covid19filantropi.id

Mutual Aid, Alternatif Filantropi di Tengah Pandemi COVID-19

Mutual Aid, atau orang Indonesia mengenalnya sebagai gotong royong, dianggap sebagai upaya alternatif untuk meringankan beban hidup masyarakat di tengah pandemi COVID-19. Dirangkum dari tulisan Rhodi Davies, Head of Policy Charities Aid Foundation, yang dimuat di  www.cafonline.org, edisi 4 September 2020.

Pandemi COVID-19 yang tidak kunjung usai membuat bantuan dari organisasi-organisasi kemanusiaan terus menyurut. Tentu sangat bisa dimaklumi, karena kini banyak orang atau perusahaan mulai memikirkan kelanjutan hidup dan usaha mereka sendiri  daripada untuk berderma. Organisasi kemanusiaan pun kini banyak yang tengah berjuang keras agar tetap eksis, sementara permintaan bantuan kepada mereka justru semakin melonjak.

Di tengah masa kritis inilah muncul aksi-aksi sosial di tengah masyarakat, umumnya berasal dari kelompok-kelompok lokal baru dengan jaringan yang juga baru. Mereka tampil untuk menjawab tantangan hidup di tengah pandemi COVID-19 dengan mengerahkan kekuatan kolektif dan kebersamaan informal yang akrab dan ramah untuk saling membantu satu sama lain di tengah kesulitan. 

Fenomena itu oleh penulis disebut sebagai “mutual aid”. Masyarakat Indonesia pastinya tidak asing lagi dengan gerakan yang di sini disebut gotong royong, karena sudah berakar di dalam budaya kita selama ratusan tahun.

Fenomena mutual aid ini telah berhasil menarik perhatian para pembuat keputusan di berbagai negara, dan menganggapnya sebagai new source of civic energy, atau sumberdaya energi baru masyarakat madani, yang harus diberi dukungan agar bisa menjadi upaya alternatif bagi pemulihan pasca COVID-19.

Sebagian ahli menyebut gerakan mutual aid sebagai bagian dari filantropi atau kegiatan amal (charity). Namun sebagian lagi mengatakan mutual aid tidaklah sama dengan filantropi atau charity —mekipun dalam aksinya sama-sama melibatkan banyak relawan dan berbuat sesuatu yang baik bagi sesama.

Sejarah panjang di balik mutual aid 

Mutual aid sebetulnya bukan sebuah konsep baru, melainkan telah memiliki sejarah panjang dalam masyarakat di banyak negara. 

Memang tidak mudah membedakan antara mutual aid dan charity, dan tak jarang saling tumpang tindih. Perbedaan mendasarnya lebih kurang ada di sini: Charity diartikan sebagai gagasan dari sekelompok orang yang memiliki aset/kekayaan dan menggunakan aset tersebut untuk membantu orang/kelompok lain yang membutuhkan bantuan. Adapun mutual aid adalah menciptakan struktur-struktur di dalam masyarakat di mana orang-orang di dalamnya saling membantu satu sama lain. Dengan kata lain, orang-orang di dalam kelompok itu berperan sebagai pemberi bantuan sekaligus penerima bantuan.

Di Eropa, termasuk di Inggris, konsep dan aksi mutual aid sudah terentang jauh sejak abad pertengahan. Pada zaman itu masyarakat bekerja bukan hanya untuk mencari nafkah dan memenuhi tuntutan agama, tetapi juga untuk menciptakan kesejahteraan bersama. Yang terakhir ini antara lain diwujudkan dengan membangun lumbung makanan bersama satu desa, atau bersana-sama membangun sekolah bagi anak-anak mereka agar memiliki pendidikan yang lebih baik. 

Pemikir Peter Kropotkin mengatakan bahwa mutual aid sebetulnya merupakan “basic truth of human nature”: bahwa kita sebagai manusia pada dasarnya mewarisi kebutuhan untuk berkolaborasi (collaboration) dan bekerja sama (cooperation) dengan orang lain. Hanya saja kebutuhan itu belakangan terhapus sedikit demi sedikit ditelan tuntutan zaman yang membentuk masyarakat menjadi lebih individualis.  
 
