covid19filantropi.id

Profil Sektor Sosial Asia: Melangkah ke Depan di Tengah Pandemi COVID-19

The Centre for Asian Philanthropy and Society (CAPS), berbasis di Hong Kong, merilis hasil riset studi tahunan Doing Good Index 2020 atau DGI2020, pada Juni 2020 lalu. Riset yang dilakukan di tengah pandemi COVID-19 ini menunjukkan bagaimana filantropi “Asia untuk Asia” dapat memaksimalkan kontribusi sektor sosial.

Studi ini dimaksudkan untuk menguji peran vital sektor sosial dan bagaimana pemerintah di negara-negara Asia membantu atau justru merintanginya.  DGI2020 mengungkapkan, dengan munculnya pandemi COVID-19, pemerintah justru harus memberi dukungan lebih, sementara sektor swasta dan lembaga kemanusiaan harus memainkan peran tak kalah penting untuk mempertemukan kebutuhan masing-masing.

Riset ini telah meningkatkan cakupannya dari 15 negara pada 2018 menjadi 18 negara. Yaitu Bangladesh, Kamboja, Cina, Hong Kong, India, Indonesia, Jepang, Korea, Malaysia, Myanmar, Nepal, Pakistan, Filipina, Singapura, Sri Lanka, Taiwan, Thailand, dan Vietnam. Hasilnya didasarkan pada data asli yang dikumpulkan melalui survei terhadap lebih dari 2.000 organisasi pembangunan berkelanjutan dan mewawancarai 145 pakar dari 18 negara tadi. 

Memetakan Asia

Memasuki abad baru, Asia seolah merayakan pertumbuhan ekonomi yang nyaris tanpa saingan.  Berhasil menghimpun 1/3 kekayaan dunia, Asia menunjukkan perkembangan yang mengagumkan di bidang pendidikan, harapan hidup, dan infrastruktur. Namun bersamaan itu, Asia juga merupakan tempat bermukim dua pertiga penduduk miskin di dunia.

Kemajuan yang dicapai tidak terbagi merata bagi sekitar 50 juta anak yang terpaksa putus sekolah, 81 juta penganggur, dan 1,7 miliar orang yang hidup dengan kondisi sanitasi dasar tak layak. 

Kawasan Asia juga harus berhadapan dengan berbagai tantangan global yang tak terduga, mulai dari bencana alam (yang makin sering dan makin parah) hingga perubahan iklim yang ancamannya sudah di depan mata.

Dan memasuki tahun 2020, datanglah pandemi virus corona, menggulung dunia yang sama sekali tak siap menghadapinya. Bukan saja mengguncang kesehatan penduduk dunia, juga menggilas perekonomian dunia.

Di Asia, sektor sosial yang semula tengah meroket, seolah jungkir balik secara dramatis dilibas pandemi COVID-19. Dibutuhkan tekanan dan dorongan yang kuat untuk memperkuat kembali sektor ini. Pemerintah, sektor bisnis/swasta, dan organisasi filantropi adalah faktor-faktor yang harus saling bermitra dan bergandeng tangan untuk memperkuat kembali sektor sosial di Asia di tengah pandemi yang belum ketahuan kapan akan berakhir ini.

“Saat ini, dengan masalah-masalah yang terjadi akibat pandemi COVID-19 dan dampak ekonominya – yang telah menghantam masyarakat paling rentan – kami harus membangun kembali masyarakat yang terdampak,” kata Ronnie Chan, Ketua CAPS. 

Apabila setiap negara di Asia menyumbangkan 2% dari produk domestik bruto (GDP) mereka, maka sejumlah US$587 miliar dapat terkumpul.  Ini sama dengan 12 kali  lipat aliran bantuan asing bersih ke Asia, dan hampir sama dengan 40% tambahan US$ 1,5 triliun yang harus dihabiskan Asia Pasifik setiap tahun untuk mencapai target United Nations 2030 Sustainable Development Goals.

