covid19filantropi.id

Penguatan Filantropi di Negara Kawasan Selatan Hadapi Pandemi COVID-19

Perkembangan sektor filantropi di dunia selatan tidak lepas dari pengaruh pandemi COVID-19. Kondisi saat ini menjadi lahan eksperimen baru untuk menilai apa dan bagaimana menghadapi tantangan baru yang dihadapi oleh lembaga filantropi. Namun disisi lain, pandemi memberikan kesempatan untuk menilai keadaan dan pertumbuhan sektor filantropi di negara berkembang. Di saat ini pula lembaga filantropi dapat mengindentifikasi peluang, tantangan, dan inisiatif baru guna meningkatkan dampak.

Di negara selatan, pandemi COVID-19 mempercepat kebangkitan kelembagaan filantropi. The Centre for Strategic Philanthropy (CSP) University of Cambridge dalam penelitiannya berjudul “Philanthropy and COVID-19: Is the North – South Power Balance Finally Shifting” menyebutkan ada tiga hambatan yang dialami oleh lembaga filantropi di dunia selatan. Ketiga hambatan tersebut adalah infrastruktur dan jaringan filantropi yang lemah, kolaborasi yang tidak mencukupi di dalam dan antar sektor, serta kurangnya pendanaan inti untuk membangun ekosistem dan ketahanan nirlaba.

Untuk mengatasi tantangan yang dihadapi oleh lembaga filantropi di dunia selatan, CSP menyerukan tiga langkah utama yang dapat diambil. Pertama, mendanai lembaga filantropi untuk membangun infrastruktur, kapasitas, dan pengetahuan. Langkah awal ini bertujuan untuk meningkatkan kelembagaan filantropi di dunia selatan. Investasi dalam pengembangan infrastruktur pengumpulan dan analisis data juga penting untuk dilakukan. Nantinya, kedua tools ini dapat membantu lembaga filantropi untuk menyelaraskan tujuan, program, dan kebijakannya dengan SDGs.  

Kedua, meningkatkan kemitraan antara pemerintah dan pegiat filantropi di negara selatan. Kemitraan yang solid antar kedua aktor ini harus menjadi new normal di sektor filantropi. Melalui kolaborasi seperti ini memberikan kesempatan kepada pemerintah untuk menyuarakan kebutuhannya akan modal dan inovasi tambahan. Sedangkan bagi lembaga filantropi ini menjadi wadah untuk menyalaraskan dengan kebijakan pembangunan nasional serta meningkatkan pengimplementasian praktik baik di tempat lain.

Ketiga, membangun ketahanan lembaga dengan mendanai biaya inti. Krisis akibat pandemi COVID-19 melahirkan kebebasan pendanaan untuk tujuan yang lebih fleksibel. Perkembangan yang disambut baik dalam filantropi tahun ini adalah pendanaan yang lebih sederhana, lebih cepat, dan fleksibel yang tersedia bagi penerima hibah.

Jika tantangan dihadapi oleh lembaga filantropi di negara selatan dapat diatasi secara perlahan namun pasti maka akan ada pergesaran dinamika kekuatan. Pergeseran yang terjadi akan mengubah hubungan filantropi dunia utara dan selatan, yang selama ini tidak seimbang. Bagi lembaga filantropi di negara selatan sendiri, pada akhirnya lembaga dapat menghasilkan program dan kebijakan yang positif dimana membantu mampu memberikan dampak sosial yang lebih berkelanjutan dan terukur.

Sumber:

https://www.jbs.cam.ac.uk/wp-content/uploads/2020/12/csp-report-covid-2020.pdf

https://www.alliancemagazine.org/blog/cambridge-csp-research-looks-at-the-philanthropy-power-balance-after-covid-19/