covid19filantropi.id

Jogo Tonggo, Kekuatan Komunitas Hadang COVID-19

Komunitas yang kompak dan pemimpin yang progresif-kreatif dapat bersinergi menciptakan cara sendiri untuk menghadang COVID-19.

Jangan anggap enteng kekuatan sebuah komunitas. Seperti yang diungkapkan Lysa John, Sekretaris Jenderal CIVICUS, organisasi filantropi berpusat di Afrika Selatan, yang dimuat di www.alliancemagazine.org, “Organisasi berbasis komunitas merupakan wadah terbaik untuk merespon sebuah krisis kemanusiaan yang kompleks seperti pandemi COVID-19.” 

Kekuatan komunitas inilah yang kemudian dikerahkan oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, dengan menciptakan gerakan Jogo Tonggo di wilayah Jawa Tengah (Jateng) untuk menghadang pandemi COVID-19.

Jogo Tonggo adalah gerakan yang mengajak seluruh warga untuk menjadi garda terdepan menghadapi pandemi COVID-19. Untuk menjalankan gerakan ini, Ganjar memanfaatkan kekuatan solidaritas masyarakat, terutama di desa-desa.

“Orang desa terbiasa berbagi makanan, gotong royong membangun rumah, dan menjaga lingkungan dengan siskamling. Spirit ini kita ambil karena basis kekuatan utama Jawa Tengah adalah desa,” jelas Ganjar.

Saling Membantu dan Melindungi

Dalam bahasa Jawa, ‘jogo’ artinya menjaga, sedangkan ‘tonggo’ berarti tetangga. Prinsipnya, kita boleh saja punya banyak kerabat dan sahabat, namun para tetanggalah orang terdekat yang lebih mengetahui kondisi kita dan keluarga kita sehari-hari.

Gerakan Jogo Tonggo ini diluncurkan pada 24 April 2020 lalu dan masih berlangsung hingga sekarang. “Pada pelaksanaannya, Jogo Tonggo mencakup dua hal, yaitu jaring pengaman sosial dan keamanan, serta jaring ekonomi,” tulis Humas Jateng di akun Twitter milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng.

Secara struktural, gerakan ini melibatkan masyarakat setingkat RW (desa) dan di bawah pengawasan camat. Tugas para ketua RW, dibantu warga setempat, adalah memastikan seluruh warga secara bergotong-royong menghadang penyebaran dan penularan COVID-19. Juga memastikan seluruh bantuan dan dukungan yang masuk ke wilayah mereka disalurkan secara tepat sasaran dan tepat guna. 

Membuka dapur umum hingga membuat masker

Kota Semarang, ibu kota Jateng, bergerak lebih dulu menerapkan gerakan Jogo Tonggo. Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi atau akrab disapa Hendi, menyebut, Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang telah memutuskan memilih Jogo Tonggo daripada PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), untuk menekan penyebaran COVID-19 di wilayahnya. 

Alasannya, gerakan ini melibatkan seluruh warga berdasarkan semangat gotong royong dan saling menjaga antar warga yang sudah terbangun dari generasi ke generasi, sehingga dianggap lebih efektif.  

Semangat gotong royong dalam gerakan Jogo Tonggo ini terlihat jelas saat warga RT02/RW03, Kelurahan Jomblang, Kota Semarang, mendirikan dapur umum untuk memenuhi kebutuhan makan warga yang terdampak COVID-19. Ibu-ibu dan bapak-bapak setempat bergiliran bertugas di dapur umum,mulai dari memasak, mencuci peralatan dapur, mengangkat ember berisi air, dan sebagainya, Setiap harinya, ratusan porsi makanan dan minuman dibagikan secara gratis kepada warga yang membutuhkan..

Ketua RW 03,  Suryo Setiawan, mengatakan, didirikannya dapur umum bermula dari  keprihatinan akan nasib ratusan warga yang terkena dampak pandemi COVID-19.

“Di sini banyak pekerja yang dirumahkan, mulai dari buruh, sopir angkot, karyawan hotel, kuli bangunan, penjual nasi kucing, pedagang keliling, dan sebagainya. Di tengah  pandemi ini penting sekali ada dapur umum yang mampu memenuhi kebutuhan makan warga yang sedang kesulitan,” kata Suryo.

Ia berharap, dapur umum tersebut dapat meringankan beban warganya yang terdampak COVID-19.

Terpenting, ia menambahkan, kita harus terus saling menjaga spirit Jogo Tonggo ini, sehingga dapat menjadi tradisi getok tular kepada warga di kampung lainnya.

“Kita kan tidak tahu sampai kapan pandemi COVID-19 ini akan berlangsung. Agar semangat Jogo Tonggo ini terus terjaga dan berkelangsungan, kami membuat ‘lumbung pangan’ yang dikumpulkan dari bantuan pemerintah, non pemerintah, dan terutama dari hasil jimpitan warga,” ujarnya.

Jimpitan adalah tradisi sumbangan warga –umumnya dilakukan di desa-desa di Jawa—berupa ‘sejimpit’ beras atau uang yang jumlahnya telah disepakati bersama. Jimpitan akan diletakkan oleh warga di depan rumah masing-masing setiap hari dan akan dikumpulkan oleh warga yang mendapat tugas ronda malam.

