covid19filantropi.id

Peran Perempuan Hidupkan Ekonomi di Masa Pandemi COVID-19 *)

Memanfaatkan teknologi online, banyak perempuan Indonesia berjualan makanan lokal demi bertahan hidup di tengah pandemi COVID-19, sekaligus ikut menggerakkan perekonomian negara yang lesu.

Untuk menggerakkan kembali roda perekonomian selama pandemi COVID-19, sekaligus untuk mengakomodasi instruksi menjaga jarak, mau tak mau harus dilakukan disrupsi pasar dengan beralih ke platform digital. Bukan hanya untuk pasar global, tapi juga pasar lokal. 

Tak dapat disangkal, pandemi COVID-19 telah memberi dampak negatif pada sistem pangan kita, melemahkan perekonomian, dan meningkatkan rasa tak aman (insecure) menyangkut kondisi pangan global. 

Di Indonesia, menurunnya pemasukan negara akibat diberlakukannya pembatasan pergerakan masyarakat, juga diikuti dengan menurunnya kemampuan belanja rumah tangga dan berkurangnya pasokan bahan pangan, terutama di kota-kota. 

Asesmen global menunjukkan bahwa konsumen di kota lebih rentan dihinggapi rasa cemas terkait keterbatasan bahan pangan di pasaran selama pandemi, mengingat mereka umumnya mendapatkannya dengan membeli, bukan hasil menanam sendiri seperti halnya masyarakat di desa. Riset lain menggarisbawahi pentingnya jaringan pangan informal untuk mengatasi insecurity tersebut selama dan pasca krisis COVID-19. 

Perempuan lebih banyak berperan

Hal ini terutama terlihat di Jakarta, area yang menjadi fokus penelitian para penulis artikel ini. Jaringan pangan informal di Jakarta telah berkembang dalam beberapa tahun terakhir, namun meningkat pesat selama pandemi COVID-19. Yang patut dicatat, kaum perempuanlah yang lebih banyak memainkan peran esensial dalam hal menciptakan, mengembangkan, dan memelihara kelangsungan jaringan tersebut dengan menggunakan teknologi digital.  

Mempelajari bagaimana para perempuan tersebut memanfaatkan jaringan pangan informal ini juga menunjukkan semakin kaburnya batasan antara pekerjaan formal (yang dibayar) dan pekerjaan informal yang diciptakan dan dirawat dengan baik oleh para perempuan tersebut (sebagian adalah ibu rumah tangga) untuk menciptakan food security bagi keluarga dan komunitas mereka. 

Selain yang dilakukan dalam format digital, jaringan pangan informal ini juga meliputi aktivitas urban agriculture (bertani di lahan rumah dan kota), menjual makanan di sepanjang kaki lima jalan, hingga mengumpulkan sisa-sisa makanan rumah tangga untuk dijadilan pupuk organik.  

Di sini peran perempuan adalah kunci —sebagai  konsuimen, pembuat produk (producer), dan distributor. Merekalah yang dengan giat mengembangkan sekaligus memelihara jaringan ini di tengah kominitas perkotaan. 

Ada banyak alasan mengapa mereka melakukan kegiatan ini. Mulai dari mencari tambahan penghasilan, hingga agar keluarga mereka tetap bisa makan dengan layak selama pandemi COVID-19. Jaringan media sosial menjadi peran kunci bagi mereka dalam kegiatan menawarkan, menjual, membeli, mendistribusikan, dan menyumbang makanan atau produk pangan. Dan bagusnya hal ini didukung penuh oleh pemerintah yang juga giat memberikan pelatihan dan permodalan bagi para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) agar memperluas jaringan bisnis mereka lewat format digital.

Sebagai contoh, pada Matet 2020 lalu, beredar pesan di media soials Twitter yang menginformasikan bahwa para pedagang di sejumlah pasar tradisional sudah bisa melayani belanja online dan pesan-antar lewat WhatsApp (WA), sehingga para ibu rumah tangga tak perlu pergi berbelanja ke pasar dan bisa tinggal di rumah saja agar terhindar dari penularan virus. Tweet ini menjadi viral karena di-retweet sebanyak lebih dari 8.200 kali dan mendapat 14.600 like.

