covid19filantropi.id

Tantangan Sektor Pendidikan Global di tengah Pandemi COVID-19

Sistem pendidikan yang baik dan efesien merupakan aset yang berharga bagi pemerintah untuk mencapai tujuan nasional pendidikan dan SDGs. Global Education Monitoring (GEM) Report dalam laporan Education Finance Watch 2021 menyebutkan bahwa dalam satu dekade terakhir tren anggaran belanja negara di dunia untuk sektor pendidikan terus meningkat secara stabil. Namun, pandemi COVID-19 yang saat ini melanda dunia berimplikasi kepada keuangan negara sehingga tren tersebut tidak dapat dipertahankan.

Dua pertiga negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah ke bawah memotong anggaran pendidikannya sejak pandemi terjadi. Sekedar perbandingan, hanya satu pertiga negara-negara berpenghasilan tinggi dan menengah ke atas melakukan hal yang sama. Walaupun pemangkasan anggaran tidak dilakukan secara signifikan, namun potensi untuk terus bertambah besar di kemudian hari jika pandemi semakin memperlambat pembangunan ekonomi. Jika ini terjadi, maka kesenjangan pendidikan antara negara berpenghasilan rendah dan berpenghasilan tinggi akan semakin melebar.

Dalam upaya meminimalisir hal tersebut, GEM Report mengemukakan tiga upaya yang dapat dilakukan oleh negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Pertama, menghindari pemangkasan anggaran pendidikan. Di saat seperti ini negara membutuhkan dukungan tambahan dalam menanggapi COVID-19 yang tidak terencakan sebelumnya. Penting pula bagi negara untuk membangun ekosistem dan hubungan yang baik dengan lembaga filantropi lokal serta donor yang fokus kepada isu pendidikan. Para donor diharapkan dapat memberikan fleksibilitas agar program yang sudah direncanakan sebelumnya dapat disesuaikan dengan keadaan saat ini.

Kedua, sistem pendidikan yang inklusif. Pandemi COVID-19 memperbesar peluang anak yang berada di kelompok terpinggirkan putus sekolah. Pemerintah bersama para stakeholder harus mengarahkan perhatiannya kepada anak-anak ini. Dengan menerapkan sistem pendidikan yang inklusif, pendidikan dapat merespon guncangan secara fleksibel serta mendukung semua anak untuk kembali ke sekolah agar mengejar ketinggalan. Pemberian dukungan sumber daya dan dana yang adil ke negara dan wilayah yang paling membutuhkan harus menjadi fokus donor.

Ketiga, program pendataan distribusi bantuan pendidikan. Langkah ini mengharapkan adanya kolaborasi antara dua insitusi pemerintah yaitu, kementrian pendidikan dan kementerian sosial. Pendataan ini dilakukan agar bantuan pendidikan dapat didistribusikan secara merata dan tidak melihat gender. Bantuan pendidikan penting diberikan ke kelompok yang tepat agar mengurangi anak-anak putus sekolah.

Pada Oktober 2020, Global Partnership for Education memberikan hibah sebesar 467 juta USD ke negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah ke bawah. 38% dari hibah tersebut disetujui untuk mendukung inisiatif kesetaraan dan 76% lainnya untuk mendukung solusi pembelajaran jarak jauh. Mendukung inisiatif kesetaraan dilakukan dengan program yang mendukung kebersihan dan psikososial dengan prioritas anak-anak yang paling rentan, termasuk anak-anak dengan disabilitas.

Sedangkan mendukung solusi pembelajaran jarak jauh berfokus penyediaan teknologi. Misalnya, Sudan sebagai salah satu penerima hibah, membeli 287.000 radio dengan pengisi daya bertenaga surya. Tidak hanya itu, Sudan juga menginisiasi mencetak tugas pekerjaan rumah di surat kabar dan membelikan data ponsel untuk para guru agar dapat berkomunikasi dengan siswanya. Di Papua Nugini, pembagian kit pembelajaran ditargetkan untuk memenuhi kebutuhan individu siswa, seperti penyediaan Braille dan bahan cetakan besar untuk siswa tunanetra.

Sumber:

https://unesdoc.unesco.org/ark:/48223/pf0000375577