Selain hasilnya dimasukkan ke kas desa, tradisi jimpitan juga berfungsi memonitor keadaan setiap rumah dan penghuninya dari hari ke hari, siapa tahu ada yang sakit atau sedang ditimpa masalah.

Karena itu, jimpitan tetap dipertahankan setiap hari, dan tidak bisa dirapel jadi seminggu atau sebulan sekali. “Harapan kami, warga dari kampung lain juga bisa menerapkan hal serupa,” harap Suryo.

Hingga saat ini Kelurahan Jomblang sudah memiliki tiga dapur umum yang dikelola secara swadaya oleh warga. Yang dua didirikan di wilayah RT03 untuk mejangkau warga yang rumahnya jauh, mengingat topografi kampung yang berbukit-bukit.

Adapun dapur umum yang ketiga dibangun di RW 09, yang melayani kebutuhan makan warga seminggu sekali, dengan cara diantar ke rumah-rumah. 

Selain mendirikan dapur umum, warga Jomblang  juga menyediakan tempat cuci tangan dan tempat karantina mandiri yang diperuntukan bagi warga yang baru datang dari kota lain.

Tak hanya itu, warga juga berswadaya membuat masker sendiri untuk kebutuhan alat pelindung diri yang dibagikan kepada warga setempat.

“Sekitar 500-600 masker sekali produksi. Kita belanja kain dan menjahit sendiri, lalu dibagikan gratis kepada warga sekitar,” ujar Suryo.


Kembangkan apotek hidup dan warung hidup

Gerakan Jogo Tonggo juga diterapkan di Kota Tegal. Warga RT06/RW03 di Perumahan SUPM, Kelurahan Tegalsari, Kecamatan Tegal Barat, menerapkan konsep Jogo Tonggo dengan membuat apotek hidup dan warung hidup di lahan kosong perumahan mereka.

Lahan itu ditanami aneka sayuran, empon-empon, dan aneka tanaman bumbu masak. Ada pula ember-ember besar berjajar berisi ikan lele dengan bagian atasnya ditanami kangkung dan sawi.

“Kami menggunakan lahan kosong ini untuk menanam tanaman kebutuhan sehari-hari. Kalau ada masyarakat yang membutuhkan, diambilkan dari sini,” kata Ketua RW03, Edi Warsito.

Selain apotek dan warung hidup, warga juga membuat lumbung pangan. Menurut  pengurusnya, Witoyo, lumbung pangan tersebut digunakan untuk menampung bantuan dari luar, bantuan internal warga, serta beras hasil jimpitan.

Karena masyarakat perumahan ini mayoritas dari kalangan mampu, bantuan yang diterima kemudian disumbangkan kembali kepada masyarakat di luar RW03 yang lebih membutuhkan, termasuk para guru ngaji.

Tak heran bila Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, tertarik  meninjaunya.

Ganjar mengaku senang dan sangat mengapresiasi inisiatif warga setempat memaknai gerakan Jogo Tonggo. “Saya senang, karena sekalipun perumahan ini berlokasi di perkotaan, semangat gotong royong warga masih terpelihara. Bahkan ada apotek hidup dan warung hidup segala.  Aneka sayuran, lele, dan macam-macam itu bisa dikonsumsi sendiri oleh warga. Ini adalah salah satu bentuk ketahanan pangan,” kata Ganjar, senang.

Ia menambahkan, apotek dan warung hidup tersebut menjadi salah satu cara bertahan warga di tengah pandemi. Juga tradisi lumbung pangan dan jimpitan yang tetap dipelihara.

“Tak kalah penting, spirit gotong royong itu membuat warga tidak hanya mengandalkan bantuan dari pemerintah,” tegasnya. Ia juga mengimbau agar daerah lain mau mencontoh kegiatan warga perumahan SUPM Tegal tersebut.

Gerakan Jogo Tonggo kini sudah diterapkan di berbagai Kabupaten/Kota lain di Jawa Tengah. Antara lain di Jepara, Purbalingga, dan Kebumen.

Indonesia memiliki banyak suku dengan budaya masing-masing. Dan setiap budaya tentu memiliki cara bergotomg royong dan solidaritas sendiri. Inilah spirit kekuatan komunitas lokal, yang dapat dijajagi dan diekplorasi lebih jauh oleh organisasi-organisasi filantropi di Indonesia.

Sumber:

https://amp.kompas.com/regional/read/2020/05/12/06514911/tularkan-spirit-jogo-tonggo-warga-di-semarang-dirikan-dapur-umum

https://m.jpnn.com/amp/news/konsep-jogo-tonggo-di-tegal-patut-ditiru-ganjar-tidak-hanya-mengandalkan-bantuan-pemerintah

https://m-kumparan-com.cdn.ampproject.org/v/s/m.kumparan.com/amp/kumparannews/ganjar-luncurkan-jogo-tonggo-gerakan-saling-menjaga-antarwarga-dari-corona