covid19filantropi.id

Tantangan Masyarakat Adat di Tengah Pandemi COVID-19

Terbatasnya mobilitas akibat pandemi COVID-19 menempatkan masyarakat adat sebagai salah satu kelompok rentan. Sebelumnya, masyarakat adat telah menghadapi berbagai masalah komplek, misalnya minim akan fasilitas kesehatan. Pendampingan, pengawasan, dan bantuan di masa pandemi sangat dibutuhkan bagi masyarakat adat. Di sisi lain, kearifan lokal ternyata berperan efektif dalam menekan angka penyebaran COVID-19.

Dalam melindungi masyarakat adat di Indonesia, Kementerian Sosial RI memberikan bantuan dan pendampingan dalam mencegah penyebaran virus COVID-19. Melalui Direktorat Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil dipastikan Komunitas Adat Terpencil (KAT) mendapatkan Bantuan Sosial Tunai (BST) dan sembako. Namun tantangan yang dihadapi adalah ketiadaan dokumen kependudukan masyarakat adat. Kemensos kemudian memberikan layanan pembuatan kartu identitas sementara agar bantuan tersalurkan. Pengadaan KTP sementara ini juga membuka akses masyarakat adat ke fasilitas kesehatan yang sebelumnya sulit didapatkan.

Perlindungan masyarakat terancam punah dilakukan pula oleh Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN). Aksi yang dilakukan berfokus kepada edukasi pencegahan penyebaran COVID-19, membangun kolaborasi para tabib untuk meramu obat tradisional yang memperkuat daya tahan tubuh, serta memastikan keamanan pangan. AMAN mendorong masyarakat adat untuk menanam tanaman yang dapat dipanen dalam jangka pendek, sehingga meminimalisasi tingkat kematian akibat kelaparan. Strategi food aid diterapkan pula oleh AMAN kepada komunitas adatnya. Komunitas adat didorong untuk memiliki kelebihan bahan pangan agar dapat mendukung komunitas sekitar yang membutuhkan.

Sedangkan di Bali, ikatan sosial antara desa adat dengan masyarakat di Bali menjadi salah satu kunci efektif dalam upaya pencegahan COVID-19. Pemprov Bali menggandeng Majelis Desa Adat (MDA) membentuk Satuan Tugas Gotong Royong Pencegahan COVID-19 berbasiskan desa adat. Satgas berperan untuk memberdayakan seluruh warga desanya agar bergotong royong secara ‘sekala’ (jasmani) dan ‘niskala’ (rohani) dalam mencegah penyebaran COVID-19.

Di desa adat, Satgas melaksanakan sosialisasi, edukasi, pengawasan, serta pembinaan terkait virus COVID-19. Dalam pelaksanaannya, Pelacang atau petugas keamanan adat Bali sebagai garda terdepan dalam pengawasan dan pembinaan. Wayan Koster, Gubernur Bali, menyatakan bahwa pemberdayaan desa adat serta kearifan lokal efektif menekan kasus COVID-19 di tingkat paling bawah. Hal ini dikarenakan desa adat memiliki hukum adat yang diterapkan untuk mengatur, mendisiplinkan, dan menertibkan warganya.

Sumber:

https://www.antaranews.com/berita/1660434/peneliti-paparkan-kearifan-lokal-masyarakat-adat-tangani-covid-19

https://kemensos.go.id/bantuan-sosial-tunai-penyambung-asa-di-tengah-rimba

https://republika.co.id/berita/qbdyhf314/cegah-covid19-melalui-peran-desa-adat-di-bali

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200514113452-20-503264/peran-desa-adat-jadi-pelengkap-3-skema-bali-lawan-corona