covid19filantropi.id

Pandemi COVID-19, Aksi Filantropi dari Mencegah sampai Mengatasi

Sejumlah program dikerahkan kalangan lembaga filantropi untuk mengatasi wabah virus korona 2019 (COVID-19).  Dari program mencegah, membatasi hingga mengatasi penyebarannya.

Pada sebuah acara webinar beberapa waktu lalu, Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Ace Hasan Syadzily menyebutkan bahwa lembaga-lembaga filantropi di Indonesia turut membantu negara menangani COVID 19.

“Sesungguhnya  filantropi membawa angin segar bagi ketahanan bangsa kita dalam menghadapi COVID-19,” katanya.

Pernyataan yang juga ditulis di laman republika.co.id Sabtu 23 Mei 2020, itu menyebutkan negara harus berterima kasih kepada filantropi yang sudah terbangun dalam tradisi umat Islam Indonesia.

Beberapa contoh aksi filantropi itu pundituliskan di laman republika.co.id yang bertajuk ‘Filantropi Peduli Wabah COVID-19’. Disebutkan bahwa Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), misalnya, telah memiliki Rencana Aksi Nasional (RAN) dalam penanggulangan COVID-19.  Direktur Utama Baznas M Arifin Purwakananta mengatakan, pihaknya memiliki program layanan mustahik guna mencegah, membatasi, dan mengatasi COVID-19.

“Kami membantu ke masyarakat seperti pemberian masker. Sekarang akan kami tingkatkan. Dalam masa darurat ini, kami sediakan dana sebesar Rp 2 miliar, untuk kami evaluasi kembali dan kami tingkatkan,” kata Arifin melalui pesan elektronik kepada Republika, Rabu, 18 Maret 2020.

Beberapa program yang digelar, di antaranya uji swab tenggorokan dan perluasan akses pengujian sampel, pengadaan massal hand sanitizer dan masker sebanyak 20 ribu lembar, pengadaan massal alat perlindungan diri (APD) //hazmat// bagi tenaga kesehatan, tenaga kebersihan, relawan, dan institusi-institusi pendukung dari masyarakat yang disediakan sebanyak 5.000 buah.

Selanjutnya, ada program cuci karpet masjid sampai pemulasaraan jenazah hingga pemakamannya, layanan ruang observasi isolasi ODP atau PDP, dan layanan wastafel sehat. Klinik-klinik Rumah Sehat Baznas pun disiagakan. Para mustahik sakit bisa memeriksakan diri, dan jika terindikasi COVID-19 bisa di kirim ke rumah sakit rujukan.

Di laman yang sama disebutkan bahwa upaya serupa juga dilakukan Dompet Dhuafa (DD). Direktur Utama Dompet Dhuafa Filantropi Imam Rulyawan mengatakan, DD telah meluncurkan aksi Cegah Tangkal (Cekal) Corona pada Ahad (15/3). DD, menurut Imam, juga menyiapkan unit khusus dan program-program pengendalian kasus COVID-19.

Ada 30 unit ambulans yang disiagakan, 8 rumah sakit, 21 klinik dan layanan kesehatan untuk melayani masyarakat, dan merujuk ke rumah sakit yang ditunjuk bila ditemukan indikasi COVID-19. Begitu ditambahkan Imam, melalui pesan elektronik kepada Republika.

Pembagian masker di bandara juga dilakukan untuk mengantisipasi jumlah turus dari Cina yang cukup tinggi. Begitu diungkapkan Direktur Komunikasi Aksi Cepat Tanggap (ACT) Lukman Aziz. Itu salah satu bukti bahwa ACT telah mengantisipasi wabah COVID-19, bahkan saat wabah tersebut belum masuk Indoneisa.

ACT, lanjut Lukman, juga mendistribusikan air minum karena virus ini menjangkiti seseorang yang kurang minum air. Dengan demikian, dia pun mengajak masyarakat untuk menjaga daya tahan tubuh di antaranya dengan memperbanyak minum air. Bahkan, beberapa armada pun telah dikirim ke sejumlah lokasi terdampak korona. Antara lain 2 unit ambulans standar rumah sakit untuk kegawatdaruratan, 3 unit kendaraan dapur umum berjalan, dan water tank air minum wakaf untuk kebersihan, penyemprotan, wudhu, cuci tangan, dan sebagainya.

Tim Crisis Center untuk membantu mengatasi wabah COVID-19 pun ternyata sudah dibentuk oleh Lembaga filantropi Rumah Zakat. Terpenting, juga bahwa  protokol kesiapsiagaan atau keamanan bagi para relawan sebagai pejuang kemanusiaan pun sudah dipraktekkan secara internal. “Secara internal harus kita amankan dulu supaya kita bisa lebih banyak membantu,” ucap CEO Rumah Zakat Nur Efendi.

Sama dengan filantropi lainnya, Rumah Zakat juga berupaya membuat masjid-masjid aman, bersih dan sehat. Termasuk juga di area-area fasilitas publik seperti stasiun, halte, dan angkutan publik yang harapannya bisa membantu menyelamatkan warga.

Dari semua potret aksi tersebut, tak heran jika Ace mengatakan, akar kultural rakyat Indonesia sesungguhnya memiliki tradisi filantropi yang cukup tinggi. Indeks sosial kita termasuk filantropi itu sangat baik.  

Bahkan kita sejajar Skandinavia, seperti Norwegia, Denmark, Eslandia dan Finlandia. “Ini akar yang cukup kuat yang bisa menumbuhkan daya tahan kita sebagai sebuah bangsa. Akar ini harapan saya harus terus ditumbuhkan”, lanjut Ace.

Selanjutnya Ace juga menyebut bahwa lembaga-lembaga filantropi membutuhkan kepercayaan masyarakat dan pengelolaan yang akuntabel. Saat ini yang harus dilalukan oleh semua pihak adalah bagaimana kita semua mampu menghimpun akar kultural bangsa Indonesia yang begitu luar biasa untuk kemudian membangun kepercayaan terhadap lembaga-lembaga filantropi.  Di laman tersebut juga diungkapkan bahwa Ace menyinggung pandemi COVID-19 dan meminta pemerintah konsisten dalam kebijakan penanganannya, serta tidak mengeluarkan kebijakan yang kontroversial.

Sumber:

https://www.republika.id/posts/5446/filantropi-peduli-wabah-COVID-19

https://republika.co.id/berita/qarw7j380/filantropi-menjadi-kekuatan-indonesia-hadapi-wabah

Image by Alexandra_Koch from Pixabay