Sayangnya, dunia filantropi di Asia masih kerap terhadang oleh kurangnya rasa percaya (trust) di sektor sosial ini, sama seperti kurangnya pemberian insentif bagi sektor swasta yang berkontribusi di dunia filantropi.

DOING GOOD INDEX
The Doing Good Index adalah sebuah riset studi tentang lingkungan di mana modal swasta bertemu dengan kebutuhan sosial; tentang sejauh mana kerja sama pemerintah suatu negara dengan sektor swasta/bisnis dan organisasi-organisasi sosial, sehingga dapat memberikan kontribusi maksimal bagi kelompok masyarakat yang membutuhkan bantuan; dan bagaimana menciptakan investasi yang sistematis dan strategis di sektor sosial.

Kebijakan yang tepat dan insentif dari pemerintah dapat membantu meningkatkan modal untuk disalurkan ke sektor sosial. Melalui organisasi-organisasi penyalur dana bantuan atau social delivery organization (SDO), dana bantuan dapat mencapai sasaran yang tepat. Dengan begitu, dana filantropis ini dapat membantu pemerintah mempercepat usaha memakmurkan rakyat.

The Doing Good Index menunjukkan bahwa kebijakan-kebijakan ini dapat diakses dan diterapkan oleh semua negara Asia dengan berbagai status/tingkat ekonomi. 

Indeks ini memetakan lingkungan untuk investasi sosial dengan mempertimbangkan faktor-faktor dari empat sub-indeks, yaitu: Regulasi, Kebijakan Pajak dan Fiskal, Ekosistem, dan Jual Beli (Procurement).

Setelah membuat tabulasi hasilnya, negara-negara Asia dapat dikategorikan dalam empat klaster terkait dengan tingkat keberhasilan mereka mencapai lingkungan kondusif bagi dunia filantropi  (doing good), yaitu Doing Well, Doing Better, Doing Okay, dan Not Doing Enough. Namun, tetap ada peluang untuk memperbaiki yang belum cukup baik.

  • Regulasi

    Hukum dan regulasi yang terkait dengan sektor sosial di setiap negara berbeda-beda dan kerap kali sulit dipahami. Banyak SDO harus berjuang keras menghadapi hukum yang kompleks dan peraturan yang berubah-ubah. Hukum yang ada juga kadang tidak konsisten dan berlapis-lapis, tergantung rezim yang sedang berkuasa, sehingga menimbulkan kebingungan dan ambiguitas.

    Sebaliknya, di sebagian negara lain regulasi untuk membangun sektor sosial justru dipermudah. 
  • Pajak dan Kebijakan Fiskal 

    Sebagian besar negara menawarkan pengurangan pajak bagi sektor swasta yang melakukan kegiatan filantropi. Ada juga negara yang menawarkan pengurangan pajak baik kepada individu maupun perusahaannya. Ada pula negara yang membebaskan pajak bagi organisasi-organisasi nonprofit.  

    Rate pengurangan pajak yang diberlakukan bervariasi di Asia, mulai dari 250% hingga 0%. Empat belas dari 18 negara menawarkan rate pemotongan pajak hingga 100% atau lebih, termasuk negara-negara berkembang. Hanya Singapura dan Vietnam yang tidak membatasi income eligible (penghasilan yang mrmenuhi syarat) untuk pengurangan pajak.

    Pemerintah di sebagian besar negara Asia menyediakan dukungan fiskal terhadap dana hibah. Hampir sepertiga SDO melaporkan menerima dana hibah dari pemerintah, namun jumlahnya hanya 8% dari anggaran SDO.
  • Ekosistem

    Berbuat kebaikan (doing good) kini semakin populer.  Pemerintah dan perusahaan-perusahaan besar bahkan memberikan penghargaan khusus berupa award kepada para filantropis individu yang dianggap berjasa memperjuangkan sesuatu yang berguna bagi banyak orang. Turun menjadi relawan untuk memperjuangkan berbagai isu sosial atau terjun langsung ke lapangan saat terjadi bencana alam di suatu tempat, juga sudah makin banyak dilakukan orang. 

