covid19filantropi.id

Pandemi COVID-19: Media Sosial Ubah Perilaku Berderma

Gotong royong ternyata masih menjadi jiwa masyarakat Indonesia, khususnya di masa pandemi COVID-19. Namun, kehadiran internet dan media sosial telah mengubah budaya berderma kita.

Internet dan media sosial kini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia di seluruh dunia. Terutama di kalangan Generasi Milenial atau Generasi Y – yang sejak di dalam kandungan sudah terpapar internet dan media sosial. Nyaris seluruh aspek kehidupan kini sudah dimasuki oleh kedua ‘penyusup’ ini.

Jaringan internet memungkinkan hampir semua orang di seluruh dunia kini memiliki akun media sosial (medsos). Mulai dari Facebook, Instagram, Whatsapp, dan sebagainya, yang memungkinkan kita saling terhubung – di dunia maya — dengan orang-orang atau hal-hal yang telah kita kenal maupun tidak kenal sebelumnya. Begitu hebatnya pengaruh media sosial bagi masyarakat sehingga, berhasil mengubah tatanan dan perilaku kita sehari-hari. Salah satunya perilaku berderma.  Dan hal ini makin terlihat jelas di masa pandemi COVID-19.

Donasi Daring Makin Disukai

Dahulu, kita berderma kepada orang atau pihak yang kita kenal atau ketahui. Bantuan pun diberikan secara langsung, atau lewat orang yang kita kenal, agar sampai dengan selamat kepada pihak yang kita tuju.

Namun, di zaman sekarang, makin banyak orang tak ragu berderma lewat media sosial secara daring atau online. Orang atau pihak yang kita bantu sering kali tidak kita kenal sama sekali. Pihak-pihak yang menggalang derma pun tak ada yang kita kenal, kecuali sekadar profil organisasi mereka.

Tapi, mengapa orang tidak ragu lagi berderma secara online

Menurut Sugeng Winarno, Pegiat Literasi Media dan Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), lewat tulisannya di Kumparan.com pada 5 April 2020, media sosial antara lain memiliki fungsi memengaruhi orang lain, termasuk memengaruhi untuk berbuat baik bagi sesama.

Aksi derma yang dilakukan seorang selebriti atau tokoh masyarakat yang memiliki banyak pengikut di media sosial, misalnya, bisa memengaruhi banyak orang untuk melakukan hal yang sama. Kisah pilu orang-orang yang hidupnya kurang beruntung, yang diunggah di media sosial, bisa menggugah rasa iba dan solidaritas, sehingga orang jadi tergerak ikut menolong. 

Mengutip tulisan Aditya Widya Putri yang dimuat di Tirto.id, 25 Agustus 2017, hasil penelitian Georgetown University terhadap lebih dari 2.004 pengguna internet di Amerika Amerika Serikat usia 18 tahun ke atas, menunjukkan, sebanyak 76% responden menyatakan perlu memengaruhi orang lain untuk melakukan kegiatan sosial, atau minimal mengajak orang lain jadi peduli pada masalah sosial. Sebanyak 82% setuju media sosial efektif membuat lebih banyak orang bersimpati terhadap masalah sosial. Dan 55% mengaku tergerak membantu.

Fakta ini kemudian ditangkap dengan cerdas oleh kelompok-kelompok filantropi – dari yang berskala nasional dan internasional hingga kelompok komunitas lokal – untuk menggalang dana dari masyarakat (crowdfunding), sekaligus menyalurkannya ke pihak-pihak yang membutuhkan. 

Mereka lantas membangun platform teknologi digital untuk memfasilitasi orang-orang yang ingin menyumbang secara online. Kitabisa.comBenihBaik.com, dan dompetdhuafa.org adalah sebagian organisasi crowdfunding berbasis online yang banyak dikenal netizen Indonesia. 

