covid19filantropi.id

Rahasia Konser Rock Bisa Galang Ratusan Juta Dolar untuk COVID-19

Mengapa konser amal yang juga menampilkan musisi rock selalu berhasil mengumpulkan dana dalam jumlah besar? Konser Live Aid dan We Day, mungkin bisa menjawabnya.

Pandemi COVID-19, membuat Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menginisiasi pagelaran konser amal bertajuk One World: Together at Home pada Sabtu 18 April 2020 lalu. Konser amal yang menampilkan 100 musisi ini, berhasil mengumpulkan sekitar 128 juta dollar AS dan langsung disumbangkan pada COVID-19 Solidarity Response Fund dan beberapa rumah sakit regional serta lokal.

Acara yang disiarkan langsung oleh ABC, CBS, dan NBC selama dua jam  ini menampilkan sejumlah musisi besar dunia, dari Lady Gaga, Taylor Swift, hingga Elton John.  Juga band legendaris Rolling Stones. Walau usianya sudah tak muda lagi, Mick Jagger dan kawan-kawan sukses membawakan lagu “You Can’t Always Get What You Want” dari rumah masing-masing. Tak ketinggalan, Beyonce juga Queen B tampil dengan membahas pesan penting untuk tidak membawa ras ketika menghadapi virus corona.

Mengapa konser amal yang juga menampilkan musisi rock, seperti One World itu, selalu berhasil mengumpulkan dana dalam jumlah besar?

Adalah  konser Live Aid dimulai pada tahun 1985, yang mungkin memicu konser lainnya untuk meningkatkan kesadaran tentang berbagai masalah sosial yang banyak muncul akhir-akhir ini.

Live Aid pada 1985 itu adalah konser ganda yang diadakan secara bersamaan di London dan Philadelphia untuk menarik perhatian (dan uang) pada kelaparan di Ethiopia.

Dua puluh tahun kemudian, the 2005 Live 8 concert digelar untuk memberi perhatian pada kemiskinan yang berkelanjutan di Afrika dan meminta para pemimpin G8 untuk menghapus hutang dan meningkatkan bantuan asing ke benua itu.

Sejak itu, ada banyak konser amal besar dan kecil yang diadakan di seluruh dunia untuk meningkatkan kesadaran tentang berbagai masalah sosial. Begitu disebutkan dalam sebuah penelitian yang diterbitkan theconversation,com beberapa waktu lalu.

Penelitian yang bertajuk ‘How a rock concert inspires social change’, ini disebutkan bahwa beberapa ahli berpendapat bahwa sebuah konser memang dapat membangun kasih sayang dan meningkatkan kesadaran. Namun peneliti lain berpendapat konser ini sebenarnya mengurangi diskusi yang lebih kritis tentang kekuasaan dan tidak melakukan apa pun selain meningkatkan profil selebriti.

Makalah penelitian ini pun membahas konser We Day yang selalu dinantikan ribuan anak muda di setiap musim gugur di Amerika Serikat.

Ditargetkan pada kaum muda, We Day punya filosofi bahwa  kita semua ingin menciptakan perubahan di dunia – kita hanya perlu memulai dan keluar dari kehidupan sehari-hari kita, untuk diberi energi oleh puluhan ribu orang lain di stadion besar yang penuh dengan anak muda lainnya dan selebriti yang menginspirasi.

Salah satu hasil penelitiannya menyebutkan bahwa We Day mampu menciptakan komunitas pembuat perubahan melalui dua elemen kunci yang membedakannya dari konser sebelumnya.

Pertama, narasi pribadi tentang ketidakadilan dan tindakan mengalihkan perhatian pada pengaturan sosial yang seringkali tidak terlihat yang merugikan kelompok-kelompok tertentu.

Cerita-cerita ini memungkinkan penonton untuk menghubungkan dan membedakan cerita dengan kehidupan mereka sendiri, yang mengarah pada empati daripada rasa kasihan dan rasa bersalah yang begitu sering muncul dalam situasi ini. Akibatnya, narasi pribadi tentang ketidakadilan dan tindakan memisahkan orang dari kehidupan sehari-hari mereka, menantang gagasan mereka tentang posisi sosial dan status quo.

Kedua, acara tersebut sepenuhnya melibatkan penonton dari individu hingga pemberdayaan kolektif. Artinya, metafora, analogi, dan perwujudan fisik digunakan untuk menunjukkan kekuatan kelompok besar untuk menciptakan perubahan sosial, tanpa mengabaikan kontribusi penting masing-masing individu.

Seringkali, memahami banyak ketidakadilan sistemik berskala besar di dunia bisa sangat melelahkan, dan individu dapat merasa bahwa tindakan mereka sendiri tidak dapat membuat perbedaan.

Namun di We Day, muncul kebersamaan di antara individu yang hadir saat menciptakan energi emosional, yang diarahkan pada perubahan sosial.

Akibatnya, pemberdayaan di antara individu tersebut menanamkan orang-orang dalam komunitas baru yang mendukung pemahaman baru mereka tentang ketidakadilan. Melalui storytelling dan pemberdayaan yang dirancang dalam We Day, acara ini mampu mengubah ide penonton tentang diri sendiri dan orang lain, serta memotivasi mereka untuk bekerja menuju perubahan sosial. Semangat pada We Day itu, sepertinya dipraktekkan pada konser serupa. Terbukti di beberapa konser musik tersebut, selalu berhasil menggalang dana besar. Seperti konser One World: Together at Home pada Sabtu 18 April 2020 lalu, yang berhasil menggalang dana setara hampir Rp 2 Milyar itu, untuk melawan pandemi COVID-19.

Sumber:

https://theconversation.com/how-a-rock-concert-inspires-social-change-84513

https://www.kompas.com/hype/read/2020/04/20/113123466/konser-amal-one-world-together-at-home-raih-128-juta-dollar-as-hasilnya

https://www.tribunnews.com/internasional/2020/04/19/konser-one-world-together-at-home-bertabur-bintang-lady-gaga-bukan-acara-penggalangan-dana