covid19filantropi.id

Nasib Pendidikan Anak Selama COVID-19, Cek Efek Bantuannya

Meski tidak dibuat sabagai tanggapan terhadap pandemi COVID-19, tapi sepertinya keberadaan yayasan bantuan ini hadir pada waktu yang tepat. Dengan sekolah ditutup karena pandemi, kebutuhan akan inovasi pendidikan menjadi lebih besar.

Wabah COVID-19 pun ternyata berpeluang mengganggu pola pembelajaran anak-anak. Hanya bantuan dana yang bisa mengatasinya. LaTasha Adams, misalnya. Pendiri Dominion Literacy ini, melalui organisasi nirlaba tersebut, menawarkan lokakarya gratis kepada orang tua tentang membangun literasi di antara anak-anak prasekolah.

Ketika wabah COVID-19 dimulai, Dominion harus mengubah instruksinya secara online. Tapi situasi tersebut tidak menghambat Adams, yang juga dikenal sebagai seorang professor perguruan tinggi. Dengan bantuan dana baru, Dominion terus berkembang dan tetap membantu pendidikan anak-anak.

Beruntung Dominion mendapatkan bantuan dari berbagai pihak. Dana Pendidikan VELA, misalnya, dari Walton Family Foundation dan Institut Charles Koch, ikut mendukung Dominion, karena mereka punya prinsip membantu keluarga yang mendidik anak mereka dengan cara inovatif. “Kami mencari akses langsung ke orang tua dan pengusaha,” jelas Marc Sternberg dari Walton. Dana tersebut diluncurkan dengan total dana awal $5 juta dari kedua donor tersebut.

Dukungan VELA untuk Dominion Literacy diteruskan melalui 4.0 Schools, inkubator reformasi pendidikan yang telah mendukung Dominion sejak awal. “Misi kami adalah mendekatkan sumber daya kepada para pemimpin komunitas, kaum muda, keluarga, dan pendidik yang memiliki gagasan tentang seperti apa masa depan sekolah nantinya,” kata Hassan Hassan, Leader of 4.0.

Kelompok Hassan ini akan menginvestasikan $ 300.000 dana VELA dalam 20 hingga 30 kelompok pada musim gugur ini. Hassan juga memikirkan kebutuhan mendesak yang mungkin tidak dapat dipenuhi oleh model sekolah yang ada,.

Selain untuk anak-anak prasekolah, Dominion Literacy menggunakan dana hibahnya untuk memberikan pelatihan literasi ekstrakurikuler kepada anak-anak usia SD hingga kelas enam. Adams akan mengatur “wadah orang tua” sehingga para ibu dan ayah dapat bertemu setiap bulan untuk berbagi strategi dan menciptakan “komunitas belajar” bersama.

Meski VELA tidak dibuat sabagai tanggapan terhadap pandemi COVID-19, tapi sepertinya keberadaannya hadir pada waktu yang tepat. Dengan sekolah ditutup karena pandemi, kebutuhan akan inovasi pendidikan menjadi lebih besar.

Meredith Olson, yang bertanggung jawab atas K-12 Strategy di Charles Koch’s Stand Together, mengatakan dana tersebut pada akhirnya dapat diperluas untuk mendukung kelompok yang berfokus pada elemen pendidikan tertentu, atau wilayah tertentu. Persyaratan umumnya adalah penerima hibah bekerja sama dengan keluarga untuk menentukan kebutuhan nyata mereka. “Sebelum COVID-19, maksimal 5 persen siswa menerima pendidikan dengan cara yang tidak konvensional,” katanya. “Sekarang hampir semua siswa menerima pendidikan di luar ruang kelas tradisional.”

The National Parents Union (NPU), salah satu mitra VELA lainnya, adalah sekelompok orang tua pendukung pendidikan dari 50 negara bagian . Mereka bertujuan memberikan sumber daya kepada keluarga, untuk secara kreatif memenuhi kebutuhan pendidikan mereka.

“Apa yang kami lihat dalam krisis di masa lalu dan sekarang dalam pandemi global ini, adalah bahwa keluarga dipaksa untuk berinovasi menjadi desainer pembelajaran dalam semalam. Beberapa keluarga memiliki sumber daya untuk melakukan itu, dan banyak yang tidak,” jelas Hassan.

Pandemi COVID-19 telah mempercepat upaya mendekatkan sumber daya ke keluarga-keluarga ini. Yaitu menempatkan donor di pihak ibu dan ayah yang berharap dapat menyesuaikan jalur kebutuhan pendidikan untuk anak-anak mereka.

Sumber:

https://www.philanthropyroundtable.org/philanthropy-magazine/article/new-styles-of-school-choice