covid19filantropi.id

FoodCycle COVID-19: Konsisten Sebarkan Bantuan Pangan

FoodCycle Indonesia konsisten melanjutkan bantuan bagi kaum marjinal yang terdampak pandemi COVID-19 dan para pekerja medis garda terdepan.

Meski sudah berlangsung berbulan-bulan, wabah COVID-19 masih terus menyebar di Indonesia dan belum ada tanda-tanda akan berakhir. Namun demikian, meskipun Pemerintah sudah mengucurkan berbagai bantuan bagi masyarakat marjinal yang terdampak pandemi ini, FoodCycle Indonesia terus menggalang dana guna melanjutkan dua program yang telah dirintis sejak awal pandemi.

1. #JagaPangan Komunitas Marjinal dan Pekerja Informal  #NasiTelorCeplok  

Ini adalah inisiatif pengadaan bahan makanan untuk kaum marjinal dan pekerja informal, yaitu membagikan ribuan paket sembako yang terdiri dari beras, telur, dan minyak goreng #NasiTelorCeplok

Sejak April 2020 hingga saat ini, penyaluran bantuan telah berlangsung tiga gelombang, dan masih akan terus berlangsung.

FoodCycle menggandeng berbagai perkumpulan relawan untuk membantu menyalurkan bantuan, antara lain: Yayasan KDM, Yayasan Sahabat Anak, Yayasan Bethany Bina Kasih, Second Chance Initiative, Yayasan KIC, Yayasan Bina Kasih, dan Yayasan ICRP. Para relawan tersebut turut blusukan sampai ke dalam gang-gang sempit padat penduduk.

2.#JagaPangan Teman-teman Frontliners (Tim Medis) 

Inisiatif ini adalah pengadaan bantuan pangan dalam bentuk makanan siap makan, buah-buahan, serta air minum yang dikirimkan setiap hari pada jam makan siang dan makan malam bagi tim medis COVID-19 di berbagai Rumah Sakit/Puskesmas/Klinik di wilayah Jabodetabek, agar mereka jangan sampai terlambat makan.

Foodcycle COVID-19 adalah gerakan yang diinisasi oleh FoodCycle Indonesia atau Yayasan Daur Pangan Nusantara, dalam merespons munculnya pandemi COVID-19 berikut dampaknya di Indonesia. Untuk menjalankan kedua program ini, FoodCycle Indonesia membuka donasi bagi masyarakat yang ingin berperan serta membantu.

Berawal dari kegelisahan

FoodCycle sendiri adalah sebuah yayasan berbasis komunitas yang fokus kegiatannya adalah mengumpulkan dan menampung kelebihan makanan (tentunya yang masih layak makan)  dari pesta-pesta pernikahan atau berbagai acara lain di hotel-hotel dan gedung-gedung pertemuan, untuk kemudian dibagikan kepada anak-anak dari keluarga miskin dan anak-anak panti asuhan di wilayah Jabodetabek yang membutuhkan tambahan gizi.

Yayasan ini didirikan pada 24 November 2017 oleh  pasangan suami istri Herman Andryanto dan Astrid Paramita yang saat itu baru kembali ke tanah air setelah sebelumnya lama tinggal di Melbourne, Australia. Keduanya kemudian menyediakan diri menjadi jembatan antara orang-orang yang kelebihan makanan dengan mereka yang kekurangan makanan. 

Herman terusik melihat kesenjangan ekonomi dan sosial yang terpampang jelas di Jakarta. Di balik gedung-gedung perkantoran,hotel,  dan apartemen mewah, ternyata masih banyak orang yang harus bersusah payah bertahan hidup di Jakarta. “Kami lantas berpikir bagaimana kami bisa menjembatani kesenjangan ini,” kata Herman.

Sebuah video kiriman seorang teman memberi inspirasi bagi Herman dan Astrid. Video itu menayangkan sebuah gerakan mengumpulkan dan membagikan makanan sisa pesta pernikahan bernama ‘No Food Waste’ yang telah lebih dulu ada di India. No Food Waste dirintis oleh Padmanaban Gopalan pada 2015 di Coimbatore, kota terbesar kedua di Begara Bagian Tamil Nadu, India.

Kini No Food Waste telah menyebar ke sembilan kota lain di India, antara lain Chennai, Salem, Dharmapuri, dan Krishnagiri. Gerakan ini telah berhasil memberi makan hampir 900 ribu orang yang hidup kekurangan dan menyelamatkan sekitar 290 ton makanan. Selain No Food Waste, ada beberapa gerakan serupa di India, misalnya Feeding India yang digerakkan oleh Ankit Kawatra dan ratusan relawan.

“Mungkin ini dapat disebut God’s plan. Pesta pernikahan di Jakarta umumnya diselenggarakan cukup besar. Kelebihan makanannya pasti bisa dimanfaatkan. Saya lihat konsep ini bisa direplikasi di Indonesia,” kata Herman.

Ia menyadari bahwa makanan sisa (food waste) adalah sebuah “big issue” di Indonesia. Indonesia bahkan menduduki peringkat kedua di dunia dalam hal banyaknya makanan sisa yang mubazir tak termakan dan akhirnya terbuang sia-sia sebagai sampah.

Surplus makanan dari pesta-pesta pernikahan, pesta perusahaan, maupun prasmanan di hotel-hotel berkontribusi menciptakan sisa makanan sebanyak 300 kg per orang per tahun. 

Ironisnya, sebagian rakyat Indonesia justru harus bersusah payah mendapatkan makanan yang layak menurut kebutuhan nutrisi harian. Bahkan sebanyak 19.4 juta orang  Indonesia tercatat masih undernourished atau kekurangan gizi (Sumber: FAO.org – 2016).

FoodCycle Indonesia  membawa misi mempersempit kesenjangan angka kelaparan dan kekurangan gizi di kalangan masyarakat  miskin di Indonesia, dengan meredistribusikan kelebihan pangan dari kalangan berada, sekaligus mengatasi masalah sampah makanan atau food waste di Indonesia. 

Untuk itu, FoodCycle menerapkan tiga level pendekatan: 

1. Redistribusi (Re-distribute) – mengumpulkan kelebihan makanan yang belum tesentuh dan belum kedaluwarsa dari pesta-pesta lokal di hotel, gedung pertemuan, restoran cepat saji, dan lain-lain, untuk dibagikan kepada anak-anak dan keluarga miskin.  

2. Proses ulang (Re-Process) – mengumpulkan kelebihan hasil pertanian dari pertanian-pertanian dan distributor makanan yang belum kedaluwarsa untuk diolah ulang menjadi produk makanan berkualitas yang bisa dijual. 

3. Daur Ulang (Re-Cycle) – mengumpulkan produk makanan organik sisa dari pabrik makanan, mal, apartemen, perumahan, dan sebagainya untuk didaur-ulang menjadi makanan ternak atau pupuk tanaman. 

Foodcycle berpartner dengan berbagai pihak, antara lain: Bridestory, Repsol, Grab, Kitabisa.com, Nutrifood, The Global Food Banking Network, Holland Bakery, Takes Hotel Jakarta, dan masih banyak lagi. Di masa pandemi COVID-19, pesta-pesta dengan makanan berlimpah memang jauh berkurang —seiring dengan diberlakukannya social distancing. Namun demikian FoodCycle tidak kehilangan semangat untuk membantu sesama, yaitu dengan membentuk FoodCycle COVID-19.

Sumber:

https://www.foodcycle.id/

https://kitabisa.com/campaign/foodcyclecovid19/latest-news