covid19filantropi.id

Relasi Kuasa Filantropi Global di Masa Pandemi COVID-19

Bulan Desember lalu, Center for Strategic Philanthropy Judge Business School University of Cambridge, menerbitkan riset perdana berjudul ‘Philanthropy and COVID-19: Is the North-South Power Balance Finally Shifting?. Riset yang diterbitkan oleh pusat studi yang baru berdiri pada bulan Juni 2020 itu menekankan bahwa pandemi COVID-19 memunculkan kebutuhan untuk menganalisis ketimpangan dalam relasi filantropi global antara Utara dan Selatan, termasuk pendanaan untuk kebutuhan dasar dan jaringan lokal di Selatan.

Riset yang dilakukan selama pandemi COVID-19 ini, melibatkan 24 Social Purpose Organizations (SPOs) dan yayasan filantropi di kawasan Afrika, Timur Tengah, dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Organisasi dari Indonesia yang menjadi responden riset ini adalah Indonesia for Humanity, Koalisi Seni Indonesia, dan Ecodoe (social enterprise).

Di saat lembaga filantropi dari Utara terbiasa untuk menggunakan kontrolnya dalam mengalokasikan sumber daya untuk para grantee di Selatan, ternyata kebutuhan mendesak selama pandemi membuat lembaga filantropi di Selatan mengambil alih kontrol ini. Kebutuhan yang berkaitan dengan penguatan sektor kesehatan publik untuk penanganan pandemi COVID-19, misalnya, membuat orang yang mempunyai basis pengetahuan lokal yang dapat mengambil kendali. Ini bisa menjadi momentum untuk mengubah relasi yang selama ini sudah berjalan. 

Dari temuan ini, laporan ini mengidentifikasi tiga langkah utama yang dapat membantu filantropi global untuk mengambil pembelajaran dari pandemi COVID-19. Proses ini dapat membuat relasi menjadi setara dan lebih berdampak untuk filantropi global di Selatan.

  • Pendanaan kepada jaringan untuk meningkatkan infrastruktur, kapasitas, dan pengetahuan

Keberadaan jaringan dapat membantu organisasi dengan sumber daya terbatas dan rentan untuk berelasi dengan pemerintah, donor global, dan komunitas yang lebih luas. Keberadaan jaringan juga membantu untuk menganalisis kebutuhan dan potensi di sektor filantropi. Selama pandemi, banyak organisasi di Selatan yang mulai membangun jaringan untuk berbagi pengetahuan. Walaupun demikian, pembuatan database lokal tetap membutuhkan investasi dan donor di Utara perlu untuk berkomitmen untuk berkontribusi dalam hal ini termasuk infrastruktur.

  • Meningkatkan kemitraan antara pemerintah dan para filantrop di Selatan

Kemitraan dengan pemerintah dapat membuat program organisasi di Selatan dan donor sejalan dengan kebijakan pembangunan nasional. Dengan kerja sama, organisasi di Selatan dan pemerintah dapat mengadvokasi reformasi di ranah kebijakan pembangunan. Walaupun demikian, untuk mencapainya, pemerintah juga perlu nyaman bekerja dengan Organisasi Masyarakat Sipil dan organisasi lokal. Proyek-proyek seperti OECD’s Network of Foundations Working for Development dapat digunakan sebagai jembatan antara pemerintah dan para filantrop.

  • Membangun ketahanan di Selatan dengan memberikan bantuan pendanaan untuk core cost organisasi daripada berbasis proyek

Pada umumnya, donor enggan untuk mendanai overheads atau gaji dengan alasan kurang efisien daripada untuk pendanaan program. Hal ini membuat organisasi lokal berupaya membangun ketahanan, tenaga ahli, serta manajemen data sendiri, sehingga mengerdilkan potensi dampaknya. Selain itu, ada berbagai ketentuan dalam hibah untuk grantee di Selatan yang mengakibatkan ketidakpercayaan dalam pengalokasian dana. Sebaiknya, donor membangun kepercayaan kepada organisasi lokal terkait alokasi dana yang efektif. Dalam riset ini, grantee yang menjadi responden mengungkapkan bahwa prosedur yang sederhana dan cepat (misal due diligence, proses aplikasi) membantu mereka dalam penanganan COVID-19, di mana semua serba urgen.

Clare Woodcraft, Direktur Eksekutif Centre for Strategic Philanthropy, mengatakan bahwa fakta bahwa organisasi di Selatan mulai menyampaikan aspirasinya merupakan hal positif dan harus tetap dipertahankan walaupun pandemi sudah usai. Untuk mencapai gol-gol SDGs, diperlukan aksi kolektif, inklusif dan pendekatan lokal untuk mengidentifikasi solusi sosial. Pandemi COVID-19 menjadi katalis untuk menentukan posisi sektor filantropi dalam merespon krisis berikutnya agar lebih efektif. 

Selain itu, Kamal Munir, Direktur Akademik Centre for Strategic Philanthropy, juga mengungkapkan bahwa SDGs dapat mengakselerasi bantuan triliun dolar dan didistribusikan ke lokal sesuai dengan kebutuhan, bukan berdasarkan kriteria yang ditentukan donor dari Utara. Selain itu, gagasan baru terkait tujuan SDGs yang disinergiskan dengan ide dan inovasi di Selatan (digerakkan oleh filantrop muda dan penggerak perubahan sosial), dapat meningkatkan dampak organisasi menjadi lebih efisien.

Laporan lengkap ‘Philanthropy and COVID-19: Is the North-South Power Balance Finally Shifting?dapat diakses di https://www.jbs.cam.ac.uk/wp-content/uploads/2020/12/csp-report-covid-2020.pdf

Sumber:

https://www.jbs.cam.ac.uk/insight/2020/improving-philanthropy/