covid19filantropi.id

Masa Depan Seni Pascapandemi COVID-19, Cek 4 Skenarionya

Di masa depan, jika negara masih mengesampingkan seni saat memulihkan krisis pandemik COVID-19, potensi kekuatan seni akan hilang. Apa yang terjadi pada seni di masa depan? Intip 4 skenarionya.

Jika dunia diibaratkan sebagai jaringan rimpang atau rhizoma. Di mana manusia, lingkungan hidup serta benda lainnya saling terkait dan mempengaruhi. Maka pandemi COVID-19 adalah elemen yang telah membongkar seluruh relasi tersebut. Ini karena kemampuannya mengubah kebiasaan dasar manusia, yaitu bergerak dan berkumpul.

Begitulah antara lain disebutkan Koordinator Peneliti Kebijakan Seni dan Budaya dari Koalisi Seni Ratri Ninditya, dalam tulisannya berjudul ‘Membayangkan Ekosistem Seni Pascapandemi’ di laman koalisiseni.or.id edisi 18 Juni 2020.

Bagaimana masa depan seni pascapandemi? Ratri menuliskan empat skenarionya. “Dalam keempat skenario ini peran negara hilang, digantikan oleh swasta dan individu. Indikatornya kita ambil dari dua sumber kegelisahan dalam ekosistem seni hari ini, yakni ruang berinteraksi–virtual atau fisik–dan relasi antarpelaku, yaitu ekonomi ataukah afektif. Empat skenario ini sifatnya sangat mungkin beririsan, atau terjadi secara bersamaan,” kata Ratri Ninditya pada Kamis, 18 Juni 2020.

Skenario 1: Seniman Konten Prekariat

Skenario ini membayangkan interaksi antar pelaku ada di ruang virtual, dengan motif ekonomi menjadi relasi utama. Dalam kondisi ini, seniman akan sibuk di depan layar, terobsesi dengan pembuatan konten sensasional setiap hari, tapi tidak ada penontonnya.

Dalam skenario ini, akan muncul generasi prekariat, yakni terjebak situasi tak menentu dan tak punya jaminan masa depan lebih baik, yang masif tapi tidak terlacak.

Kondisi seniman prekariat ini sejatinya sudah terjadi jauh sebelum pandemi muncul. Tapi, pandemi memperparah situasi tak menentu ini, karena tanpa ruang fisik, manusia menjadi automata, tercerabut dari kemampuannya berhubungan dengan orang lain. Tidak ada dorongan berserikat karena motif afektif tersebut hanya muncul dari interaksi di ruang fisik. Sehingga, tidak ada perlindungan akan statusnya sebagai seniman atau pekerja kreatif.

Skenario 2: Gerakan Seni Virtual

Jika interaksi utama terjadi di ruang virtual dan relasi sifatnya afektif, maka akan muncul berbagai komunitas yang keterikatannya tumbuh dari masa sebelum pandemi. Komunitas saling terhubung di media sosial karena kesamaan ide. Jargon-jargon seksi menjadi kunci. Citra kelompok dan portfolio menjadi hal utama untuk berjejaring.

Karya seni juga bisa punya peran sentral dalam gerakan, seperti fungsi pemulihan atau arsip ingatan kolektif. Perkumpulan dan serikat seni akan tumbuh subur dalam level lokal, nasional, hingga internasional. Namun seperti yang ditekankan sosiolog Ulrich Dolata dan Jan-Felix Schrape, fungsi teknologi pada gerak komunitas hanyalah pendukung, tak dapat sepenuhnya menggantikan kondisi sosial.

Skenario 3: Seni sebagai Keseharian

Jika interaksi hanya dimungkinkan di ruang fisik dan relasi antarpihak yang dominan bersifat afektif, desa akan menjadi unit yang paling subsisten. Sistem ekonomi alternatif akan diterapkan di desa ini, seperti barter, dan seni bisa jadi salah satu alat tukarnya. Penghayat dan seniman memimpin ritual dan diupah dengan pembagian hasil panen atau laut. Perkembangan seni bakal terjadi seiring dengan perubahan iklim global karena praktik seni yang sangat erat hubungannya dengan alam.

Sementara di perkotaan, pelaku seni dapat berkumpul dalam jumlah kecil untuk mendiskusikan estetika baru dan melibatkan diri dalam proses pemulihan warga pascapandemi. Seni mungkin jadi metode baru pembelajaran anak-anak yang harus lama mengikuti kegiatan sekolah dari rumah. Sedangkan orang dewasa yang jenuh dalam isolasi sosial bisa juga kembali mencoba membuat karya seni setelah sekian puluh tahun absen.

Seni sebagai alat pemulihan akan banyak tercipta di kota dan desa. Namun lagi-lagi, dampaknya akan terasa hanya dalam lingkup kecil dan kemampuan tiap komunitas untuk memulihkan diri tidaklah sama. Kesenian terancam punah di komunitas-komunitas yang gagal bangkit.

Skenario 4: Hiburan Warga

Kalau seniman dan masyarakat terisolasi secara fisik dan relasinya berbasis kepentingan ekonomi, seni menjadi hiburan warga. Karena berfungsi sebagai hiburan, sebagian besar seniman akan menampilkan karya orang lain yang sudah terkenal, sehingga sedikit karya baru dihasilkan. Perupa mungkin akan mendapat pekerjaan komisi untuk menunjang unit usaha kecil menengah, seperti melukis mural di warung kopi atau menghias panggung seni warga.

Akan muncul perkumpulan para pekerja seni budaya dalam lingkup RT/RW untuk mengelola hiburan-hiburan kecil berbayar ini. Seni akan hidup selama bisa dinilai dengan uang, mengikuti selera populer, dan bersandar pada mekanisme pasar di tingkat lokal.

Keempat skenario tersebut menunjukkan peran negara ternyata justru diperlukan. “Bagaimanapun juga, inisiatif kolektif perlu dukungan negara agar bisa bertahan lebih lama. Peran negara harus dipertimbangkan dalam mendorong potensi dan keberlangsungan simpul-simpul seni di daerah, memperkuat jejaring antarsimpul, mendorong pertukaran ide dan sumber daya alam dan budaya antarwilayah, memastikan semua bisa tumbuh bersamaan,” ujar Ratri seperti dikutip dari laman koalisiseni.or.id.

Ratri menilai, upaya negara untuk mendorong kegiatan seni semasa pandemi patut diapresiasi, namun belum cukup. Prasyarat dasar yang harus dipenuhi negara terlebih dahulu adalah kebutuhan dasar pelaku seni sebagai jaminan kelangsungan hidupnya, pengakuan status seniman, dan pelindungan kebebasan berkesenian.

Ada beberapa dukungan yang bisa dilakukan pemerintah untuk menjaga keberlangsungan komunitas dan meluaskan gaungnya. Yaitu berupa pendanaan skala komunitas, pemerataan akses internet dan bekal literasi digital, serta  pengembangan akses informasi lewat media publik dan jaringan komunikasi lokal.

Di masa depan, pascapandemi COVID-19, pemerintah bisa juga mengaktifkan kembali ruang berkesenian fisik dengan memberlakukan protokol kesehatan khusus, mendorong lebih banyak pihak mendukung seni, dan terus menggulirkan wacana tentang dampak penting seni bagi masyarakat. 

Tulisan selengkapnya bisa diunggah di https://koalisiseni.or.id/membayangkan-ekosistem-seni-pascapandemi/

Sumber:

Foto oleh Amauri Mejía dari Unsplash