covid19filantropi.id

Lawan COVID-19: Data Kuat Filantropi Maju

Investasi sosial harus dibangun berdasarkan data. Data yang rapi, akurat, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan bukan saja mempermudah kinerja filantropi dalam menyampaikan bantuan dengan sasaran yang tepat. Melainkan juga untuk memelihara kepercayaan para donatur, khususnya di tengah krisis seperti COVID-19.

Pentingnya data bagi perkembangan dunia filantropi, sudah berulang kali ditekankan oleh banyak ahli dan pelaku filantropi, terutama di tengah masa krisis seperti pandemi COVID-19. Bagaimanapun filantropi adalah ‘bisnis kepercayaan’, dan kepercayaan itu antara lain bisa didapat melalui data yang dapat dipertanggungjawabkan.

Berikut adalah pendapat sejumlah ahli berkaitan dengan pentingnya data bagi perkembangan dunia filantropi.

Berbagai kegunana data dalam filantropi 

Forum tahunan European Foundation Center diselenggarakan di Paris pada 23 Mei 2020 lalu dan diikuti oleh 800 perwakilan yayasan/organisasi filantropi dari seluruh Eropa. Salah satu topik yang diangkat dakam forum tahunan tersebut adalah “Data dan Filantropi” dengan isu tentang “Bagaimana agar filantropi memiliki dampak sistemik melalui data.” 

Stefaan Verhulst, co-founder dan direktur riset dan pengembangan  GovLab, menjelaskan bagaimana data dan analisis berbasis data yang baik dapat mengembangkan dunia filantropi.  

1. Data sebagai aset kegiatan filantropi: Data merupakan alat yang secara berkelanjutan dapat memperbaiki kinerja filantropi. Data yang baik akan menghasilkan analisis yang baik pula, dan pada akhirnya akan menghasilkan respons dan solusi yang tepat.  

2. Data sebagai penunjuk arah pembiayaan (financing compass): Data yang baik akan membuat para pendana (funder) memiliki panduan arah yang lebih baik. Karena itu dunia filantropi harus berinvestasi pada data ventures sebagai modal untuk memperbaiki sistem pendataan yang ber-platform digital. Dunia filantropi harus melengkapi diri dengan data yang baik agar dapat memfasilitasi manajemen, analisis, dan seleksi yang lebih baik untuk proyek-proyek di masa depan. 

3. Data sebagai alat advokasi dan  aktivisme: Analisis tentang data global juga dapat membantu mengembangkan argumen dan pada akhirnya dapat menciptakan gerakan-gerakan kolektif, seperti yang telah dilakukan oleh Change.org dan Aavaz. Menurut Verhulst, banyak yayasan kini telah berinvestasi di bidang data venture dan memanfaatkan data sebagai panduan untuk menyusun berbagai strategi. 

4. Data sebagai visi politik: Dunia filantropi diharapkan dapat mengembangkan peran dalam menciptakan kebijakan publik dengan memanfaatkan data yang dapat dipertanggungjawabkan.  

Memperjuangkan keadilan berdasarkan data Filantropi juga dapat mendorong terciptanya keadilan berdasarkan data (Data Justice). Louise Lief, seorang konsultan filantropi dan media, mengatakan bahwa dengan merangkul partisipan riset berbasis komunitas dan pendekatan keadilan berdasarkan data, dunia filantropi dapat mengubah aturan main (change the game), merevitalisasi riset dan komunitas, serta mewujudkan perubahan yang lebih baik bagi dunia. 

Sekarang ini, data mengatur hampir setiap aspek kehidupan manusia, mengubah atau memperjelas kesempatan-kesempatan yang kita miliki, membuat kita lebih memahami kenyataan dan masalah yang ada, bahkan meyakinkan kita bahwa segala sesuatu memungkinkan untuk terwujud. 

Filantropi  juga dunia yang digerakkan oleh data; kita berpegang pada data untuk membuat keputusan, memetakan masalah, dan mengukur dampaknya. Namun, tentunya, itu kalau datanya dapat dipertanggungjawabkan.

Apabila data yang ada tidak akurat, hasil rekayasa,  tidak transparan, dan tidak dapat dipertanggungjawabkan, hasilnya justru sebaliknya. Bukan saja kita bisa salah mendiagnosis masalah,  tapi juga memperburuk kondisi ketidakadilan yang sudah ada dengan intervensi- intervensi yang salah sasaran. 

Usaha menciptakan data justice ini pertama kali dilakukan oleh komunitas Native American (Indian Amerika) —yang  sebelumnya banyak dirugikan oleh berbagai ketidakadilan (secara kemanusiaan, ekonomi, pendidikan, dan sebagainya) akibat data yang buruk.  Pada 2017, diadakan pendataan dan analisis ulang pada komunitas Indian Amerika yang didanai oleh W.K. Kellogg Foundation dan Morris K. Udall and Stewart L. Udall Foundation. Hasilnya, terlihat betapa buruk dan kacau balaunya data yang ada sebelumnya tentang komunitas ini. Bukan saja tidak akurat  tetapi juga tidak memadai,  tidak konsisten, tidak relevan, dan sulit diakses. Berkat data yang kacau balau itu, tak heran bila The National Congress of American Indians lantas menggambarkan komunitas  American Native sebagai “The Asterisk Nation,” alias komunitas alien.

Kekuatan Data bagi Dunia Filantropi

Menurut Igor Tulchinsky (pendiri WorldQuant Predictive dan pendiri WorldQuant University) dan Robert Kirkpatrick (Direktur UN Global Pulse), era  “Big Data”  (volume data yang besar, baik data yang terstruktur maupun  yang tidak terstruktur) sudah berlalu. Big data memang  pernah sangat penting, terutama bagi dunia industri dan teknologi.

Namun, kini kita memasuki abad prediksi (age of prediction). Saat ini keakuratan data dan kemudahan untuk mengakses data lebih penting daripada sekadar jumlah data yang berjibun. 

Dunia perlu disadarkan akan pentingnya memanfaatkan “the power of prediction” dan melakukan aksi nyata untuk menciptakan kemakmuran di masa depan demi menegakkan keadilan atas dasar  kemanusiaan.  Dan semua itu didasarkan pada data yang baik, akurat, transparan, mudah diakses, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Yang kini kita butuhkan adalah arsitektur global baru yang menyangkut data kemitraan. Bagi dunia filantropi, data kemitraan antara sektor swasta dan badan-badan pemerintah merupakan kunci untuk membangun kemakmuran  dan ketahanan (resiliency) bagi masyarakat —khususnya  yang rentan—dalam  menghadapi krisis, terutama krisis besar seperti pandemi COVID-19.

Sumber:

https://ssir.org/articles/entry/how_philanthropy_can_help_lead_on_data_justice

https://milkeninstitute.org/articles/power-data-philanthropy