covid19filantropi.id

Studi Buktikan Tiga Tindakan Sederhana ini Mampu Hentikan COVID-19

Studi terbaru membuktikan bahwa tiga tindakan sederhana ini —pakai masker, rajin mencuci tangan, dan disiplin menjaga jarak—bila dijalankan dengan benar dan disiplin, mampu menghentikan penyebaran COVID-19, bahkan tanpa vaksin. Syaratnya, asalkan dilakukan serempak oleh lebih dari 50% penduduk di setiap negara.

Selama masa pandemi COVID-19, rasanya kita sudah hafal di luar kepala tentang tiga perintah ini, karena digaungkan terus menerus. Namun, masih saja banyak yang mengabaikannya. Selain tak yakin akan hasilnya, sebagian orang bahkan menganggap aturan tersebut melanggar HAM, karena melarang orang bernapas dengan bebas dan bersosialisasi. 

Maka penemuan vaksin pencegah penularan COVID-19 pun terus digalakkan di mana-mana. Seolah itulah satu-satunya jalan keluar untuk membebaskan dunia dari pandemi ini

Namun, studi terbaru —dirilis pada 21 Juli 2020 di jurnal PLoS Medicin— menemukan bahwa tindakan sederhana itu (pakai masker, cuci tangan, dan jaga jarak), asalkan dilakukan dengan benar dan disiplin,serta serempak bersama-sama, sudah cukup untuk memperlambat laju penularan virus  SARS-CoV-2 (penyebab COVID-19), bahkan menghentikannya —tanpa bantuan vaksin.

Studi ini mengambil pola interaksi masyarakat di Belanda. Namun, menurut para periset di University Medical Center Utrecht, Belanda, yang melakukan studi ini,  model tersebut sejauh ini baru cocok diterapkan di negara-negara Barat yang tidak terlalu komunal dan memiliki tempat tinggal yang relatif spasial, tidak berdesak-desakan.

Riset dilakukan dengan mengembangkan model penyebaran COVID-19 berdasarkan berbagai informasi epidemilogis tentang penyakit ini. Model ini digunakan untuk mempelajari efek-efek yang telah diprediksi menyangkut  ketiga tindakan pencegahan tersebut. 

“Suatu epidemi besar bisa dicegah oleh suatu negara  bila ketiga tindakan tadi (pakai masker, cuci tangan, jaga jarak) dilakukan secara  benar, konsisten, dan serempak oleh lebih dari 50% penduduknya,” hasil riset menyebutkan.

Bila masyarakat lamban melakukannya, namun tetap mengubah perilaku, hal itu tetap bisa menurunkan jumlah kasus, namun tidak bisa menunda terjadinya puncak kasus —begitu  begitu menurut model tersebut. 

Seandainya pemerintah melakukan lockdown (atau apa pun sebutannya) sejak awal pandemi, namun masyarakat tidak melakukan ketiga tindakan pencegahan tadi, penundaan puncak tetap bisa terjadi, tetapi tidak mengurangi angka kasus. Intervensi (dari pemerintah) selama tiga bulan akan menunda puncak kasus sampai tujuh bulan.  

Bila pemerintah menerapkan aturan jaga jarak fisik (physical distancing) dan dikombinasikan dengan kesadaran masyarakat dan individu untuk menerapkan tiga langkah tersebut, puncak kasus bisa dicegah, bahkan setelah aturan tersebut dicabut. 

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC) di Amerika Serikat (AS), dari ketiga tindakan pencegahan tersebut, menjaga jarak fisik adalah yang paling krusial untuk menahan laju penulatan virus corona. Dan kebijakan yang paling efektif untuk menerapkan jaga jarak ini adalah dengan melakukan lockdown.

CDC menggunakan model matematika untuk menginvestigasi sejauh mana keefektifan physical distancing. Hasilnya, bila jaga jarak fisik dilakuksn sejak awal pandemi, maka angka kasus positif di AS tidak petlu melonjak tinggi. 

CDC juga membenarkan bahwa dengan sering-sering mencuci tangan dapat  mencegah orang tertular infeksi pernapasan, karena kuman-kuman yang menempel di tangan tidak sempat menyebar ke dalam tubuh.

Sebuah studi pada April 2020 menunjukkan hasil bahwa bila sedikitnya 80% penduduk mau berdisiplin menggunakan masker (masker medis maupun masker kain) setiap kali keluar rumah, hal itu akan berdampak signifikan memperlambat laju penularan virus. Apalagi bila kebiasaan itu sudah dilakukan sejak awal pandemi.

Tampaknya hasil riset terbaru ini memang ‘menohok’ Amerika Serikat, yang sejauh ini terkesan meremehkan pandemi COVID-19 —terutama  dari sikap orang nomor satunya— dan tidak pernah secara resmi memberlakukan lockdown dan menyerukan kewajiban penggunaan masker serta melakukan social distancing kepada warganya. Akibatnya, angka penularan kini sudah  mencapai 70.000 per harinya, dan angka kematian sudah melewati 100.000 orang.

Hasil studi ini disambut baik oleh para tokoh kesehatan masyarakat di AS. Salah satunya adalah Dr. Robert Redfield, direktur US Centers for Disease Control and Prevention.

“Apabila kita semua, seluruh warga AS, mau mengenakan masker wajah selama empat, enam, delapan, dua belas minggu ke depan secara bersama-sama, saya percaya penularan virus ini akan berhenti dengan sendirinya,” ujar Dr.  Redfield.

Laksamana Brett Giroir, seorang anggota gugus tugas penanggulangan COVID-19 di Gedung Putih, juga telah mengatakan yang sama dalam briefing di depan US Health and Human Services Department.

“Tiga langkah sederhana ini, apabila dilakukan secara bersama-sama dan bertanggung jawab oleh seluruh warga AS, akan bisa menghentikan pandemi COVID-19 ini tanpa perlu melakukan lockdown, baik total maupun lokal,” tegas Dr. Scott Weisenberg,  clinical associate professor di bidang penyakit menular di NYU Langone Health in New York City. Yang diperlukan hanyalah  kesadaran dan kerelaan dari seluruh warga untuk sedikit berkorban. 

Sumber:

https://edition.cnn.com/2020/07/21/health/covid-19-three-things-will-stop-it-wellness/index.html

https://www-nbcsandiego-com.cdn.ampproject.org/v/s/www.nbcsandiego.com/news/local/new-study-suggests-three-simple-habits-will-slow-coronavirus/2370587/?amp_js_v=a3&amp_gsa=1&amp&usqp=mq331AQIKAGwASDYAQE%3D#aoh=15954848268610&referrer=https%3A%2F%2Fwww.google.com&amp_tf=From%20%251%24s&ampshare=https%3A%2F%2Fwww.nbcsandiego.com%2Fnews%2Flocal%2Fnew-study-suggests-three-simple-habits-will-slow-coronavirus%2F2370587%2F

https://www.healthline.com/health-news/if-50-percent-of-people-take-three-simple-steps-might-be-able-to-stop-covid19

Image by Miroslava Chrienova from Pixabay