covid19filantropi.id

Lumbung Sedekah Pangan Ringankan Dampak COVID-19

Kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) membuat ekonomi masyarakat Indonesia tersendat, bahkan sebagian mati suri. Namun, solidaritas dan kedermawanan sesama masyarakat dapat dijadikan salah satu solusi untuk memperkecil dampak pandemi COVID-19. Antara lain dengan membentuk Gerakan Nasional Lumbung Sedekah Pangan.

Indonesia sesungguhnya memiliki harta karun yang dapat membantu menyelamatkan masyarakat dari keterpurukan sosial dan ekonomi akibat  pandemi COVID-19. Dengan budaya gotong royong yang telah berakar selama ratusan tahun, masyarakat Indonesia yang komunal terbiasa saling membantu dalam mengatasi masalah.

Hal itu  diungkapan oleh Profesor Azyumardi Azra, Guru Besar Sejarah UIN Syarif Hidayatulah Jakarta, dalam acara webinar bertajuk “Social Trust Fund”  yang diselenggarakan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, pada Mei 2020 lalu.

Filantropi adalah kunci

Menurut Prof. Azra, filantropi memainkan peran penting di tengah keadaan mendesak seperti pandemi COVID-19. Sikap dan aksi filantropi memiliki akar kultural di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Dengan semangat solidaritas, masyarakat terbiasa saling membantu secara bergotong royong.

Kehadiran organisasi-organisasi socsal, termasuk yang bersifat keagamaan seperti Muhammadiyah, Mathla’ul Anwar, Nahdlatul Ulama, al-Washliyah, dan lainnya juga terlahir dari kesadaran filantropis masyarakat Indonesia. Kesadaran inilah yang memperkuat masyarakat menghadapi berbagai dinamika sosial.

“Ormas-ormas keagamaan tersebut memiliki umat dengan tradisi filantropi yang panjang dan kuat. Dan ini semakin diperlukan ketika negara sedang kesulitan keuangan. Maka sumber-sumber pembiayaan non pemerintah perlu digalakkan. Dan, umat Islam sebagai mayoritas harus ada di baris terdepan,” kata Azra.

Pembicara lain, Dr. TB. Ace Hasan Syadzily, Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, menilai bahwa filantropi dapat menjadi modal sosial yang paling bisa diandalkan masyarakat dalam menghadapi pandemi COVID-19. “Ini merupakan angin segar bagi ketahanan bangsa ini dalam menghadapi krisis,” katanya.

Kesadaran berfilantropi masyarakat juga diinisiasi oleh lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT). Tujuannya agar masyarakat dapat saling membantu. Salah satunya lewat Gerakan Nasional Lumbung Sedekah Pangan, sebuah gerakan filantropi yang dilakukan oleh masyarakat untuk masyarakat. Dengan menghadirkan rak Lumbung Sedekah Pangan, masyarakat dapat memberikan sedekah melalui rak tersebut, sementara yang membutuhkan bisa memanfaatkan apa yang terletak di sana.

Dalam hal ini, Indonesia patut meneladani masyarakat Vietnam. Kebijakan karantina ketat yang diberlakukan pemerintah untuk menghentikan penyebaran virus COVID-19, membuat kegiatan dan perekonomian masyarakat Vietnam sempat kocar-kacir. Namun demikian masyarakat bahu-membahu saling membantu mengatasi masalah besar ini.

Antara lain dengan mendirikan “ATM beras” yang tersebar di kota Hanoi, Hue, dan Da Nang. ATM beras ini diinisiasi oleh seorang pengusaha, dan masyarakat dermawan diminta ikut andil dalam aksi solidaritasi ini. Beras gratis ini ditujukan untuk orang-orang yang kehilangan pekerjaan akibat karantina nasional tersebut. 

“ATM beras ini sangat membantu kami, rakyat kecil. Dengan satu kantong beras, kami memiliki persediaan cukup untuk sehari. Sekarang, kami tinggal mengupayakan bahan makanan lain. Tetangga kami juga terkadang memberi kami kelebihan makanan,” kata Nguyen Thi Ly, seorang ibu 34 tahun yang memiliki tiga anak. Suaminya termasuk satu dari ribuan orang yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi.

Dengan kedisiplinan dan solidaritas yang kuat, Vietnam dapat dengan cepat mengatasi dampak pandemi. Setelah satu bulan lockdown, sampai akhir Juli 2020 Vietnam akhirnya berhasil menjadi salah satu dari sedikit negara di dunia dengan zero kasus kematian. 

Kedermawanan picu optimisme

“Kami meyakini kedermawanan yang luas bermuara pada kebangkitan ekonomi umat dan optimisme bangsa. Bersama-sama kita harus segera membuat keadaan lebih baik di masa sulit ini,” kata pembicara yang lain, Ibnu Khajar, Presiden ACT.

ACT tidak ingin sendiri dalam membantu sesama. “Kami juga ingin memfasilitasi masyarakat dalam menghimpun kepedulian melalui gerakan filantropi yang masif, yakni Gerakan Nasional Lumbung Sedekah Pangan,” ungkap Ibnu. Pada 6 Agustus 2020 lalu,  ia mendeklarasikan Gerakan Nasional Lumbung Sedekah di daerah Gunung Sindur, Bogor.

Kini Gerakan Nasional Lumbung Sedekah Pangan sudah  berdiri di berbagai kota/kabupaten dan provinsi lain di Indonesia, terutama di daerah-daerah pedesaan,  antara lain di Bekasi, Lampung, Madiun, dan Bali.

Senen adalah salah seorang penerima manfaat Lumbung Sedekah Pangan. Laki-laki yang sehari-hari bekerja sebagai pemulung di Teluk Betung, Lampung, ini bersyukur bahwa ternyata masih banyak masyarakat Lampung yang peduli kepada masyarakat prasejahtera.

“Kalau hari Jumat banyak yang ngasih makan, tapi di hari-hari lain tidak,” katanya. Karena itu Senen merasa sangat terbantu dengan adanya program Lumbung Sedekah Pangan, karena kini ia bisa mendapatkan beras gratis untuk makan sehari-hari sekeluarga. 

Senen hanyalah satu dari sekian banyak masyarakat Indonesia yang membutuhkan bantuan para dermawan. Oleh karenanya Ibnu mengajak lebih banyak masyarakat untuk berpartisipasi dalam Gerakan Nasional Lumbung Sedekah Pangan. Sebab gerakan ini bukanlah milik ACT belaka, melainkan milik seluruh masyarakat. 

“Pangan menjadi permasalahan pokok di tengah resesi dan dapat menjadi ancaman besar bagi negara. Saling membantu di kalangan masyarakat dalam urusan pangan menjadi solusi untuk melewati ujian ini,” tegas Ibnu.

Sumber:

https://news.act.id/berita/upaya-solidaritas-dan-filantropi-tekan-dampak-pandemi

https://m-antaranews-com.cdn.ampproject.org/v/s/m.antaranews.com/amp/berita/1652222/act-masifkan-lumbung-sedekah-pangan-sebagai-gerakan-nasional?amp_js_v=a6&amp_gsa=1&usqp=mq331AQFKAGwASA%3D#aoh=16012054497055&referrer=https%3A%2F%2Fwww.google.com&amp_tf=From%20%251%24s&ampshare=https%3A%2F%2Fwww.antaranews.com%2Fberita%2F1652222%2Fact-masifkan-lumbung-sedekah-pangan-sebagai-gerakan-nasional