covid19filantropi.id

Impact Investing merangsang inovasi start-up di tengah pandemi COVID-19

Melakukan investasi berdampak bagi kesejahteraan sosial, ekonomi dan keberlanjutan lingkungan atau sering disebut impact investing merupakah salah satu bentuk filantropi. Dana yang diinvestasikan memang dapat menghasilkan laba, namun tujuan utamanya adalah untuk perubahan yang lebih baik dengan jangkauan yang luas. Di masa pandemi, impact investing memiliki peran unik dan penting, salah satunya seperti dilansir dari project-syndicate.org adalah “mengerahkan dana yang diperlukan untuk mengundang lebih banyak inovator ke sektor kesehatan”.

Meski pertumbuhan impact investment di Indonesia terbilang lebih lambat dibandingkan negara dengan pasar yang lebih matang, ada banyak kesempatan dan peluang untuk pengembangannya. Terutama karena di tahun 2020 kondisi “normal lama” menunjukkan sistem yang ada ternyata tidak mumpuni untuk menangani masalah akibat COVID-19. Modal keuangan yang dapat meningkatkan akses universal terhadap layanan kesehatan berkualitas misalnya, atau bisnis yang memiliki fokus pada konservasi lingkungan dan perlindungan bumi, menjadi perhatian menarik bagi investor.

Sejak pandemi, publik semakin menyadari pentingnya udara bersih dan produk-produk yang ramah lingkungan. Hal ini yang bisa dimanfaatkan para start-up dan juga investor dalam melihat pasar dan tentu dampak keberlanjutan bisnisnya.

Salah satunya adalah aplikasi yang memantau kualitas udara di Jabodetabek bernama ‘nafas’. Nafas menampilkan data berupa Air Quality Index (AQI) dan Particulate Matter (PM) 2.5 secara real time dengan memasang 46 sensor di seluruh Jabodetabek. Sedangkan pendanaannya sendiri melalui program sponsor baik individu maupun perusahaan. Data ini menjadi penting terutama setelah studi Harvard yang mengatakan tingginya angka kematian akibat COVID-19 di daerah dengan tingkat polusi PM2.5 yang tinggi.

Sektor pangan juga menjadi sorotan baik bagi investor dan pemerintah karena menjadi kunci pertumbuhan ekonomi yang tengah terpuruk. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan lebih dari 10 persen. Paling tinggi di antara sektor lainnya. Tak heran jika start-up agrikultur seperti Sayurbox dan TaniHub mengalami peningkatan jumlah pengguna dan transaksi.

Lain lagi dengan Crowde, platform kredit modal bagi petani dengan metode P2P lending. Mereka mengutamakan dampak keberlanjutan bisnis mereka dan mengintegrasikan ke dalam laporan maupun aktivitas karyawannya. Hal ini yang mampu meraih hati para investor untuk mempercayakan modal mereka pada Crowde. Mereka juga mengimplementasikan pembatasan penggunaan bahan kimia, menganalisa dampak perubahan iklim terhadap agrikultur dan memitigasi resiko berkaitan dengan perubahan iklim.

Di sektor kesehatan, Alodokter baru saja menerima pendanaan besar di akhir 2020 demi peningkatan layanan mereka. Halodoc, start-up kesehatan lainnya, mengalami peningkatan permintaan sebesar 700% sejak pandemi. Tentu perubahan gaya hidup masyarakat Indonesia menuju gaya hidup sehat berperan besar terhadap peningkatan ini. Namun masih perlu dilihat sepak terjang start-up kesehatan ini dalam berinovasi dan berkontribusi terhadap tingkat kesehatan masyarakat dalam jangka panjang.

Para impact investor harus memiliki target yang besar, bukan hanya target laba dan return on investment (ROI). Namun target perubahan dalam sistem kesehatan dan ekonomi sambil mempertimbangkan nilai keberlanjutannya.

Sumber:

https://dailysocial.id/post/masa-depan-impact-investment-di-indonesia/

https://katadata.co.id/anshar/infografik/5fa54563423b8/impact-investing-startup-pangan-tahan-guncangan-pandemi

https://www.project-syndicate.org/commentary/covid19-impact-investment-to-improve-global-public-health-by-tolullah-oni-et-al-2020-04/indonesian?barrier=accesspaylog

Image by DarkmoonArt_de from Pixabay