covid19filantropi.id

Perilaku Baru Paska Pandemi COVID-19, Simak Prediksinya

Ada 30 prediksi perilaku yang berubah di era New Normal Paska COVID-19,  simak  risetnya, di antaranya terkait pada gaya hidup para pegiat filantropi.

Dampak wabah COVID-19  yang diam-diam membentuk gaya hidup stay @ home (@dirumahsaja), konon bakal menjadi gaya hidup ala New Normal. Artinya, gaya hidup baru inilah yang akan menjadi landasan terbentuknya stay @ home economy.

Itulah sepenggal hasil riset yang disampaikan pakar marketing Inventure Consulting Yuswohady, melalui video conference dengan tema “30 Consumer Behavior Shiftings Amid the Covid-19: Welcome New Normal” pada Senin, 20 April 2020.

Dikutip dari  E-BOOK 30 Consumer Behavior Shiftings Welcome the New Normal, Yuswohady bersama 3 rekannya Farid Fatahillah, Amanda Rachmaniar serta Isti Hanifah, menulis 4 megashift dalam risetnya.

Pertama, Megashift #1 Stay @ home lifestyle. Seperti disampaikan di awal tulisan, wabah COVID-19 membuat banyak orang berdiam diri di rumah. Seiring dengan meluasnya penerapan physical distancing, maka belanja online menjadi satu alternatif bagi banyak orang.

Disebutkan pula, bahwa pembelian konsumen pun mulai bergeser dari produk yang sifatnya keinginan (wants) ke produk yang sifatnya adalah kebutuhan (needs). Lahirnya stay @ home economy pun disebut menimbulkan disrupsi terbesar dalam sejarah umat manusia. Dampaknya, sebagian besar industri runtuh (fall), sementara sebagian kecil justru tumbuh dengan cepat (rise). Disarankan, sebagai marketer/entrepreneur Anda harus melompat dari “the fall” ke “the rise

Megashift #2, adalah Back to the Bottom of the Pryramid. Dijelaskan mengacu pada piramida Maslow, konsumen kini bergeser kebutuhannya dari ‘puncak piramida’ yaitu aktualisasi diri dan esteem ke dasar piramida, yaitu makan, kesehatan, dan keamanan jiwa raga.

Selanjutnya Megashift #3 Go Virtual. Dengan adanya COVID-19 konsumen menghindari kontak fisik manusia, mereka baralih menggunakan media virtual/digital.

Konser musik, event olahraga, hingga konferensi/pameran dibatalkan di seluruh dunia, tulisnya. Sebagai gantinya: virtual concert, virtual sport, virtual conference/seminar, virtual exhibition. Ketika self-distancing bakal berlangsung lama, maka virtual experience akan menjadi sesuatu banget.

Tak heran pula, di era ini muncul yang disebut para periset sebagai “VirSocial” (virtual social). Yaitu aktivitas bersama-sama baik nongkrong, olahraga, senam, meditasi dan yoga, hingga nge-game, dilakukan bersama teman-teman sekantor, sekampung, sekomunitas, atau sesama alumni SD hingga kuliah via Zoom. “Ini adalah kebiasaan baru yang sebelumnya tak dikenal,” katanya.

Kalau generasi milenial sering disebut “Instagram Generation” dan Gen-Z adalah “Snapchat Generation”. Maka setelahnya, kita akan menyongsong lahirnya “Zoom Generation”.

Berbeda dengan generasi milenial dan Gen-Z tumbuh di tengah keajaiban teknologi digital (internet, media sosial, tech startup), Generasi Zoom tumbuh di tengah dunia yang rapuh oleh ancaman pandemi dan risiko hidup yang tinggi.

Ditulis juga bahwa kebiasaan baru work from home, tuntutan collaborative working, dan maraknya gig economy akan mendorong melonjaknya penggunaan platform sharing yang tersedia via cloudMaka konsumsi layanan cloud baik SaaS (software as a services), IaaS (infrastructure as a services), PaaS (platform as a services) akan masuk babak baru pertumbuhan eksponensial.

Tren ini akan memunculkan cloud lifestyle dimana karyawan bisa bekerja dengan aplikasi dan data yang tersimpan di cloud dan bisa diakses di mana pun dan kapan pun. 

Krisis pandemi ini pun ternyata akan menjadi akselerator revolusi di dunia kesehatan yaitu telemedicine dan virtual health. Seperti halnya remote working dan online learning, konsumen dipaksa untuk mengadopsi gaya baru berobat yaitu secara virtual. 

Situasi yang sama akibat COVID-19 pun terjadi di dunia pembelajaran. Pertama pembelajaran secara online (“online-schooling”) dengan menggunakan platform digital. Kedua peran orang tua yang semakin besar dalam proses pembelajaran anak (”home-schooling”). Para periset menyebut dua tren ini: “online+home-schooling”. Online+home-schooling mengubah secara mendasar wajah dunia pendidikan ke depan.

Catatan di megashift #3 ini adalah bisnis personalized event akan boom karena menawarkan pengalaman lebih. Virtual experience tak hanya berlaku di konser musik, tapi juga di industri MICE (meeting, incentive, conference, exhibition).

Selanjutnya Megashift #4, yaitu Emphatic society.  Riset mengungkapkan bahwa banyaknya korban nyawa akibat COVID-19, melahirkan masyarakat baru yang penuh empati, welas asih, dan sarat solidaritas sosial.

Krisis COVID-19 merupakan bencana kemanusiaan paling dahsyat abad ini dengan korban nyawa manusia yang begitu besar. Hikmahnya, COVID-19 telah menciptakan solidaritas dan kesetiakawanan sosial.

COVID-19 telah menciptakan masyarakat baru yang empatik, penuh cinta, dan welas asih terhadap sesamanya. Sesuatu yang langka ketika wabah belum mendera. 

Kepedulian, empati, dan cinta kini menjadi alat untuk building brand yang paling ampuh di tengah merajalelanya wabah COVID-19. Dengan making impact dan memberikan solusi terhadap kesulitan yang dialami masyarakat, maka perusahaan akan mendapatkan reputasi sebagai brand yang bertanggung jawab dan penuh empati. An empathic brand.

Sumber:

https://www.yuswohady.com/2020/04/23/perilaku-konsumen-di-new-normal/

E-BOOK 30 Consumer Behavior Shiftings Welcome the New Normal