covid19filantropi.id

Sindrom ‘Long Covid’ yang menghantui pasien positif COVID-19

Saat ini bagi kebanyakan orang, kesehatan menjadi prioritas utama mereka di era pandemi COVID-19. Gaya hidup sehat seperti makanan nutrisi seimbang, konsumsi vitamin, obat tradisional serta olahraga rutin menjadi tren yang semakin diminati masyarakat. Kesehatan menjadi sangat penting untuk menghindari terjangkit virus corona. Namun ada satu hal lagi yang dapat menjadi alasan yaitu gejala sakit berkepanjangan bagi mereka yang positif terjangkit.

Sindrom long covid merupakan kondisi atau gejala-gejala di pasien yang pernah menderita COVID-19 dan sudah dites negatif. Menurut Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Dr dr Agus Dwi Susanto SpP(K) gejala tersebut bisa berlangsung selama berminggu-minggu, berbulan-bulan bahkan menetap. Data WHO dari laporan yang dipublikasi tanggal 9 September 2020 menyatakan ada 20 persen pasien COVID-19 usia 18-34 tahun yang mengalami gejala berkepanjangan setelah sembuh. Padahal kelompok pasien ini tergolong muda dan kondisi kesehatannya prima.

Gejala long covid sendiri bermacam-macam dengan gejala yang paling sering dilaporkan berupa sesak napas, kelelahan, batuk, nyeri sendi dan otot, jantung berdebar dan gangguan psikologis seperti depresi.

Namun pasien-pasien ini tidak terbukti menularkan virus ke orang lain karena memang gejala yang dialami bukan karena virus masih tinggal di dalam tubuh. “Ini bisa terjadi akibat proses ketika sakit menimbulkan kelainan yang menetap secara anatomik yang akhirnya mempengaruhi secara fungsional,” kata Agus.

Salah satu yang banyak ditemukan oleh para dokter paru adalah adanya fibrosis paru atau kekakuan pada jaringan paru yang sifatnya menetap dalam dua sampai tiga bulan. Akibat fibrosis ini, menurut Agus beberapa pasien corona mengalami penurunan fungsi paru-paru hingga 20-30 persen.

“Jadi masalah Long Covid tidak terkait dengan virus yang masih ada, tetapi terkait dengan dampak akibat kelainan anatomi yang muncul pasca infeksi dari COVID-19 yang sudah dinyatakan sembuh,” ujarnya.

Selain itu pasien yang sudah lanjut usia dan memiliki komorbid berisiko lebih tinggi untuk mengalami long covid, termasuk perokok. Badan pengendalian penyakit Amerika Serikat, Centers for Disease Control and Prevention (CDC), mengatakan beberapa gejala long covid sudah diketahui. Namun, CDC menyatakan pemahaman lebih lanjut mengenai long covid masih dibutuhkan.

Signifikansi jangka panjang dari efek kondisi long covid, misalnya, belum diketahui sepenuhnya. Karena itu diperlukan riset lebih lanjut mengenai dampak long covid ini karena studi yang ada masih terbatas. Terutama untuk meminimalisir dampak negatif berkepanjangan yang dapat dialami para pasien positif covid.

Sumber:

https://tirto.id/apa-itu-long-covid-syndrome-penyebab-gejala-di-eks-pasien-corona-f7LS

https://www.liputan6.com/health/read/4425059/long-covid-kondisi-yang-harus-diwaspadai-penyintas-covid-19

https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/long-term-effects.html