covid19filantropi.id

Krisis COVID-19, Nasib Anak Perempuan di Ujung Tanduk

Save The Children memprediksi bahwa pandemi COVID-19, menyebabkan terjadinya grafik kenaikan terburuk dalam angka pernikahan anak dalam 25 tahun terakhir.

Hingga 2,5 juta lebih anak perempuan di seluruh dunia, berisiko dipaksa menikah dini selama lima tahun ke depan sebagai akibat dari dampak COVID-19. Begitu disebutkan dalam laporan Save the Children belum lama ini.

Badan amal tersebut memperkirakan lonjakan terburuk dalam tingkat pernikahan anak dalam 25 tahun. Hal tersebut terjadi, karena pandemi telah menutup sekolah dan mendorong keluarga miskin menjadi lebih miskin.

Begitu ditulis koresponden The Guardian Asia Tenggara Hannah Ellis-Petersen, di laman theguardian.com edisi 1 Oktober 2020.

Dalam tulisan berjudul ‘Covid Crisis could force extra 2.5 m girls into child marriage-charity’ itu, disebutkan juga bahwa menurut laporan Global Girlhood 2020: Tahun ini, COVID-19 menyebabkan setengah juta lebih anak perempuan akan didorong ke perjodohan. Ini akan membuat jumlah total pernikahan anak menjadi sekitar 12,5 juta pada tahun 2020.

Laporan tersebut memperingatkan tahun 2020 sebagai tahun “kemunduran yang tidak dapat diubah dan masa depan yang hilang” bagi anak perempuan. Di seluruh dunia, penutupan sekolah telah mengganggu pendidikan 1,6 miliar anak, dan Save the Children memperkirakan bahwa 10 juta anak, kebanyakan perempuan, tidak akan pernah kembali ke sekolah.

Laporan tersebut juga memprediksikan bahwa lebih dari satu juta anak perempuan di bawah 18 tahun bisa hamil tahun ini, menempatkan nyawa dalam risiko melahirkan masih menjadi penyebab utama kematian di antara anak-anak berusia 15 hingga 19 tahun.

Wilayah yang paling parah terkena dampak lonjakan pernikahan anak adalah Asia Selatan. Di mana hampir 200.000 lebih anak perempuan diperkirakan akan dipaksa menikah tahun ini karena perselisihan ekonomi yang disebabkan virus corona.

India, yang menyumbang sepertiga dari semua pernikahan anak secara global, telah menjadi salah satu negara yang paling parah terkena dampak pandemi, baik dalam hal kesehatan maupun ekonomi. Negara ini telah melaporkan lebih dari 6 juta kasus virus, yang terburuk kedua di dunia, dan jumlahnya meningkat pada tingkat tercepat secara global.

Lockdown yang dilakukan pada bulan Maret dengan pemberitahuan hanya beberapa jam saja sebelum dimulai, membuat jutaan migran dan pekerja upahan harian tanpa sarana apa pun untuk mendapatkan penghasilan, mendorong jutaan keluarga lebih jauh ke dalam kemiskinan.

Perekonomian India mengalami kontraksi hampir 24% pada kuartal terakhir, penurunan terburuk dalam catatan industri dan karenanya peluang kerja telah sangat berkurang, dan bahkan setelah lockdown dicabut.

Dalam kondisi orang tua dari keluarga berpenghasilan rendah tidak dapat menemukan pekerjaan dan sekolah ditutup tanpa batas waktu tersebut, di India tanggung jawab jatuh pada anak-anak untuk pergi bekerja atau dipaksa menikah.

Kevin Watkins, kepala eksekutif Save the Children UK, mengatakan: “Meningkatnya risiko kekerasan dan eksploitasi seksual yang dikombinasikan dengan meningkatnya ketidakamanan pangan dan ekonomi – terutama dalam keadaan darurat kemanusiaan – berarti banyak orang tua merasa memiliki sedikit alternatif selain memaksa anak perempuan mereka menikah dengan pria (yang seringkali jauh lebih tua).

“Pernikahan ini melanggar hak-hak anak perempuan dan membuat mereka berisiko lebih tinggi mengalami depresi, kekerasan seumur hidup, cacat tubuh, dan bahkan kematian saat melahirkan.”

Pandemi juga menyebabkan peningkatan laporan pekerja anak dan perdagangan anak di India. Laporan dari negara bagian India yang dilanda kemiskinan seperti Jharkhand menunjukkan bahwa jumlah anak yang diperdagangkan meningkat lebih dari 600 persen pada bulan April dan Mei, selama lockdown berlangsung.

Organisasi Perburuhan Internasional baru-baru ini mengatakan pandemi COVID-19 dapat menyebabkan peningkatan pekerja anak untuk pertama kalinya dalam 20 tahun.

Sumber:

https://www.theguardian.com/society/2020/oct/01/covid-crisis-could-force-extra-25m-girls-into-child-marriage-charity?utm_source=Iterable&utm_medium=email&utm_campaign=campaign_1579327_nl_Philanthropy-Today_date_20201002&cid=pt&source=ams&sourceId=4852907

Photo credit: Sunday Alamba/AP