya jadi dapur umum, mengumpulkan makanan di sanggarnya masing-masing, menyediakan ruang digital untuk berbagi karya atau diskusi, dan lain sebagainya,” katanya berkisah.

Lebih lanjut, disebutkan bahwa berkesenian dan berfilantropi itu bedanya tipis sekali. “Para pekerja seni itu sudah terbiasa melakukan kedermawanan karena jiwa solidaritasnya tinggi, tidak pamrih, hanya membantu saja. Urgensinya menghidupkan seninya tinggi banget, spontan saja tanpa berpikir,” katanya panjang lebar.

Masalahnya, saking kuatnya jiwa filantropi pada pegiat seni, mereka jadi lupa bahwa seniman itu perlu skema pendanaan yang lebih sistemik, lanjut Ratri

Pendanaan memang tak disangkal lagi sangat diperlukan dalam menghasilkan sebuah karya. Itu salah satu alasan pendiri kolase.com, Raden Maulana, membentuk crowfunding ini.  “Ketidakpercayaan pada pekerja seni kuat banget. ngapain jadi musisi? Itulah yang membuat saya mendirikan kolase. Jadi wadah dan membantu musisi indonesia untuk mewujudkan ide dan menjadikan mereka sesuatu,” katanya.

Dalam acara itu juga ada beberapa telepon yang masuk, menanyakan bagaimana nasib pekerja seni di daerah dan juga perlu kerjasama dengan pemerintah dalam penggalan dana untuk pekerja seni agar mereka yang di daerah bisa mendapatkan manfaatnya.

Seperti disebutkan Amna, bahwa harus dimulai dari daerah masing-masing. Penggalangan dana pun kini lebih mudah karena ada crowfunding seperi kolase.com. “KIni tak perlu lagi ke sana ke mari menjual gagasan. Saya percaya platform digital ini bisa menyelamatkan Indonesia. Karena kini orang bisa menjadi filantropis dengan biaya kecil. Tak perlu menjadi Open Society Foundation-nya George Soros, atau Ford Foundation. Anak muda dengan platform digital ini bisa menggalang dana untuk daerahnya,” lanjut Amna serius.

Raden menambahkan  bahwa yang penting lagi adalah, mengerti dan tahu seni apa yang menarik dan bisa dikembangkan di  masing-masing daerah, sehingga bisa dijadikan ide untuk dikembangkan lewat digitalisasi itu. “Kolase.com sendiri sudah bekerja sama dengan pemerintah,  tapi masih perlu booster untuk aktivitas seni di seluruh Indonesia,” katanya.

Kepedulian terhadap pekerja seni sepertinya memang perlu digaungkan lagi. Meski ada banyak kisah aksi ini di beberapa daerah. Seperti disebutkan Ratri di awal tulisan, bahwa jiwa kedermawaan para pekerja seni itu sangat tinggi. Bahkan terungkap juga cerita salah satu pekerja seni di daerah Sumba, mengirim hasil panen sawahnya untuk pekerja seni di Jakarta.  Pasti banyak kisah kedermawanan lainnya yang tak terekam.

Tapi, faktanya, kini banyak sanggar yang tutup, kata Ratri. Makanya potensi seni di daerah butuh dukungan agar tetap hidup. Koalisi Seni sendiri, terkait dukungan tersebut, akan mempersembahkan RUU (Ruang Usik Usik) pada 22 Juli 2020, lewat media podcast.

Seniman banyak mengumpulkan dana untuk para seniman yang tak bisa bekerja. Bukan cuma seniman yang tampil, tapi juga pekerja seni yang bekerja di belakang layar. Seperti pengatur tata cahaya, suara, background, dan lain sebagainya.  Mereka kini tak ada pekerjaan, meski pertunjukan kini masih ada, tapi pengatur tata cahaya kini sudah tak diperlukan lagi, karena semua menggunakan daring,” katanya.

Mungkin, kisah yang diceritakan Raden juga perlu menjadi perhatian. Selama pandemic COVID-19 ini. kolase.com, growth-nya naik, banyak submision seniman organik dari daerah. “Mereka bukan hanya bikin lagu dan musik, tapi bikin acara dan membantu produk UMKM. Jadi ada kolaborasinya,” katanya.

Pandemi COVID-19 ini sepertinya diam-diam memberikan ‘pelajaran berharga’ bagi pekerja seni. Seperti dikatakan Ratri, bahwa ada pekerjaan rumah, yaitu mengubah perspektif, bagaiman melihat karya seni juga sebagai bisnis. Karena selama ini seniman, tidak pernah memperhatikan karya seninya dihargai lewat uang, katanya. Kreativitas tak boleh ditawar lagi.

Dikutip dari Siaran Langsung Ruang Publik KBR.id dengan acara “Filantropi Seni Pascapandemi” pada 8 Juli 2020: