covid19filantropi.id

Informasi Salah Menghambat Pesan COVID-19, Cek Penyebabnya

Beberapa pengguna media sosial lebih baik dalam menyediakan akun yang menarik dan dapat dipercaya tentang pandemi COVID-19. Mengapa bisa terjadi salah informasi?

Video viral yang menggembar-gemborkan hydroxychloroquine sebagai obat untuk COVID-19 adalah satu-satunya yang terbaru dari serangkaian rumor, teori konspirasi, dan informasi keliru tentang virus COVID-19 yang telah menyebar seperti api di media sosial.

Begitu dituliskan wartawan kesehatan yang berbasis di Washington DC, Christine Lehmann, MA., di laman webmd.com edisi 29 Juli 2020.

Presiden AS, Donald Trump, lanjutnya, telah lama menggembar-gemborkan obat antimalaria tersebut dan bahkan meminumnya selama 2 minggu.

Padahal, beberapa studi sahih menunjukkan bahwa hydroxychloroquine tersebut tidak bekerja melawan virus corona, dan bahkan bisa berbahaya. Dan pada bulan Juni, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) memperingatkan agar tidak menggunakannya sebagai pengobatan untuk COVID-19.

Karena video yang diunggah di Twitter, media sosial tersebut membatasi akun Donald Trump Jr. Presiden Trump me-retweet video itu tetapi tidak mempostingnya ke akunnya. Meskipun Facebook, Twitter, dan YouTube menghapusnya, tapi postingan tersebut sudah dilihat 16 juta kali.

Rilis video, promosi oleh para pemimpin nasional, dan jutaan penayangannya adalah potret tantangan untuk menghilangkan informasi yang salah tentang COVID-19 di tengah kebebasan mengekspresikan dan berbagi pendapat.

“Orang-orang cenderung menemukan informasi di internet sesuai dengan kepercayaan mereka,” kata Michael Mackert, PhD selaku Direktur Pusat Komunikasi Kesehatan di University of Texas di Austin.

Hal yang serupa juga diungkapkan oleh Direktur Pusat Komunikasi Kesehatan dan Risiko di Universitas George Mason di Fairfax, VA. Gary L. Kreps, PhD. “Banyak orang sangat prihatin tentang pandemi dan ingin mendapatkan jawaban cepat tentang bagaimana menghindari dan menanggapi virus, sehingga mereka dapat terburu-buru menilai dan menerima rekomendasi yang tidak membantu, dan kadang-kadang berbahaya,” ujarnya. Sebagai contoh, ketika Trump mengatakan virus itu bukan masalah besar dan akan hilang dengan sendirinya, pesan-pesan itu mudah dipahami dan diikuti.

Sebagai perbandingan, nasihat tentang social distancing dan mengenakan masker di depan umum tidak begitu sederhana atau mudah bagi banyak orang, dan pesan-pesan itu diabaikan demi pesan yang lebih nyaman. “Mereka lebih suka mendengarkan orang-orang yang paling seperti diri mereka sendiri secara budaya dan politik, yang berbicara sederhana dan memberikan pesan yang ingin mereka dengar”, ujar Kreps menambahkan.

Dan itu adalah salah satu alasan mengapa pesan COVID-19 sangat membingungkan. Ini juga berkontribusi terhadap kurangnya kepercayaan pada pesan yang dikeluarkan lembaga kesehatan masyarakat yang resmi tentang virus tersebut.

Olahpesan dan kebingungan yang berkembang, dalam hal ini, sesekali meluas ke para ahli yang biasanya kita tuju untuk mendapatkan informasi yang solid. Dengan situasi yang begitu cepat berubah, mungkin membuat publik bertanya-tanya siapa yang harus dipercaya. Debat ilmiah bukanlah hal baru, tetapi biasanya berlangsung di jurnal yang diulas sejawat dan di konferensi profesional. Pandemi telah mengubah itu.

Para ilmuwan yang meneliti transmisi dan pencegahan COVID-19 juga berada di bawah tekanan luar biasa untuk mendapatkan jawaban dan membuat rekomendasi kepada publik.

Dengan taruhan yang begitu tinggi, menunggu waktu yang lama untuk mencapai konsensus ilmiah mungkin tampak tidak praktis. “Ilmuwan kadang-kadang tidak pernah mencapai konsensus penuh tentang masalah kesehatan yang kompleks ini, dan kelompok ilmuwan yang berbeda akan mengadvokasi penjelasan dan bukti mereka sendiri,” jelas Kreps.

Itu terjadi pada awal Juli, ketika lebih dari 200 ilmuwan mengimbau kepada Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan komunitas medis internasional untuk membahas gagasan bahwa COVID-19 tersebar di udara. Mereka menganjurkan langkah-langkah pencegahan seperti meningkatkan ventilasi udara dalam ruangan di gedung-gedung publik dan transportasi umum.

WHO menjawab bahwa transmisi aerosol jarak pendek mungkin ada dalam kondisi tertentu, tetapi meminta penelitian lebih lanjut.

Informasi yang saling bertentangan ini dapat membuat konsumen bertanya-tanya siapa yang harus dipercaya dan yang lebih penting, saran apa yang harus diikuti. “Cara untuk menafsirkan ini adalah fakta bahwa kita belum cukup tahu,” kata Mackert.

WHO sendiri, seperti dikutip di laman who.int pada 13 Mei 2020, telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi kebingungan informasi tersebut. “Stop The Spread”, misalnya, adalah kampanye global yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang risiko kesalahan informasi seputar COVID-19 dan mendorong mereka untuk mengecek dengan sumber terpercaya seperti WHO dan otoritas kesehatan nasional.

WHO mempromosikan kampanye ini di banyak negara di Afrika, Asia, Eropa, Timur Tengah dan Amerika Latin. Kampanye ini mendukung upaya WHO untuk mengatasi infodemik informasi palsu tentang COVID-19 dan mitos-mitos penghilang tentang penyebaran, diagnostik, dan pengobatan penyakit.

WHO bahkan telah bergabung dengan Pemerintah Inggris untuk menjalankan kampanye kesadaran tentang risiko informasi yang salah terkait pandemi COVID-19. Pemerintah Inggris juga akan menawarkan perangkat aset kampanye kepada mitra pemerintah untuk diterjemahkan dan digunakan di negara mereka, sehingga ada pesan terpadu di seluruh negara tentang topik yang sangat penting ini.

Untuk menjangkau warga negara Inggris di luar negeri, kampanye akan dijalankan di BBC World News dan BBC.com. Ini adalah bagian dari komitmen BBC Global News untuk menyumbangkan airtime gratis pada badan kesehatan publik dan organisasi pemerintah untuk mempromosikan pengiriman pesan memerangi krisis kesehatan global COVID-19.

Sumber:

https://www.webmd.com/lung/news/20200729/misinformation-disagreement-hinder-covid-messaging

https://www.who.int/news-room/feature-stories/detail/countering-misinformation-about-covid-19

Foto oleh Marília Castelli dari Unsplash