covid19filantropi.id

Pandemi Covid-19: Ketangguhan Perempuan Pelaku UMKM Kembali Diuji

Data Kementerian Koperasi dan UMKM menunjukkan, UMKM yang dikelola perempuan mencapai 64,5% dari total UMKM di Indonesia, atau mencapai 37 juta UMKM. Adapun kontribusi pendapatan perempuan mencapai 36,7%. Namun, pandemi COVID-19 membuat nasib perempuan pelaku UMKM kini terancam.

Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) disebut-sebut sebagai tulang punggung sekaligus  penyelamat perekonomian Indonesia saat diterjang Krisis Moneter 1998 dan krisis ekonomi 2008. Namun, menghadapi krisis ekonomi akibat pandemi COVID-19 yang melanda seluruh dunia, tampaknya sector UMKM nyaris terkapar.

Mengutip tempo.co edisi 20 Mei 2020, sebanyak 47 persen UMKM terpaksa gulung tikar akibat terdampak pendemi COVID-19.

Padahal, data Kementerian Koperasi dan UMKM Tahun 2017 menunjukkan bahwa UMKM memiliki pangsa sekitar 99,99% (62.9 juta unit) dari total keseluruhan pelaku usaha di Indonesia, dan menyerap sekitar 97% tenaga kerja nasional. UMKM juga menyumbang PDB hingga 60,34 persen. 

Bukan hanya itu, UMKM secara tidak langsung juga ikut memberdayakan kaum perempuan, khususnya para ibu rumah tangga yang mengais tambahan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Bahkan banyak perempuan pelaku UMKM merupakan pencari nafkah utama dalam keluarga. Menurut data, UMKM yang dikelola perempuan mencapai 64,5% dari total UMKM Indonesia atau mencapai 37 juta UMKM, dan kontribusi pendapatan perempuan pelaku UMKM mencapai 36,7%.

Pelaku UMKM di Indonesia memang didominasi kaum perempuan. Kontribusi UMKM yang dikelola perempuan terhadap PDB mencapai 9,1 persen. Sementara kontribusi  terhadap ekspor lebih dari lima persen. Dengan demikian, terkaparnya UMKM sebagai dampak pandemi COVID-19, sama dengan terkaparnya nasib banyak perempuan pencari nafkah di Indonesia.

Menteri Koperasi dan UMKM Teten Masduki mengatakan, berdasarkan hasil survei yang dilakukan sejumlah lembaga independent dan Kementerian UMKM, wabah COVID-19 memberi dampak besar terhadap keberlangsungan UMKM.

Pelaku UMKM pada saat ini harus menghadapi masalah yang serius. “Diramalkan 47 persen UMKM berhenti berusaha,” kata Teten melalui diskusi virtual yang digelar Perhimpunan Organisasi Alumni Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (Himpuni), pada 20 Mei 2020 lalu.

Sumiah, 58 tahun, adalah salah seorang perempuan pelaku UMKM yang menjadi korban. Ia hanya bisa menatap kosong lalu lalang kendaraan yang melintas di salah satu halte di bilangan Jalan Sudirman, Jakarta Pusat, pada suatu sore, 18 Maret 2020. Tahu, bakwan, dan tempe goreng yang ia buat di rumah, tampak masih penuh di wadahnya.

Biasanya, orang-orang yang hilir mudik membeli jajanannya. Tapi sejak penerapan ‘belajar, bekerja, dan beribadah dari rumah’, dagangannya sepi pembeli. Pedagang kakilima ini mengaku pendapatan hariannya anjlok sampai 50%.

Padahal, Sumiah adalah tulang punggung keluarga.  Kini ia khawatir tidak dapat melanjutkan biaya sekolah anak dan cucunya, lantaran suaminya sudah 10 tahun menderita stroke.

Nasib Satuni bahkan lebih mengenaskan. Pedagang jajanan di depan sebuah sekolah di Jember, Jawa Timur, ini mengatakan bahwa  dagangannya kini sepi pembeli, karena yang biasa membeli adalah siswa sekolah tersebut. Namun karena sekolah diliburkan sejak Maret hingga sekarang akibat pandemi COVID-19, Satuni tidak  berjualan lagi. Selain itu, ia pun kehabisan modal berjualan, karena modal yang ada terpakai untuk kebutuhan sehari-hari.  

Sumiah dan Satuni merupakan dua di antara 116 juta wanita  pelaku UMKM di Indonesia yang terdampak keras pandemi COVID-19. 

Jumlah UMKM yang tersebar di seluruh Indonesia berjumlah 62,9 juta unit, yang meliputi sektor perdagangan, pertanian, peternakan, kehutanan, perikanan, pertambangan, pengolahan, bangunan, komunikasi, hotel, restoran, dan jasa-jasa.

Saat Indonesia mengalami krisis moneter 1998, UMKM menjadi penyangga ekonomi nasional, menyerap tenaga kerja, dan menggerakkan perekonomian. Sementara di masa krisis keuangan global 2008, UMKM tetap kuat menopang perekonomian.

“Namun, sektor ini ternyata tak mampu menahan krisis akibat COVID-19,” kata Enny Sri Hartati, ekonom senior dari Institute for Development of Economic and Finance (INDEF), kepada BBC Indonesia, pada 18 Maret 2020.

“Ketika terjadi krisis keuangan pada 1998 dan 2008, pelaku UMKM tidak terafiliasi langsung dengan sektor keuangan, jadi relatif aman-aman saja. Terlebih banyak UMKM  memang tidak pernah mendapatkan akses pembiayaan dari sektor finansial seperti bank, jadi tidak ikut terimbas dengan kenaikan suku bunga bank, melejitnya nilai dolar terhadap rupiah, dan sebagainya,” papar Enny,

Namun kali ini UMKM justru menjadi sektor yang paling rentan terhadap krisis ekonomi akibat COVID-19. “Apalagi krisis akibat pandemi ini juga dialami hampir semua negara di dunia,” katanya. 

Karena itu, tambah Enny, yang paling dibutuhkan adalah intervensi serius dari pemerintah secepat-cepatnya untuk membangkitkan kembali sektor UMKM. Juga adanya peran serta aktif dari organisasi-organisasi nirlaba yang berfokus di bidang perekonomian mikro dan pemberdayaan perempuan.

Sumber:

https://www.pikiran-rakyat.com/nasional/pr-01400810/bantu-umkm-perempuan-terdampak-covid-19-act-jember-buat-program-sahabat-usaha-mikro-indonesia?page=2

https://bisnis.tempo.co/read/1344540/47-persen-umkm-bangkrut-akibat-pandemi-corona/full?view=ok

https://www-bbc-com.cdn.ampproject.org/v/s/www.bbc.com/indonesia/indonesia-51946817.amp?amp_js_v=a3&amp_gsa=1&usqp=mq331AQFKAGwASA%3D#aoh=15959244835438&referrer=https%3A%2F%2Fwww.google.com&amp_tf=From%20%251%24s&ampshare=https%3A%2F%2Fwww.bbc.com%2Findonesia%2Findonesia-51946817

Photo source: pikiran-rakyat.com