covid19filantropi.id

Merespons COVID-19: Dibutuhkan Filantropi Terorganisasi untuk Ciptakan Perubahan Nyata

Pandemi COVID-19 hanya memperparah kegagalan ekonomi dan sosial yang sudah ada sebelumnya. Tugas filantropi bukan hanya membantu komunitas-komunitas yang kurang beruntung, melainkan jauh lebih besar daripada itu: menciptakan perubahan yang lebih baik bagi dunia di masa depan secara permanen dan sistemik. Jamie Merisotis, CEO Lumina Foundation dan penulis buku “Human Work in the Age of Smart Machines” menuliskan opininya di www.philanthropy.com.

COVID-19 telah mengungkapkan berbagai keterbatasan dalam merespons kegagalan ekonomi dan sosial dalam skala besar di berbagai belahan dunia. Di Amerika Serikat (AS), misalnya, pandemi ini ikut mengangkat ke permukaan berbagai kebijakan, aksi, keyakinan, dan asumsi yang diskriminatif, rasis, dan tidak adil di tengah masyarakat, khususnya bagi warga kulit berwarna (people of color) yang sudah berlangsung selama berabad-abad.

Kasus kekerasan terhadap George Floyd, pria kulit hitam yang tewas di tangan polisi di Minneapolis, akhirnya berkembang menjadi gerakan Black Lives Matter, yang kemudian bergaung ke seluruh dunia.

Kesadaran akan ketidakadilan tersebut kemudian ditanggapi secara positif oleh banyak pihak. Corporate America, sebagai contoh, akhirnya menyepakati perbaikan kondisi kesehatan bagi para pekerja mereka.

Sejumlah organisasi filantropi —berbagai yayasan, baik yang independen maupun yang bergantung pada donasi korporasi maupun keluarga dan trust— juga ikut merespons. Hispanics in Philanthropy, misalnya, menggunakan Civic Participation Fund (dana partisipasi masyarakat) untuk merespons ketidakadilan terhadap komunitas-komunitas migran hispanik di AS. The Nellie Mae Education Foundation memusatkan kegiatan pada upaya Gerakan antirasis dan antixenophobic (anti terhadap orang asing) dengan membentuk “Racism is a Virus Too” untuk membantu komunitas Asia-Amerika dan Pacific Islander (komunitas dari kepulauan Pasifik). Namun, itu hanya segelintir kecil saja. Respons dunia filantropi pada umumnya belum menyentuh tujuan hakikinya.

Respons dunia filantropi menghadapi pandemi COVID-19 umumnya masih berkutat pada urusan mengumpulkan dana sebanyak mungkin untuk membantu kebutuhan darurat komunitas-komunitas yang terdampak keras pandemi ini. Hal ini dapat dimengerti dan tentunya sangat bermanfaat, namun tidak cukup untuk menciptakan perubahan sistemik yang benar-benar kita dambakan.

Di tengah krisis, terkadang kita mencampuradukkan antara kegiatan amal (charity) dan filantropi— sama-sama berdasarkan  niat baik meskipun tidak memberikan hasil yang sama. Keduanya memang sama pentingnya, tapi sesungguhnya berbeda satu sama lain.

Bukan pula berarti charity tidak penting. Justru sebaliknya: kerelaan untuk memberi dan membantu sesama yang kurang beruntung, serta mempertemukan kebutuhan satu sama lain adalah hal yang fundamental bagi kemanusiaan. Charity akan selalu penting. Namun, itu saja tidak cukup.

Adapun inti dari filantropi adalah menciptakan perubahan-perubahan fundamental bagi kemanusiaan. Fokus filantropi bukanlah pada gejala semata, melainkan pada akar permasalahan. Sifatnya sistemik, bukan episodik; lebih bersifat aktif daripada reaktif. Singkatnya, tujuan utama filantropi bukanlah sebanyak-banyaknya memberikan bantuan, pendampingan, atau pelayanan, melainkan memperbaiki kondisi secara permanen untuk menciptakan masa depan yang lebih baik. 

Rasisme, terutama di AS, bukanlah disebabkan oleh pandemi COVID-19, melainkan sesuatu yang sudah ada dalam masyarakat selama berabad-abad akibat berbagai pendekatan yang keliru, baik pendekatan ekonomi maupun sosial. Kehadiran pandemi COVID-19 hanya memperparah kondisi itu. Oleh karena itu, filantropi harus bisa mengembalikan kita semua sebagai manusia yang hakiki, yang bisa berkoneksi satu sama lain dengan lebih baik dan manusiawi, khususnya di tengah krisis seperti sekarang ini.

Lantas, apa yang harus dilakukan filantropi?

Yayasan atau foundation memiliki tiga kemampuan dan kesempatan untuk mengatasi isu-isu besar seperti ketidakadilan rasial dan pandemi global.  Karena itu, yayasan harus:

Berani mengambil risiko — dan risiko ini vital untuk menghasilkan inovasi yang benar-benar dibutuhkan. Para pembuat kebijakan (pemerintah dan politisi) mungkin menyadari perlunya perubahan fundamental, namun mereka harus menghadapi konsekuensi politis apabila kebijakan yang mereka buat tidak berjalan seperti yang diharapkan. Sementara filantropi memiliki kapasitas untuk mengambil risiko yang tidak bisa dilakukan para politisi. Karena filantropi memiliki aset yang independen, juga karena filantropi tidak berurusan dengan konstituen maupun shareholders yang sangat mengikat para politisi.

Berpikir dan bertindak untuk jangka panjang. Filantropi tidak seperti pemerintah atau dunia bisnis yang harus berfokus pada hasil yang relatif cepat sehingga tidak bisa berinvestasi membangun kapasitas-kapasitas baru yang hanya bisa dicapai dalam jangka waktu panjang. Peluang inilah yang harus diraih oleh filantropi.

Saling melibatkan diri dan saling membantu mengkoordinasi banyak ‘pemain’ yang harus saling bekerja sama untuk menghadapi berbagai krisis ekstensial. Organisasi nirlaba pastinya tidak bisa bekerja sendirian, baik secara finansial maupun sumber daya, untuk menghasilkan perubahan permanen sistemik yang diharapkan. Membangun koalisi antar pegiat filantropi serta saling berbagi dana, teknologi, kekuasaan, dan orang-orang berbakat sangat dibutuhkan untuk menciptakan ekositem yang lebih baik atas dasar kemanusiaan, keadilan, dan kesetaraan sesuai dengan kebutuhan masa depan.

Pada akhirnya, di tahun penuh pergolakan yang tak pernah terbayangkan ini, filantropi memiliki tanggung jawab yang jelas untuk melakukan hal-hal besar yang tidak bisa atau tidak ingin dilakukan oleh organisasi-organisasi lain. Namun, tujuan itu bisa dicapai bukan semata dengan donasi yang melimpah, melainkan juga dengan berfokus terhadap perubahan jangka panjang untuk menciptakan masa depan yang lebih baik bagi generasi selanjutnya.

Tantangan ini begitu besar, terutama di tengah pandemi COVID-19 seperti sekarang ini, sehingga para pegiat filantropi tidak boleh menyia-nyiakan waktu sedikit pun.

Sumber:

https://www.philanthropy.com/article/We-Need-Organized-Philanthropy/249321