covid19filantropi.id

Mempertanyakan Filantropi di Tengah Krisis COVID-19

Selama ini filantropi identik dengan berbuat baik, kedermawanan, kesejahteraan, kemajuan, dan sebagainya. Di tengah krisis COVID-19, baru terlihat ada yang kurang. Keadilan atau hak untuk diperlakukan adil sebagai manusia tampaknya menjadi salah satu unsur yang wajib ditambahkan.

COVID-19 telah memorakporandakan skenario besar filantropi. Dongeng tentang membantu sesama, kedermawanan, kesejahteraan, dan kemajuan —yang telah berkali-kali direvisi—kini sepertinya mulai kehilangan keyakinan. 

Sektor sosial telah mencoba berimprovisasi, menggunakan kalimat-kalimat yang lebih meyakinkan, seperti ‘bertindak nyata’, ‘saling menguatkan’, dan sebagainya. Para investor sosial telah menggelontorkan berbagai dana darurat, yang tak dapat dipungkiri telah berhasil membantu meringankan penderitaan banyak komunitas di seluruh dunia. 

Namun, di tengah krisis akibat COVID-19, semua kisah sukses itu seolah hanyut begitu saja ditelan drama-drama kekerasan yang muncul akibat ketidakadilan kemanusiaan. Kini yang bergaung lebih keras di seluruh dunia hanyalah tiga kata: “We can’t breathe” —dari  kalimat terakhir yang diucapkan George Floyd, “I can’t breathe”, sebelum pria kulit hitam  itu tewas diinjak lehernya oleh polisi kulit putih di Minneapolis, Amerika Serikat (AS), 25 Mei 2020 lalu.

Pertanyaan besar pun mencuat: Akan melangkah ke mana kini filantropi? Apa pula gunanya menjadi investor sosial di masa “new normal” seperti sekarang? 

Seperti kata David Keller, anggota The Philanthropy Workshop (TPW) dan Co-Founder Article3.org, “Kita kini berada dalam periode transisi; tapi transisi menuju apa?” 

Bermitra dengan komunitas

Selama ini filantropi identik dengan memperjuangkan komunitas yang lemah, rentan, miskin, dan terampas hak-haknya. Meskipun mulia, faktanya dunia filantropi telah gagal menciptakan resilience atau “daya tahan” yang sangat diperlukan agar dapat bertahan menghadapi krisis besar seperti COVID-19.

Namun, bukan pula berarti salah. Karena kita juga telah mengembangkan wacana ‘bermitra dengan komunitas’ dan ‘mengenali aset-aset (sosial) yang mereka miliki’. 

Seperti yang dikatakan Suparna Gupta, seorang aktivis perempuan di India, “Perempuan dan gadis di India dan di seluruh dunia merupakan aset dalam setiap komunitas. Kita harus membantu pemerintah di setiap negara agar menyadari potensi besar mereka bagi negara bila dikembangkan dengan baik. Filantropi harus berinvestasi pada kaum wanita dan gadis untuk menciptakan ketahanan jangka panjang pada sebuah komunitas.”

Untuk itu, diperlukan solusi yang sistemik berdasarkan pendekatan yang berpusat pada manusia (human-centered approaches), sehingga kita bisa lebih mengenali urgensi dari sebuah situasi. 

Pentingnya saling terkoneksi  

Bila narasi filantropi berubah, perspektif kita juga perlu berubah. Dalam memutuskan apakah kita sebaiknya membantu dalam skala lokal atau global, itu bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Namun, tetap menghargai perbedaan adalah hal mendasar. 

Seperti dikatakan Dr. Sanjeev Arora, pendiri Project ECHO dalam Telementoring for Health Systems Change at Scale, “Kita semua tahu bahwa sekarang ini kita berada di tengah dunia yang saling terkoneksi. Virus COVID-19 tidak mengenal batas negara. Solusi berdasarkan kebutuhan sebuah negara (country-based solutions) yang masih kita gunakan sekarang tidak akan berhasil, kecuali kalua kita memang ingin membangun dinding pembatas pada setiap negara.  Yang kini kita butuhkan adalah sebuah respons global. Memperbaiki dan menyelamatkan kehidupan di sebuah negara juga berarti menyelamatkan kehidupan di seluruh dunia.”

Epicentrum krisis yang semula berada di Eropa dan AS, kemudian pindah ke Amerika Latin, lalu ke Yaman dan Sudan Selatan, dan seterusnya, dan tetap belum mencapai puncaknya. Rebutan mendapatkan alat pelindung diri (APD) telah membuat para pekerja kesehatan di beberapa negara kekurangan APD, sementara negara-negara saling bertengkar tentang siapa yang harus diprioritaskan mendapatkan vaksinasi.  

