covid19filantropi.id

Witing Corona Jalaran Soko Kuliner

Penulis: Hamid Abidin, Penyintas COVID-19

Vonis itu tiba hari jumat siang, satu jam sebelum shalat jumat dimulai. Selembar surat keterangan hasil tes swab/PCR dikirim Rumah Sakit EMC Sentul via WA saya. Layang virtual itu mengabarkan bahwa saya positif terpapar Virus COVID-19. Saya yang sudah siap-siap berangkat jumatan akhirnya mengurungkan niat dan kembali masuk kamar. Ya, sejak itulah saya menjalani isolasi total secara mandiri di kamar.

Sebelumnya, saya sudah isolasi diri saat tahu saya berinteraksi dengan salah seorang yang terkonfirmasi positif COVID-19, meski belum yakin saya ikut terpapar. Saya optimis tidak terpapar karena semua gejala COVID-19 tidak saya alami. Tak ada panas dan demam tinggi, batuk-batuk atau kehilangan indra penciuman dan perasa. Hanya ruas jari tangan dan kaki sedikit nyeri. Namun, optimisme itu ambyar setelah saya menerima hasil tes Swab/PCR dari rumah sakit.

Bagaimana saya bisa terpapar virus COVID-19…? Cerita berawal dari rapat di sebuah kantor di kawasan Depok pada hari Kamis, awal Oktober lalu. Saya mengikuti rapat tersebut dalam rangka mensupervisi penulisan laporan akhir sebuah penelitian. Rapat tatap muka terpaksa dilakukan karena dirasa lebih efektif dan produktif dari pada meeting vi/rtual via zoom.

Pertemuan diikuti 4 orang di ruang tertutup dengan menerapkan protokol kesehatan. Selain menjaga jarak, semua peserta rapat memakai masker. Bahkan ada yang menggunakan masker dan face shield sekaligus.

Yang membuat kami sedikit lengah adalah kehadiran beragam camilan dan makan siang yang disediakan di ruangan rapat. Itu ritual rutin dan bagian terpenting dari sebuah meeting atau rapat-rapat di LSM atau lembaga manapun. Kami menyebutnya “Meeting tresno jalaran soko kuliner” (plesetan dari pepatah Jawa “witing tresno jalaran soko kulino”), yang diterjemahkan secara bebas menjadi “suka meeting karena bisa sambil kulineran alias makan-makan”…hehehe. 

Karena kehadiran dan godaan camilan dan makan siang itulah, saya dan peserta rapat lainnya beberapa kali membuka masker untuk minum dan dan mengudap camilan. Bahkan, kami membuka masker lumayan lama saat makan siang sambil melakukan ‘dialog utara selatan’ alias ngomong ngalor ngidul.

Senin malam, empat hari setelah meeting tersebut, saya dapat info bahwa salah satu peserta rapat positif COVID-19. Saya beserta semua peserta rapat dan penghuni kantor memutuskan menjalani tes Swab/PCR. Hasilnya, beberapa orang dinyatakan positif, namun ada beberapa yang negatif. Dan saya termasuk yang dinyatakan positif terpapar COVID-19. Hasil tes ini juga mendorong anak dan istri saya untuk menjalani tes swab. Alhamdulillah, mereka dinyatakan negatif alias tidak terpapar COVID-19.

Atas arahan dokter dan petugas satgas COVID-19 setempat, saya diminta menjalani isolasi mandiri di sebuah kamar khusus di rumah karena masuk dalam katagori OTG alias Orang Tanpa Gejala. Setelah isolasi mandiri selama 14 hari, hari jumat saya sudah bisa keluar dari ruang isolasi dan dinyatakan sembuh dari COVID-19. Saya sudah bisa melakukan aktivitas harian seperti biasanya, tentu dengan tetap memperhatikan dan menerapkan protokol kesehatan.

Kejadian ini jadi pelajaran berharga buat saya dan mungkin untuk banyak orang. Jangan lengah terhadap virus  COVID-19. Jangan anggap enteng dan tetap perhatikan serta terapkan protokol kesehatan. Kita juga harus menghindari aktivitas-aktivitas yang rentan menularkan virus COVID-19. Setahu saya, salah satu aktivitas yang sangat rentan menularkan virus COVID-19 adalah makan bersama secara prasmanan.

Saya awalnya beranggapan bahwa ini hanya bisa terjadi di restoran atau rumah makan. Nyatanya, saya tidak terpapar saat makan di restoran, tapi justru saat makan bareng di sebuah ruang rapat yang tertutup dengan salah seorang yang positif COVID-19. Karena, justru saat makan itulah kita membuka masker dalam waktu relatif lama. Apalagi makannya sambil ngobrol, sementara jarak dengan masing-masing orang tidak terlalu jauh.

Jadi, hati-hati dan waspada saat makan bareng. Tetap perhatikan dan terapkan protokol kesehatan. Jangan sampai, seperti kata pepatah jawa, “witing Corona jalaran soko kuliner”: Terpapar virus Corona karena kulineran alias makan-makan (tanpa mengindahkan protokol kesehatan).