Pandemi COVID-19 dan Mutual Aid

Pada awal-awal meebaknya COVID-19, mulai bermunculan aksi-aksi mutual aid yang bersifat lokal dan berbasis komunitas: kebanyakan melalui group-group yang dikoordinasi lewat media sosial seperti facebook. The New Local Government Network melaporkan, sampai Juli 2020, ada lebih dari 4.000 group telah terbentuk di Inggris. Mereka mengumpulkan partisipan jauh lebih cepat daripada cara-cara tradisional. Fenomena mutual aid sungguh merupakan demonstrasi tentang “kekuatan komunitas”.  

Mengapa mutual aid tumbuh subur justru di masa pandemi COVID-19? Itu karena dampaknya dirasakan oleh semua orang di seluruh dunia, dan oleh semua kalangan tanpa pandang kaya-miskin, ras, agama, dan sebagainya, sehingga menimbulkan semangat kolektif untuk saling meringankan penderitaan.

Dengan memahami lebih baik fenomena mutual aid ini, kita akan bisa menilai sejauh mana dampaknya mampu menumbuhkan dan mengubah bentuk masyarakat madani yang ada sekarang. Namun, untuk sampai ke sana, ada beberapa pertanyaan yang perlu diajukan:

• Apakah kelompok-kelompok mutual aid ini akan berlangsung lama/teruji oleh waktu, ataukah hanya bentuk respons yang hangat-hangat tahi ayam di tengah kondisi yang unik?

• Sejauh mana faktor-faktor pendukungnya (para relawan yang berjumlah banyak) dapat bekerja dengan maksimal di tengah pembatasan sosial di masa pandemi?  

• Apakah mutual aid menawarkan partisipasi relawan yang “lebih” daripada relawan charity tradisional? Kalau ya, tawaran apa yang dianggap lebih menarik? Dapatkah aktivitas mereka terus berlangsung ketika orang-orang mulai kembali bekerja dengan normal? 

• Apakah antusiasme tentang mutual aid menawarkan sebuah peluang untuk memperluas jangkauan masyarakat sipil? Ataukah hanya sekadar membagi-bagi kue yang itu-itu saja alias sekadar pengganti kegiatan amal yang sebelumnya mereka lakukan? 

• Adakah sisi gelap dari mutual aid? Misalnya, apakah mutual aid bisa mengurangi empati atau rasa kasih bagi mereka yang berada di luar kelompok?
• Apajah jaringan (network) mutual aid dapat menjembatani berbagai komunitas dan demografi yang berbeda-beda? Ataukah hanya sekadar mempererat bonding di dalam suatu komunitas/demografi saja? 

• Apa peran teknologi dalam membentuk jaringan mutual aid? Apakah untuk membentuk sebuah jaringan yang benar-benar baru, ataukah hanya sekadar mempercepat dan memperluas skalanya saja? 

• Apa saja yang perlu kita pelajari dari tradisi/budaya gotong royong dan saling membantu tradisional yang sudah ada secara turun temurun di berbagai negara, seperti Harambee di Kenya, atau Ubuntu di Afrika Selatan? 

• Bagaimana para politisi dan pembuat keputusan menginterpretasikan fenomena mutual aid ini? Karena bisa saja pandangan mereka berbeda-beda, sehingga pada akhirnya fenomena ini tidak akan jadi apa-apa.

Sebaiknya kita tidak cepat bersikap skeptis dulu. Apa pun jawabannya, gerakan mutual aid diharapkan tetap bisa memberi sumbangan berarti dalam upaya pemulihan ekonomi dan social pasca pandemi COVID-19.

Sumber:

https://www.cafonline.org/about-us/blog-home/giving-thought/the-role-of-giving/charity-philanthropy-and-mutual-aid-post-covid