covid19filantropi.id

GeNose: Alat pendeteksi COVID-19 karya anak bangsa yang siap mendunia

Indonesia terus mengupayakan berbagai strategi untuk mencegah penyebaran virus corona di masyarakat. Salah satu aktor pembangunan yang diandalkan untuk membantu pemerintah adalah kalangan akademisi dan peneliti dari universitas. Setelah melalui berbagai tes dan ujian, tim dari Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil menciptakan alat pendeteksi COVID-19 yang jika lulus uji klinis akan sangat membantu dalam salah satu proses 3T yaitu testing.

Alat tersebut diberi nama GeNose, singkatan dari Gadjah Mada Electronic Nose, dan merupakan hasil penelitian UGM yang didanai oleh Badan Intelijen Negara (BIN) dan Kemenristek. Alat ini diharapkan menjadi solusi permasalahan yang masih belum dipecahkan pemerintah yaitu tes secara masif. Selama ini masyarakat melakukan tes berdasarkan kesadaran sendiri jika merasa terpapar virus. Seperti yang kita tahu akan berbahaya jika orang tanpa gejala (OTG) tidak dites dan menyebarkan ke orang lain tanpa sepengetahuannya.

GeNose dapat mengidentifikasi COVID-19 dengan cara mendeteksi Volatile Organic Compound (VOC) yang keluar bersama napas manusia. Orang yang dites hanya perlu menghembuskan napas ke kantung khusus yang terpisah dari alat, kemudian dalam waktu 80 detik kecerdasan buatan akan memproses data melalui sensor. Hanya dalam waktu kurang dari 2 menit, alat ini dapat mendeteksi apakah seseorang positif atau negatif COVID-19.

Satu unit GeNose dapat menguji 120 orang per hari dengan estimasi per pemeriksaan 3 menit selama 6 jam. Ketua Tim Pengembang GeNose, Kuwat Triyatna, mengatakan biaya deteksi juga cukup terjangkau yaitu Rp 15-25ribu per orang. Selain itu penggunaannya lebih nyaman daripada metode usap atau swab yang kadang menyulitkan di kalangan anak-anak.

Cara kerja GeNose tergolong cepat, mudah dan murah sehingga mendapat dukungan penuh dari pemerintah. Desember 2020 lalu, tim UGM sudah mendapatkan Izin Edar Darurat (Emergency Use Authorization) dari Kementerian Kesehatan dan sudah memproduksi sebanyak 100 unit untuk batch pertama. Dengan begitu dalam 1 hari, 100 unit GeNose dapat mendeteksi 12.000 orang.

Jumlahnya juga diproyeksikan akan terus bertambah. Menristek Bambang Brodjonegoro mengatakan pemerintah akan siapkan sebanyak 5.000 unit GeNose C19 untuk didistribusikan di pertengahan Februari 2021. Harga satu unit diperkirakan sekitar Rp 40-60 juta.

Alat serupa juga ternyata sudah banyak diproduksi oleh negara-negara lain. Kuwat mengatakan, “Negara seperti Israel, Singapura, juga Finlandia juga memiliki alat mirip-mirip (GeNose) ini, tapi sebenarnya konsepnya berbeda.” Selain itu Kuwat menjelaskan rata-rata alat mirip GeNose produksi negara lain menggunakan model pengambilan sampel secara langsung dari mulut pasien yang akan diperiksa. Artinya, Kuwat menyatakan, alat sangat berpotensi menularkan COVID-19 karena pemakaiannya dilakukan secara bergantian.

Namun, ada satu tahap yang masih harus dilalui agar alat ini benar-benar dinilai layak dan tepat dalam mendeteksi COVID-19. Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Kemenkes Abdul Kadir mengatakan GeNose masih harus menjalani uji klinis fase 4 untuk melihat sensitivitas dan specificity dibandingkan dengan PCR. Tahap ini masih belum rampung pada saat peluncuran izin edarnya sehingga masih menimbulkan pertanyaan dan catatan.

Sebagai karya anak bangsa, GeNose tentu akan sangat bermanfaat dan dapat mengharumkan nama Indonesia di kancah dunia. Dukungan dan antusias pemerintah menunjukkan bahwa alat ini layak dicoba sambil terus diuji keefektivitasannya.

Sumber:

https://money.kompas.com/read/2021/01/23/153211526/luhut-ingin-di-setiap-rt-supermarket-dan-fasilitas-umum-pakai-genose-untuk-tes?page=all

https://tekno.tempo.co/read/1420414/alat-sejenis-dibuat-di-israel-ini-kata-peneliti-genose-ugm

https://tirto.id/yang-mengganjal-dari-genose-ugm-alat-pendeteksi-corona-80-detik-f8Dp