Singkat kata, berderma lewat daring kini dianggap lebih mudah, praktis, efektif, tepat sasaran, akuntabel, dan sangat cocok untuk kondisi pandemi COVID-19 yang membuat ruang gerak masyarakat jadi terbatas dengan adanya keharusan tinggal di rumah dan menjaga jarak. 

‘Wajib’ Diposting di Media Sosial

Dahulu kita selalu diingatkan agar bila membantu seseorang sebaiknya tidak diketahui orang lain. Atau seperti kata pepatah: apabila tangan kanan memberi, tangan kiri jangan sampai tahu. Tujuannya agar kita tidak terjebak dalam tindakan riya atau pamer.

Namun, di zaman medsos ini, yang terjadi justru sebaliknya. Hampir setiap bantuan yang diberikan kepada masyarakat seolah wajib diunggah di media sosial, baik dalam bentuk narasi, foto, maupun video. Tak jarang, sumbangannya tak seberapa tapi hebohnya di medsos luar biasa.

Sebagian orang dari generasi yang lebih tua (baby boomer maupun Generasi X) mungkin merasa jengah melihat pameran kedermawanan semacam itu. Namun, mau tak mau, suka tak suka, perubahan itu tak bisa dihindari dan harus diterima dengan lapang dada. Zaman ini adalah milik Generasi Milenial atau Generasi Y, para ‘penguasa’ internet dan media sosial.

Apakah berarti para penderma zaman sekarang memang lebih senang pamer dan pencitraan? Jawabannya bisa ya, bisa tidak. Karena bisa saja yang mengunggah ke media sosial bukan si penderma sendiri, melainkan orang lain – yang dikenal maupun tak dikenal.

Kendati begitu, mengutip tulisan Iip Afifullah yang dimuat di IDNTimes.com, 22 April 2019 lalu, ada kalanya kita memang perlu umbar atau pamer kebaikan di media sosial. Iip mengajukan beberapa alasan, berikut 3 di antaranya:

1. Untuk memberi inspirasi kepada orang lain agar juga melakukan kebaikan, serta memberi teladan kepada generasi muda. Generasi Milenial atau generasi Y adalah generasi yang pragmatis. Bila kita ingin mereka melakukan suatu yang baik, berilah contoh nyata, bukan sekadar wacana.  

2. Untuk mempertanggung jawabkan kepada orang atau pihak lain yang ikut menyumbangkan dana (terutama melalui crowdfunding) atau bantuan lain. Mereka harus tahu berapa jumlah dana terkumpul, siapa saja yang menerima, kana dan di mana penyerahannya, bahkan kalau perlu ada testimoni dari penerima bantuan. Dan semua itu bisa disampaikan secara transparan lewat media sosial.

3. Jejak digital kebaikan tidak akan hilang ditelan waktu. Melakukan kebaikan membuat kita bahagia. Dengan jejak digital yang tetap tersimpan, kita bisa menikmati kembali kebahagiaan itu setiap saat. Selain itu, siapa tahu jejak digital Anda berguna untuk melengkapi portofolio Anda saat melamar pekerjaan atau beasiswa.

Meskipun begitu, ada norma yang harus tetap dipegang dan dipertahankan, karena menyangkut nilai dasar kemanusiaan. Yaitu: Silakan menolong orang lain, tapi jangan sampai melukai harga diri orang yang ditolong. 

Nasihat dari Jim Carrey, aktor dan komedian senior Hollywood, berikut ini pantas kita renungkan:

“Imagine struggling with being homeless and someone comes with a camera in your face to give you a meal, and you have to take it… Imagine that feeling. Please stop doing that. If you go help someone, do it with kindness and not with your ego.” 

Sumber:

https://tirto.id/donasi-lewat-media-sosial-tak-selalu-tepat-sasaran-cu9E

https://www.idntimes.com/life/inspiration/iip-afifullah/5-alasan-orang-wajib-umbar-kebaikan-di-medsos-im3-c1c2

https://kumparan.com/tugumalang/opini-donasi-daring-corona-1tAAJQmrXxT

Foto oleh Edar dari Pixabay