    Namun, merekrut dan mempertahankan orang-orang potensial sebagai tenaga relawan masih sulit dilakukan. Sekitar 80% SDO masih kesulitan mencari tenaga staf yang mumpuni. Mungkin karena masih ada persepsi kuat bahwa bekerja di lembaga nirlaba pasti gajinya kecil. Padahal, di 15 dari 18 negara, SDO diwajibkan memiliki dewan direksi. 

    Sebanyak 80% SDO memiliki dewan direksi, dan seperempat dari anggota dewan direksi adalah wanita.

    Jual Beli (Procurement)

    Pemerintah di negara-negara Asia membayar untuk pelayanan yang diberikan oleh SDO (misalnya data). Bahkan ada beberapa negara yang membuat kontrak resmi dengan sejumlah SDO, antara lain Bangladesh, Cina, India, dan Jepang.

    Sayangnya informasi tentang proses jual beli antara pemerintah dan SDO ini sulit diakses, bahkan banyak yang tidak transparan

KESIMPULAN

Tahun 2020 ditandai dengan terjadinya perubahan-perubahan besar dalam masyarakat di seluruh dunia, termasuk di Asia. Munculnya bencana  COVID-19  menimbulkan krisis besar, terutama di bidang kesehatan, ekonomi, dan pendidikan, yang hingga Indeks ini dibuat, belum berhasil ditanggulangi.

Bila kita melihat bagaimana  masyarakat, organisasi-organisasi sosial, dan pemerintah di Asia bereaksi dan menanggapi perubahan-perubahan besar ini, serta secara proaktif tetap menyiapkan segala sesuatu untuk masa depan, hal itu menandakan adanya potensi untuk bangkit dan bertransformasi. 

Di tengah krisis besar kemanusiaan akibat COVID-19, terlihat bahwa negara-negara Asia tetap berusaha melanjutkan pembangunan yang berkesinambungan.  Kita juga menyaksikan bagaimana sejumlah negara di Asia berusaha memerangi krisis ini dengan melakukan berbagai inovasi sosial yang cerdik. 

Dan yang paling menggembirakan, kita menyaksikan sektor sosial, sektor swasta/bisnis, dan pemerintah saling bergandengan tangan dan bersama-sama memerangi krisis besar ini. 

Ketika krisis ini berhasil diatasi, kemungkinan besar dunia akan menjadi tempat yang berbeda. Dan di ‘zaman baru’ itu sektor sosial diprediksi akan memainkan peran yang lebih besar, khususnya di Asia. Indeks yang kami buat ini diharapkan dapat dijadikan referensi guna mengambil berbagai kebijakan untuk menciptakan Asia yang lebih baik di masa depan.

ALASAN MEMBUAT THE DOING GOOD INDEX

The Doing Good Index merupakan kontribusi CAPS untuk meningkatkan peran sektor sosial dan filantropi di Asia di masa depan, dengan menekankan hal-hal berikut:

– Menekankan isu kurangnya kepercayaan (trust deficit). Kurangnya rasa percaya terhadap lembaga-lembaga penggalang dan penyalur donasi sering mengemuka di kalangan para donatur di Asia. Index ini berusaha mengidentifikasi faktor-faktor apa saja yang berkontribusi dalam trust deficit ini dan menawarkan solusi-solusi yang efektif. 

– Membuat data baru (creating new data). Aktivitas filantropi tidak berada di bawah badan statistik nasional, juga tidak memprioritaskan pengumpulan data.  Data yang dibuat oleh the index dapat digunakan untuk membantu memahami lanskap filantropi dan perubahan-perubahan yang terjadi di dalamnya. 

– Menunjukkan cara menciptakan sektor sosial yang lebih menonjol dan dan bersemangat.  Indeks ini dapat membantu para filantropis, pembuat kebijakan, para periset, SDO, dan masyarakat yang terlibat untuk mengetahui apa saja tuas yang harus ditarik untuk menggenjot kehidupan filantropi di negara masing-masing, terutama selama dan setelah COVID-19 berakhir.

Sumber:

https://givingcompass.org/article/2020-doing-good-index-philanthropy-in-asia/