Kondisi tersebut sebenarnya tidak mengejutkan, mengigat ada sekitar 175,4 juta pengguna internet di Indonesia, dengan 338,2 juta koneksi melalui smartphone per bulan. Dan hampir setengah penggunanya adalah perempuan.

Mencari tambahan penghasilan

Mematuhi instruksi pemerintah agar ‘#dirumah aja’ selama pandemi, seorang ibu tiga anak (tidak disebutkan namanya, ed) di Jakarta Selatan mulai menjual fruit salad, lauk pauk siap saji, dan makanan beku, yang dipasarkan melalui akun media sosialnya. Ia menerima pemesanan secara online dan bekerja sama dengan GrabFood dan GoFood untuk pengantaran pesanan. Dalam sehari ia menerima order senilai US$250.

Astrid Safiera, seorang pekerja kantoran, juga memulai bisnis seafood secara online bersama suaminya, menggunakan Twitter. Dengan cerdas ia mempromosikan bisnisnya dengan menjawab tweet mantan Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Susi Pudjiastuti, sosok yang sangat populer di kalangan pengguna medsos.

Di Bekasi, ‘tetangga dekat’ Jakarta, Dian Lestari bergantian menjual bawang merah dan kue kering. Pada bulan puasa lalu, ia juga menjual cake, garlic bread, dan dimsum lewat akun Instagram-nya. Dengan modal awal US$15, hanya dalam satu bulan ia bisa meraih keuntungan yang melampaui jumlah gaji sebulannya sebagai pekerja kantoran.

Mengangkat harkat wanita secara struktural

Pekerja perempuan lebih berat terdampak COVID-19. Pasalnya, lebih banyak perempuan yang terjun ke sektor-sektor yang paling keras terdampak COVID-19, antara lain hospitality, pendidikan, dan pelayanan. Laporan terbaru PROSPERA (Kemitraan Australia-Indonesia untuk Pengembangan Ekonomi) mencatat bahwa perempuan menjadi tenaga mayoritas di bidang pendidikan (61%) dan hospitality (59%). Adapun 74% wanita di sektor hospitality tidak diasuransikan.

Hal yang lebih kurang sama juga dialami oleh para ibu rumah tangga. Di wilayah Asia Pasifik, perempuan 4,1 kali lebih banyak melakukan pekerjaan pelayanan yang tidak dibayar (dibandingkan pria). Sekitar 39% perempuan Indonesia yang bekerja (mendapatkan gaji) sedikitnya memiliki satu anak usia SD ke bawah, dan pekerjaan pelayanan yang mereka lakukan di rumah bukan saja tidak dibayar, tetapi juga dianggap tidak penting. 

Untuk itu diperlukan perubahan besar, khususnya di Jakarta, dengan menciptakan dan mendigitalkan  jaringan pangan informal untuk membantu para perempuan dari berbagai kalangan mendapatkan tambahan penghasilan, memperbaiki gizi keluarga, dan meningkatkan daya tahan (resilience) dalam menghadapi krisis. Juga untuk mengangkat harkat dan harga diri perempuan secara struktural.

Kemampuan perempuan untuk mengelola pangan keluarga secara kreatif terkait krisis COVID-19 memang harus diinvestigasi lebih jauh, bahkan dimasukkan ke dalam kebijakan negara. Namun, hanya itu saja tidak cukup. Perubahan fundamental dan sistemik  terkait pasar tenaga kerja (labour market) dan sistem pangan juga sangat dibutuhkan. 

*) Dirangkum dari artikel berjudul “Women Reorganising Local Food Networks with Technology in Jakarta”, hasil penelitian bersama  Dr Inaya Rakhmani, Dr Diahhadi Setyonaluri (Universitas Indonesia), Dr Ariane Utomo, dan Dr Catherine Phillips (University of Melbourne).

Sumber:

https://pursuit.unimelb.edu.au/articles/women-reorganising-local-food-networks-with-technology-in-jakarta

Photo source: Getty Images