“Padahal, kalau yang satu tidak aman, maka tak seorang pun aman. Karena kini kita adalah komunitas yang terkoneksi secara global. Justru sekaranglah dibutuhkan solidaritas global,” kata Dr. Githinji Gitahi, Global CEO AMREF.

Perlunya mengubah pemikiran 

Menghadapi perubahan besar ini, kita perlu memikirkan kembali pemikiran kita (rethinking our thinking) dan mempertanyakan kembali asumsi-asumsi yang telah kita buat. Apakah pertumbuhan selalu baik? Apakah strategis berarti selalu terkontrol? Apakah keputusan-keputusan kita selama ini benar-benar rasional dan objektif? Apa yang dimaksud dengan investasi yang berkeadilan di tengah krisis?  

Langkah pertama untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah memahami pentingnya informasi. Keputusan logis yang dibuat berdasarkan data yang tidak akurat dan tidak transparan sama saja dengan keputusan yang buruk. 

Untuk mendapatkan data yang benar dan akurat diperlukan kolaborasi radikal yang melibatkan pemerintah, institusi akademis, para pemimpin korporasi, dan investor sosial —dengan mengerahkan semua sumber daya dan koneksi yang dimiliki masing-masing. 

Langkah selanjutnya adalah membagun sistem data yang berkeadilan. Tanpa lensa keadilan, kita cenderung akan membuat keputusan yang juga tidak berkeadilan. 

Ada beberapa cara dan pendekatan yang bisa digunakan oleh para investor sosial. Namun yang terpenting adalah tetap menjadikan manusia sebagai pusat tujuan. Desain yang berpusat pada manusia (human-centered design) membuktikan bahwa keputusan yang dibuat oleh manusia sangat dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman subjektif.  

“Karena, filantropi pada hakikatnya berpusat pada manusia, sehingga setiap bagiannya adalah pengalaman-pengalaman (subjektif). Filantropi adalah serial dari pengalaman-pengalaman mikro yang dapat kita desain,” kata Nadia Roumani, Co-founder Hasso Plattner Institute of Design – Stanford University.

Kesejahteraan di tengah krisis

Bicara tentang kemanusiaan berarti juga bicara tentang kesejahteraan. 

“Kita perlu memahami pentingnya kesejahteraan dalam sektor sosial. Bila perubahan bersifat konstan, maka kita harus mempelajari keterampilan  beradaptasi, agar pekerjaan kita dan institusi kita tetap berjalan bai k—itulah  inti dari daya tahan atau ketahanan (resilience),” kata Rohini Nilekani, Pendiri Arghyam

Para pendana (funder) melihat permintaan akan sumber daya meningkat pesat, sementara nilai sumbangsih dan investasi mereka menurun. Dalam kondisi ini, bila mereka tergoda untuk mundur, hal itu dapat dimengerti. Namun menjadi bagian dari sebuah komunitas yang berbagi keyakinan tentang masa depan yang lebih baik, terasa sebagai sebuah kekuatan yang luar biasa.  

Inilah resep sukses yang didambakan para changemakers: data yang baik untuk membuat keputusan yang tepat, serta komunitas yang kompak untuk bersama-sama menghadapi tantangan, dan bersama-sama pula mencari jalan keluar terbaik. 

Kesimpulan: Keseimbangan di Era New Normal

Membangun sebuah kenormalan (baru) yang lebih baik berarti bicara tentang keseimbangan. Sebuah keseimbangan antara respons darurat dan pendekatan jangka panjang; keseimbangan antara intervensi lokal dan global; keseimbangan antara manusia, planet, dan (mengambil) keuntungan. 

Bicara tentang keseimbangan, kita juga harus bisa mengenali ketidakseimbangan dan ketidakadilan di sekitar kita, dan dengan begitu kita bisa menjadikan keadilan atau hak untuk diperlakukan secara adil sebagai “core” narasi baru tentang filantropi.

Mencapai keseimbangan memang bisa  terasa sulit bila kita berputar dan bergerak (terlalu) cepat. Membangun narasi baru, peran baru, dan identitas baru filantropi memang butuh waktu. Namun perjalanan itu bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan. Dengan memegang teguh prinsip-prinsip mulia yang ada, kita punya alasan kuat untuk meyakini bahwa transisi yang kita jalani adalah menuju sesuatu yang lebih baik.

(Disarikan dari artikel yang ditulis oleh Sam Underwood, staf The Philanthropy Workshop (TPW) yang dimuat di www.tpw.org).

Sumber:

Photo by JR Padlan on Unsplash